Alkisah Seorang Anak

“Tuhan, aku penasaran. Siapakah yang memilih bayi mana akan lahir dari rahim siapa?”


Pada sebuah hari yang acak, adalah seorang Anak.

Usianya delapan dan isi kepalanya penuh rasa penasaran.

Si Anak memandangi panci besar di atas tungku. Dari permukaan yang beriak-riak itu, meruap aroma lezat memenuhi ruangan. Si Anak dan perutnya yang lapar sudah tak sabar. Entah mungkin perut yang lapar mampu menciptakan nyali yang besar, Si Anak memberanikan dirinya menggenggam irus baja yang bahkan lebih panjang daripada lengannya. Dengan susah payah, diupayakannya menyendok didihan kaldu. Berat, tapi terlihat nikmat. Sepertinya tidak apa-apa, begitu pikirnya.

Setengah jalan kuah kaldu yang pekat itu menuju bibirnya, suara Sang Ibu terdengar memanggil namanya. Nyalinya tiba-tiba menciut. Begitu pula otot-otot lengan yang sedari tadi dikencangkannya, seketika kisut. Irus baja itu lepas dari genggaman. Sialnya, setengah panci tergolak karena tersangkut, tersenggol, goyah, tumpah karena kepanikannya. Masakan Ibu hancur. Kabur, begitu pikirnya.

Suara Sang Ibu mendekat. Si Anak berlari menjauh. Keluar menuju hutan belakang rumah. Sekencangnya Ia berlari, mencoba mencari tempat bersembunyi, sambil sesekali melihat ke belakang. Dari balik kisi-kisi jendela dapur, Si Anak sekilas melihatnya: tatap mata itu, tatap tajam Ibu sedang menusuk jantungnya saat ini. Si Anak takut sekali dimarahi. Lari, lari, lari, begitu pikirnya.

Kaki-kaki kecil itu melangkah tidak tentu arah. Tanpa disadarinya, seonggok batu kecil menghadang, Si Anak terantuk dan terjatuh tepat di lututnya. Gores-goresan di kulitnya perlahan berubah menjadi putih pucat. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya darah segar merembes dari balik jaringan sobek itu. Sungguh malang, Si Anak yang belum pernah merasakan luka yang seperti itu, kini merinding ketakutan dan mulai menangis.

Sang Ibu datang dengan tenang. Menghampirinya tanpa kata, hanya dengan tatap mata tajam itu. Si Anak memberanikan diri melihat wajah Sang Ibu. Aneh sekali, tatap mata tajam yang tadinya dirasa menghunus, kini serasa menyejukkan hati. Setengah takut dimarahi, setengah lagi tenang karena kehadiran Sang Ibu. Lidahnya kelu, hanya satu kata yang keluar dari mulut Si Anak. Pelan, hampir tak terdengar, “Mah.”

“Biar Mamah basuh, nanti juga sembuh. Sekarang ayo makan. Pulanglah, Nak,” damai sekali hati Si Anak mendengarnya.

Sang Ibu menuntun Si Anak yang masih terisak tapi gengsi. Sesampainya di rumah, Sang Ibu membasuh luka dengan kasih sayangnya. Si Anak makan dengan lahapnya. Perih luka itu seperti berlalu dari pikirannya. Masakan Ibu memang tidak pernah mengecewakan, “Ah, hidupku indah sekali karena Mamah,” begitu pikirnya.

Pada suapan terakhir Si Anak, Sang Ibu bicara, “Ingat ya. Tidak perlu lari. Tidak perlu sembunyi. Ingat itu,” yang dijawab dengan anggukan Si Anak. Nasihat Sang Ibu akan teguh dan membeku di hatinya, begitu pikirnya.

Waktu terus bergulir. Hidup terus mengalir. Dan, beberapa ingatan manusia ternyata mudah luntur dan mencair.


Pada sebuah hari lain yang juga acak, Si Anak telah jadi pemuda yang tegap dan tampan.

Isi kepalanya masih penuh rasa penasaran, meskipun kini ditambah dengan berbagai pemberontakan.

Banyak hal berubah sejak Si Anak dan Sang Ibu semakin sering terlibat dalam satu demi satu perselisihan. Dan, tibalah malam itu, salah satu malam paling gulita. Adu mulut antara Si Anak dengan Sang Ibu begitu sengit. Makan malam yang disajikan Sang Ibu untuk Si Anak belum disentuh sama sekali, mendingin seraya jadi saksi pertengkaran keduanya.

Perkara pilihan hidup. Si Anak merasa berhak untuk menjelajah berbagai pilihan, tanpa menyadari bahwa Sang Ibu memberi arah atas dasar pengalaman. Jangankan teguh dan membeku di hati, nasihat-nasihat Sang Ibu kini tidak lagi terserap ke dalam pikiran Si Anak. Kebebasan, hanya itu yang diinginkannya.

Sang Ibu, yang telah ditempa oleh kerasnya kehidupan, sudah tau bahwa sekeras-kerasnya seonggok batu, tetesan air yang lembut pada akhirnya akan mampu melunakkannya. Maka, malam itu Sang Ibu berusaha sebisanya mempertahankan kelembutan ketika menghadapi Si Anak. Sebaliknya, kata-kata serampangan keluar dari mulut Si Anak. Asumsi menggila. Tajam, diikuti luka-luka dalam hati Sang Ibu. Menyakitkan. Sementara, Sang Ibu terus sabar. Si Anak, yang sedang berapi-api, justru semakin terbakar dengan sikap Sang Ibu, yang seakan tidak menganggap penting segala perlawanan yang dilakukannya.

Pada momen darahnya mencapai titik didih, Si Anak melayangkan tinju sekuat tenaga. Saklar lampu ruang makan yang tidak berdaya itu jadi sasaran kemudian merangsek ke dalam tembok. Seketika ruang makan gelap gulita. Sang Anak pergi, keluar dari rumah yang telah memelihara dan menumbuhkannya dengan urapan kasih sayang Sang Ibu. Akhirnya, kebebasan ada dalam genggaman, begitu pikirnya.

Di dalam gulita, Sang Ibu hanya diam tanpa suara. Dilepaskannya Si Anak pergi dengan segala api yang berkobar di dalam hatinya. Mungkin ini hanyalah masa kehidupan yang serupa terulang kembali meski keadaanya tak sama, di mana Si Anak berlari ke hutan, mencari persembunyian; di mana kemudian di tengah langkahnya, ia akan terjatuh dan memutuskan pulang. Mungkin inilah daur hidup yang mesti berputar, begitu pikir Sang Ibu.

Waktu terus bergulir. Hidup terus mengalir. Que sera sera, begitu kata pepatah lama.


Pada hari lain yang tentunya juga acak, Si Anak telah beranjak dewasa.

Entah sudah berapa tahun sejak Si Anak pergi dari rumah. Tidak pernah berhenti penasaran, namun kali ini kepalanya lebih banyak diisi dengan kebingungan.

Tahun-tahun kebebasan telah diraihnya. Api besar yang berkobar itu pun terus menemaninya. Telah semakin banyak kisah kehidupan tercipta di sepanjang langkah-langkahnya. Si Anak sudah mulai mengenal cinta dan membangun mimpi-mimpinya. Siang dan malam seperti tak ada batas, menemukan cinta membuatnya serasa menari-nari sampai tua.

Tak cuma cinta, tetapi juga cita-cita. Ternyata dunia seluas itu, memancar dalam rupa pemandangan yang indah-indah di sepanjang langkah-langkahnya. Sepasti langit yang luas, sedalam samudera paling misterius, dan selapang cakrawala semesta, begitu juga cita-cita terkembang di dalam hatinya. Si Anak berlari, berlari, berlari, berupaya mengejar hingga ke ujung-ujungnya.

Yang tidak pernah disangkanya adalah bencana-bencana datang di luar rencana. Kadangkala cinta tak segemas dan seromantis di film-film. Begitu pula dalam dunia yang luas ini, tidak cuma terkandung yang indah-indah saja, cita-cita bisa jadi sia-sia. Belantara kehidupan ternyata bisa sedemikian penuh dengan tipu muslihat anjing-anjing liar yang menyamarkan pilihan-pilihan kelam agar terlihat seperti kenikmatan yang benderang. Inikah harga dari kebebasan? Kebingungan mulai menggerogoti hatinya. Tangannya, oh, telah kotor.

Ketika Si Anak berada pada masa tergelapnya, kenangan-kenangan berhamburan. Kuah kaldu yang pekat dan harum itu. Irus baja yang panjang dan berat. Hutan belakang rumah. Batu yang membuatnya terantuk. Darah yang merembes di lututnya. Dan, sebuah suara pelan di hatinya, yang hampir tak terdengar, seperti dulu pernah keluar dari mulutnya, “Mah.”

Si Anak menangis. Berdoa di hadapan Tuhan-nya. Tumpah ruah segala rupa dari kepalanya: “Tuhan, aku penasaran. Siapakah yang memilih bayi yang mana akan lahir dari rahim siapa? Kalau saja Ibuku bisa memilih, kurasa wajar apabila dia tidak mau aku jadi anaknya.”

Di bawah atap langit yang sungguh terik, Si Anak menghapus air matanya, “Masa mudaku penuh luka, Mah. Tanganku melakukan banyak kesalahan. Aku jauh dari membanggakan.”

Pada masa yang sama, di tempat yang jauh, ternyata seorang Ibu pun sedang menangis. Berdoa di hadapan Tuhan-nya. Doanya sungguh sederhana: “Biarkan Tuhan memegang tanganmu. Pulanglah, Nak.”

Waktu terus bergulir. Hidup terus mengalir. Menakjubkan bagaimana ingatan manusia bisa kembali muncul ke permukaan pada saat-saat yang tak terduga.


Lagi-lagi pada hari yang acak, Si Anak mulai mencari-cari makna dari menjadi manusia.

Rasa penasaran kini mengarahkan pemahamannya, bahwa sepertinya menjadi dewasa ternyata bukan perkara kebebasan, bukan lagi soal api yang berkobar-kobar.

Cinta dan cita-cita, entah sudah berapa lama ditinggalkannya. Kini, Si Anak tidak punya apa-apa selain kesendirian. Sama seperti kaki-kaki kecil yang dulu pernah melangkah tidak tentu arah, Si Anak berlari-lari mencari tempat bersembunyi. Namun, kali ini, ia bukanlah dikejar oleh ketakutan dan tatap mata tajam seorang Ibu yang seakan menusuk jantungnya, melainkan dikejar oleh sesosok hantu: keraguan.

Apakah ia masih berharga? Apakah ia masih punya nilai? Apa gunanya di dunia? Begitu pikirnya.

Ya, Si Anak dihantui keraguan, walau pernah merasa benar dalam menentukan berbagai pilihan. Kini, rasa bersalah menggerogoti hatinya. Ia terlarut dalam pikiran. Tanpa keyakinan. Sepertinya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan. Hatinya penuh kabut dan carut-marut. Pundaknya tidak lagi kuat menahan beban-beban yang tak kasat mata. Sementara itu, pelariannya, tak tau ujungnya ke mana. Apakah hanya menuju kehampaan, begitu pikirnya.

Tidak ada lagi nyala api. Kebebasan tidak lagi penting. Langkahnya, oh, telah gontai.

Si Anak kembali berada pada masa tergelapnya, kenangan-kenangan berhamburan. Masakan Sang Ibu yang teronggok dingin di atas meja makan malam itu. Pertengkaran sengit. Luapan amarah. Cengkeraman tinju. Dan, saklar yang merangsek ke dalam tembok.

Si Anak kembali menangis. Berdoa di hadapan Tuhan-nya. Tumpah ruah segala rupa dari kepalanya: “Tuhan, aku malu. Segala perlawanan yang kuhantamkan pada nasihat-nasihat Ibuku nyatanya sia-sia.”

Di bawah atap langit yang sungguh terik, Si Anak menghapus air matanya, “Masa mudaku penuh luka, Mah. Dan, pundakku penuh memar tertimpa segala beban. Hatiku apalagi, bentuknya sudah tak karuan.”

Pada masa yang sama, di tempat yang jauh, ternyata seorang Ibu pun sedang menangis. Berdoa di hadapan Tuhan-nya. Doanya sungguh sederhana: “Biarkan Tuhan mengangkat bebanmu. Pulanglah, Nak.”

Waktu terus bergulir. Hidup terus mengalir. Kadang kita bisa dibuat kagum dengan bagaimana cara Semesta menjawab doa-doa.


Pada hari yang acak yang telah ditentukan Semesta, Si Anak terdiam.

Ia tenggelam di dalam gaung kepedihan, terendam di dalam gaung kesedihan. Raganya seperti telah kehilangan nyawa. Bersandar pada siapa. Menangis lupa caranya. Semua ini untuk apa. Lelah demikian jelas terasa. Bertahun terus terluka. Kuatku ada batasnya, begitu pikirnya.

Dengan segala sisa daya yang dimilikinya, Si Anak mencoba kembali melangkah. Si Anak memutuskan hanya ada satu jalan untuk meneruskan daur hidupnya: pulang.

Rumah tua yang bijaksana itu masih tegak berdiri di sana. Di dalamnya tidak lagi ada aroma kuah kaldu, hanya tinggal aroma kenangan yang menguar ke segala arah. Saklar yang merangsek ke dalam tembok itu ternyata tidak pernah diperbaiki. Bukan lagi hidangan makan malam yang mendingin yang terhampar di meja, kini hanya setumpuk barang-barang bekas yang telah berdebu. Di antaranya tergolek lemas irus baja kuno yang tidak lagi menjalankan tugasnya. Dapur telah sepi. Tungku-tungku sepertinya telah lama padam.

Hutan itu masih sama, terlihat dari balik jendela. Namun, tidak ada lagi anak kecil yang berlari ketakutan mencari persembunyian. Dan, tidak ada lagi tatap tajam seorang Ibu yang dulu pernah menyejukkan hati.

“Mah, … kini aku sudah di rumah. Namun, engkau telah lebih dulu pulang.”

Si Anak kembali menangis. Berdoa di hadapan Tuhan-nya. Tumpah ruah segala rupa dari kepalanya: “Masa mudaku penuh luka. Namun, sungguh ajaib kurasa. Selalu saja ada yang memegang tanganku. Yang mengangkat bebanku. Sepertinya Dia juga yang menuntun langkahku kembali ke sini, kepadamu. Pulanglah, Mah, pulanglah dengan tenang.”

Atap langit begitu syahdu pada hari itu. Mendung menggelantung, sunyi mengepung, gerimis menuangkan rasa kabung. Si Anak menghapus air matanya ketika terdengar sebuah guntur yang lembut, seakan berkata kepadanya,

“Tidak perlu lari. Tidak perlu sembunyi.”


Awalnya, ingin kutuliskan Surat Penggemar untuk album ini, salah satu album yang dikerjakan Iponk, yang diam-diam sangat kunikmati sejak proses pembuatannya.

Namun, perasaanku terlalu campur aduk untuk menuliskannya dalam bentuk surat. Maka, kutuangkan langsung kata perkata tanpa tau ujungnya ini akan jadi seperti apa. Dan, beginilah jadinya.

Terima kasihku kepada Kang Donne atas sebuah album yang melahirkan banyak perenungan.


Agustin Oendari adalah seorang penulis lagu dan penyanyi yang mengawali karier pada 2014 dengan menulis dan menyanyikan lagu Selamat Pagi Malam untuk film berjudul sama karya sutradara Lucky Kuswandi. Lagu tersebutlah yang pertama kali mempertemukan Oendari dengan pendengar setia yang terus mendukungnya hingga melalui beberapa rilisan untuk film-film lain, seperti Galih & Ratna, satu lagi karya sutradara Lucky Kuswandi, dan Susah Sinyal, karya sutradara Ernest Prakasa.

Rilisan-rilisan Oendari yang lain pun telah mendapat perhatian khusus dari berbagai streaming platform dan media, antara lain: LHSW yang sempat menjadi bagian dari banner utama aplikasi JOOX pada masa rilisnya dan juga disiarkan di berbagai media musik ternama, seperti Billboard Indonesia dan Pophariini; Bend Down dan Selamat Pagi Malam yang berada di deretan nominasi AMI Awards ke-22; dan beberapa lagu dalam album soundtrack Galih & Ratna yang mendapatkan kesempatan spesial JOOX Concert Galih & Ratna tahun 2017, seperti Hampir Sempurna, yang ditampilkan oleh Rendy Pandugo, Song Of Goodbye, yang ditampilkan oleh Ivan Gojaya yang juga adalah produser dari hampir seluruh karya Oendari, dan lagu-lagu lain yang ditampilkan oleh Oendari, seperti Nyatanya Sementara, Dari Rindu Kepada Rindu.

Selain terlibat dalam berbagai karya kolaboratif sebagai penyanyi atau penulis lagu, Oendari juga sempat berkiprah sebagai vocal director, bekerja bersama musisi dan produser ternama, antara lain Titiek Puspa, Dutacinta, Momo Geisha, Sheryl Sheinafia, dan Steve Lillywhite. Keterlibatan Oendari sebagai vocal director juga terdapat pada lagu Lathi (Weird Genius ft. Sara Fajira), Dunia (Mytha Lestari), A Million Stars (Album Kolaborasi Rising Stars), dan masih banyak lagi. Tahun 2021, Oendari dengan merilis album dari keterlibatannya di dalam sebuah film berjudul Akhirat: A Love Story.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Sebuah Bulan April Yang Bersejarah

Bulan April 2022 adalah bulan yang bersejarah buat gue. Ada banyak kejadian penting, yang semoga saja gue inget sampai gue tua nanti. Empat di antaranya adalah ini.

I. Gokil, Gue Dilamar.

Sebut saja Saddam, salah satu teman kuliah gue yang paling pandai, super-logis, penuh perhitungan. Ah, gue sering membayangkan Saddam sebagai jurnal ilmiah berjalan. Gak pernah tuh ngomongin perasaan, kehidupan, percintaan dan tetek-bengeknya. Obrolan seru sama Saddam biasanya mengenai riset untuk berbagai bisnis yang dirintisnya. Namun, hari itu, lain cerita.

Pada satu sore yang random di Alam Sutera, gue dan Saddam sedang menantikan menu yang kami pesan. Kami kelaparan, belum makan siang. Mana matahari lagi lumayan biadab teriknya. Untuk mengalihkan perasaan gak nyaman, Saddam membuka obrolan. Betapa kaget gue, ketika hal pertama yang ditanyakan Saddam bukanlah pendapat gue mengenai pertumbuhan bisnisnya dia, melainkan: gimana perasaan gue setelah dua bulan jadi jomblo pasca empat tahun pacaran.

Ini kejadian beberapa tahun lalu. Pada masa itu, Saddam sedang merencanakan pernikahan. Begitu pula, teman-teman sebaya kami. Mereka semua lagi seru-serunya mencanangkan tanggal dan tempat nikahan, sementara gue … Huft, baru putus. Yang belum diketahui Saddam pada saat itu adalah gue gak cuma baru putus, tapi juga baru aja dipertemukan oleh seorang pria baru yang, menurut ukuran logika gue, sama sekali enggak ideal. Duh, pesanan kami enggak nongol-nongol. Ya udah, gue lanjut cerita. Saddam menyimak.

Dulu, seperti kebanyakan bocah perempuan lain di sekolah, gue sempat punya cita-cita menikah: umur dua lima, pakai gaun putih ekor panjang, bawa sebuket bunga, dan didandani dengan cantik sebelum akhirnya ketemu dengan lelaki di ujung altar yang kemudian bakal menyandang predikat suami. Namun, cita-cita itu ada jauh sebelum gue dua kali putus cinta di tengah ekspektasi untuk menikah, dan tentu jauh sebelum akhirnya Semesta mempertemukan gue dengan seorang lelaki yang sudah pernah menikah, sudah punya satu anak, dan tidak lagi percaya dengan pernikahan karena merasa pernah gagal.

Saddam kemudian bertanya, “Jadi, sekarang lo pacaran sama dia?” Pacar? Jadian aja gak pernah. Kejadian demi kejadian terjadi begitu aja. Di satu sisi, dengan segala fakta yang ada, hati gue bilang dia lelaki yang tepat. Ironisnya, pun dengan segala fakta yang ada, otak gue yang sederhana menyangkal dengan cepat. Pacar sekadar istilah paling mudah yang paling bisa menjelaskan dia itu sebenarnya apa, tapi kenyataan jauh lebih rumit daripada itu.

“Enggak tau. Yang jelas, gue udah gak berharap menikah. Now, I really think marriage is just not for me,” karena malas menjelaskan panjang lebar, hanya itu jawaban yang keluar dari mulut gue. Lagipula, pada saat itu, cita-cita gue waktu bocah tentang menikah umur dua lima memang udah samar banget, tinggal garis-garis tipis berbentuk hati yang sudah patah sana-sini.

Saddam terdiam lama sekali. Awkward, anjir. Saddam, jawablah. Apa kek. Beruntung, akhirnya pesanan kami keluar juga. Babang tukang iga ini entah obsesif soal timing apa pegimana, enggak ngerti. Namun, memang dasar bangkek. Sesaat sebelum suapan pertama, Saddam bilang sesuatu yang gue ingat sampai sekarang.

“I don’t know what’s best for you. Tapi, gue selalu pingin semua temen gue bahagia. Di doa gue, ya, ketemu dengan orang yang tepat, menikah, punya keluarga. Including you. Of course. You’re not easily forgotten.”

Buset. Santai banget doi ngomong. Gantian, gue yang terdiam. Lama banget, sampai akhirnya kita gak pernah ngobrolin itu lagi. Matahari sore mulai kalem, Alam Sutera berangsur sejuk, tapi hati gue tetep panas gak karu-karuan.

Bertahun-tahun berlalu, dan, ah, Semesta memang suka bercanda. Now, I’m 32 going 33. And, getting married. Awal April lalu, gue dilamar Si Pacar. Wah, gokil, doa Saddam kayaknya jadi kenyataan.

II. 333 dan perihal keyakinan.

“Aku mulai yakin mau hidup sama kamu,” adalah satu kalimat dari Si Pacar yang bikin gue hampir keselek lalapan. Tumben-tumbenan, di tengah makan pecel lele tiba-tiba dia romantis. Nah, pas dia romantis, gue malah bingung, “Kok bisa? Selama ini kan kamu bilang kamu gak akan bener-bener yakin?”

Waktu itu, beberapa hari lalu, jam sudah lewat jauh dari tengah malam. Kami berdua baru kelar dengan kerjaan masing-masing. Namun, karena dilanda rasa lapar, kami memutuskan ya-udahlah-makan-dulu sebelum bubaran. Alhasil, pecel lele Bu Dewor jadi pilihan: selalu siaga, selalu enak, dan selalu terpercaya. (Lalapnya juga enggak pelit. Makasih, Bu Dewor!)

Kami sering ngobrol pas lagi makan, terkecuali kalau makanannya enak banget, kami otomatis gagu. Biasanya ini yang terjadi setiap kali menyantap masakan Bu Dewor. Namun, kali itu, beda. Gue lagi seru cabut-cabutin daun kemangi, sambil sesekali gue cemil-cemil kalau ada yang kelihatan segar mengilap, ketika tiba-tiba Si Pacar bilang sekalimat mengagetkan, “Aku mulai yakin mau hidup sama kamu.”

Mana pernah gue nyangka kalimat itu bakal keluar dari mulut Si Pacar. Bertahun-tahun saling kenal, gue sudah sangat paham bahwa merasa yakin tidak pernah lagi jadi bagian dari sifat Si Pacar. Tidak pernah lagi, terutama setelah dia pernah seyakin kalimat “till-death-do-us-part” pada satu waktu kemudian dengan berat hati memutuskan untuk bercerai beberapa tahun kemudian.

Apakah ketidakyakinannya pernah bikin gue sedih? Hmmm. Sedih dan berkecil hati sudah bukan jadi perasaan yang relevan lagi buat gue. Sepertinya, gue udah melewati itu, entah karena terbiasa atau sekadar berlapang hati setelah belajar memahami. Itu semakin make sense setelah Si Pacar pernah bilang, “Malah seharusnya kamu curiga kalau dari awal aku bilang aku yakin mau hidup sama kamu.” Betul juga. Siapalah kita, bisa 100% yakin?

Pas gue tanya kenapa dia sekarang mulai yakin, Si Pacar bilang itu perihal waktu. Satu perihal yang terdengar sederhana, tapi di dalamnya terkandung samudera penuh makna. Dalam hitungan milidetik, ingatan gue dibawa ke awal kedekatan kami yang penuh kecemasan dan kebingungan. Kala itu, Si Pacar pernah bilang, “Percaya aja sama waktu.” Ternyata, ini yang dia maksud?

Obrolan tentang keyakinan ini ditutup oleh Sang Pacar dengan, “Ente gak pernah ngerasain cerai sih.” Ya, tentu aja gak pernah dong, Malih. Ujung-ujungnya kami berdua ngakak. Yah, begitulah. Hubungan kami memang seringkali diwarnai dengan dark jokes dan dark ngakak.

Sambil menghabiskan pecel lele termantap se-Asia Tenggara, gue tenggelam di dalam pikiran gue sendiri. Meskipun ada rasa kaget di situ, gue diselimuti perasaan bahagia. Mendengar Si Pacar, yang selama delapan tahun belakangan belum pernah bilang kalau dia betul-betul yakin bahwa gue orang yang tepat buat dia, melontarkan kalimat sakti itu … Rasanya, setengah beban gue lepas. Ringan. Pecel lele Bu Dewor pun semacam berkali lipat lebih enak daripada biasanya. Lagi di tengah bengong karena kesenengan (atau kekenyangan?), tiba-tiba, Si Pacar bertanya, “Jam berapa sekarang?”

Always-on display di hp gue menunjukkan angka yang tidak dibuat-buat, “3:33,” lalu kami berdua tatap-tatapan dan sama-sama merinding. Beberapa detik kemudian, tanpa janjian dan tanpa bicara apa-apa, kami berdua sama-sama ketawa. Untuk yang pernah atau sering ngulik soal Angel Numbers, pasti paham kenapa.

Ternyata, begini rasanya punya pacar setengah dukun. Eh, tunggu. Pacar? Tunangan.

Oh. That was one of the best nights. Ever. And, I know I can’t thank the Universe enough for my life. The good and the bad. The joy and the pain. No words will be enough for that.

III. TEMAN BARU.

Gue punya teman baru. Sebut saja Firman. Kami ketemu pertama kali dalam satu acara menjelang akhir tahun lalu. Beberapa waktu setelah selesainya acara tersebut, kami mulai mengobrol. Berawal dari obrolan remeh-temeh macam kisah seorang Pak RT bernama Syamsul, berlanjut ke diskusi asik tentang musik, bertukar Katla, sampai bertukar cerita. Pertemanan ini menarik.

Ini orang lucu banget. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, gue sering merasa bahwa tanpa berniat ngelucu pun, Firman ini udah lucu banget. Entah udah berapa kali sepanjang beberapa bulan terakhir, gue sering ketawa sendiri pas baca kiriman Whatsapp dari Si Firman.

Selain lucu, Firman punya kebiasaan berpikir dengan cepat. Sebaliknya, gue cenderung lebih lambat. Tidak jarang, obrolan kami melesat dari satu topik ke topik lainnya dengan sangat ringan. Tidak jarang pula, setelah obrolan-obrolan selesai, tinggallah gue berpikir sendirian dan ujung-ujungnya, “ya juga ya,” atau, “kenapa ya?” atau pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Perbedaan di antara gue dan Firman gak cuma itu. Banyak. Kami beda latar belakang, beda pola pikir, beda cara pandang terhadap banyak hal. Serasa hidup kami adalah dua polaritas yang berseberangan. Namun, itu yang bikin pertemanan ini jadi menarik buat gue. Belum lagi, usia Firman yang beberapa tahun lebih tua dengan koleksi pengalaman yang lebih banyak, petualangan hidupnya dari satu kota ke kota lain, plus pertemuannya dengan berbagai jenis manusia, berbagai jenis tragedi, berbagai jenis kebahagiaan … Wah, gue kayak menang banyak ketemu satu orang macam Firman karena gue jadi belajar banyak hal dalam waktu yang terbilang singkat.

Kehadiran Firman di dalam kehidupan gue kayaknya memang pas timingnya. Pasalnya, Firman, yang sudah menikah kurang lebih selama dua tahun dan sekarang sudah punya keluarga kecil yang manis, hampir pasti punya ingatan yang masih segar tentang bagaimana rasanya ketika mempersiapkan pernikahan – sesuatu yang sedang gue alami saat ini. Pada suatu malam yang (lagi-lagi) random, gak lama sebelum lamaran, gue bertanya apakah wajar kalau merasa cemas atau takut menjelang nikah. Gue pikir, jawabannya akan simpel, berupa wejangan atau tips en trik. Gak terduga, Firman melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya sederhana, tapi bikin gue berpikir keras.

Kayaknya Si Firman sadar kalau gue balelol ngejawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Ya, gimana gak balelol. Gue sudah lama berpikir untuk tidak menikah karena, ah, terlalu banyak yang terjadi selama bertahun-tahun yang bikin gue berpikir demikian. Namun, situasi berubah ketika akhir tahun lalu kami dapet restu dari orang tua masing-masing dan anak kesayangannya Si Pacar. Gak pake lama, arah hidup kebolak-balik dengan cepat. Gue kewalahan.

Nah, mungkin karena Si Firman sadar gue balelol, akhirnya Beliau mencoba menjelaskan dengan bercerita. Durasi ceritanya mah lumayan singkat, tapi isi ceritanya, wah, gawat. Ada perasaan terenyuh yang tersisa cukup panjang setelah dengar cerita Firman. Malam itu, gue jadi sadar bahwa mungkin Firman bisa jadi seperti Firman yang gue hormati sekarang karena udah ngalamin pendewasaan secara bertubi-tubi setelah serentetan persoalan pelik yang dialaminya.

Firman ini tuh orang apa malekat, hatinya lapang amat. Gue tau, banyak yang bilang bahwa Firman “rahangnya enteng” alias banyak omong doang. Alasan mereka: hidup gak semudah omongan belaka. Lah, emang! Kalau aja mereka tau cerita yang baru aja gue simak soal hidupnya Firman … Sekali-sekali, tanyalah Firman perihal melunturkan ego, perihal menata ulang hidup, dan banyak hal lainnya. Mungkin memang rahangnya enteng, tapi coba timbang pengalaman hidupnya.

Well, karena obrolannya semakin personal dan melahirkan semakin banyak pertanyaan, gue yang balelol ini akhirnya juga menjawab dengan bercerita. Entah energi apa yang mendorong gue pada saat itu, yang jelas gue tergerak untuk menceritakan kecemasan terbesar yang selama bertahun-tahun gue pendam sendiri dan menahan gue untuk melakukan ini-itu yang seharusnya bisa jadi kebahagiaan. Di seantero jagat raya, Firman adalah orang kedua yang gue ceritakan tentang hal ini.

Kelar cerita, gue nangis sejadi-jadinya. Bukan karena sedih, melainkan lega. Namun, insekyur turut melanda dan marahlah gue pada diri sendiri: “Agustin Oendari, kamu nyodorin piring kotor ke orang lain.” Lagi-lagi, entahlah Firman ini tuh orang apa malekat. Firman menenangkan dan meyakinkan gue bahwa enggak apa-apa cerita, harapannya: beban bisa berkurang. Firman pun berbelasungkawa ketika tau bahwa gue pernah kehilangan. Gak cuma itu, Firman sempat berpesan – nah, ini satu pesan yang gue rasa perlu gue ingat selalu:

“Kamu juga berhak untuk jalan terus. Bukan berhenti. Mencoba kembali, dengan seseorang yang sayang sama kamu, itu hak. Berbahagia, itu hak. Sebagaimana bersedih. Kan?”

Itu pesan sampe gue kasih bintang di Whatsapp. Buat Firman, mungkin itu pesan Whatsapp biasa. Buat gue, yang notabene sedang super-anxious, efeknya beda. Pesan dari Firman malam itu semacam satu pertanda Semesta: sudah cukup tujuh tahun patah hati dan sibuk mengobati; sudah, gakpapa, jalan terus aja. Pertanda yang mengantarkan gue mengarungi bulan April yang ternyata menyimpan banyak sekali kejutan.

Ah, kalau saja gue punya cara yang tepat untuk membalas kebaikan dan peran Firman yang hadir tepat saat gue butuh. Belakangan ini, gue sudah jarang bertukar kabar dengan Firman. Kelihatannya, Beliau sibuk. Jadi, yang bisa gue lakukan cuma menyampaikan doa dan permohonan baik kepada Semesta: semoga Firman selalu dijaga.

Oh. Firman tau takdirnya dari dulu adalah jadi seorang ayah, “Pengin banget jadi bapak yang benar.” Maka, itu pula yang jadi doa gue. Semoga Semesta memberikan usia yang cukup panjang, tenaga yang cukup banyak, dan kebijaksanaan seluas samudera bagi Firman untuk mewujudkan cita-citanya yang manis dan mulia.

IV. Lailatul Qadar Yang Penuh Kemurahan.

Wah, soal Lailatul Qadar ini kayaknya bakal panjang. Sayang sekali, entah karena lagi PMS atau energi gue habis setelah Sesi Roemahan, pinggang gue mulai pegal dan migrain gue makin parah. Oh! Untuk pertama kalinya setelah dua tahun vakum, semalam ROEMAHIPONK ngadain Sesi Roemahan lagi. Bahagia dan capeknya pol. Jadi, ya gitu. Gue terusin ini nanti ya. Bhai.

Ada baiknya bagian keempat ini ditulis di kisah yang terpisah dikarenakan … terlalu banyak yang aneh-aneh. Saking aneh-aneh, sampai sekarang gue masih belum memutuskan: mana yang bisa gue bagikan, mana yang enggak. Yodahlah. Lihat nanti. Lihat pertanda.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Melihat Api Bekerja


Aku telah melihat api bekerja dan Aku mengaguminya.

Sungguh anggun, Ia bergerak membakar semua yang dilaluinya.

Menciptakan hangat yang tidak dibuat-buat.

Semua mata tertuju padanya, begitu pula Aku memandangnya.

Dia menyambar dengan gagah.

Dan, Aku kehilangan daya.


Psst … Suaranya.

Diam dan dengarlah.

Bayangkan kebanggaan, pertunjukannya sungguh akbar.

Bayangkan kepuasan, ada bara meletup di ujung kebesarannya.

Bayangkan kesedihan, semua dihancurkannya jadi abu.

Dia menyambar dengan gagah.

Dan, Aku kehilangan daya.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Kalau Yesus Tinggal Di Loteng Kamarku

Kadang, aku berpikir: bagaimana seandainya Yesus tinggal di loteng kamarku. Dia duduk di bawah genteng tua itu. Aku mendengarkan ketika dia sedang cerita. Kadang dia ngelucu, terus aku ketawa malu-malu. Kadang aku ngakak, ya gara-gara dia juga. Tapi, ada masanya, dia kedengeran sedih, seakan pernah ngerasain juga yang namanya kecewa.

Kadang, aku berpikir: bagaimana seandainya Yesus tinggal di loteng kamarku. Dengan sabar, Dia tinggal di sudut yang sumpek itu. Aku mendengarkan ketika dia sedang cerita dan dia mendengarkan ketika aku nangis. Dia melihat aku ketika aku inget berdoa dan melihat juga ketika aku lupa. Dia tau setiap kali aku sedang bingung dan mencari-cari. Dan, ikut seneng ketika aku menemukan kembali semua yang kupercaya, semua yang kuyakini: tujuan, kasih sayang, dan cita-cita.

Kadang, aku berpikir: kalau saja, seandainya Yesus tinggal di loteng kamarku. Peluhnya mengalir dan dibiarkannya. Aku mendengarkan ketika dia sedang cerita. Dia mengingatkan saat aku lalai meminta maaf setiap kali aku yang salah. Dia menguraikan tentang mengampuni setiap kali aku mesti memaafkan. Dia menjelaskan panjang lebar mengenai waktu, mengenai masa lalu, mengenai masa depan, dan apa artinya berlapang dada.

Kayaknya, aku bakal ngerasa jadi orang yang paling beruntung sedunia kalau saja, seandainya Yesus tinggal di loteng kamarku.


Photo by Sami Aksu on Pexels.com
Photo by Sami Aksu on Pexels.com

Ditulis oleh seorang berdosa, yang di KTP-nya tertulis agama: Kristen, tapi baru kenalan sama yang namanya Yesus … yaaa, baru belakangan ini lah.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

We Never Really Die

Bila aku mati, aku mungkin saja tidak pergi ke surga. Atau tidak juga ke neraka. Aku mungkin hanya tidur, tidur yang sangat panjang, sangat lama. Dan, bila aku bangun, mungkin aku telah menjadi bentuk yang berbeda.

Aku mungkin jadi mimpi. Mimpimu, yang terkenang-kenang, melayang di dalam tidurmu. Aku mungkin jadi cucuran air keran yang jatuh di tanganmu ketika kau bangun pagi dan menggosok gigi. Cucuran air yang leleh, yang mengingatkanmu tentang kita ketika berbagi hujan bersama. Kita juga berbagi terik bersama, dan di situ juga mungkin aku ada. Aku mungkin jadi bias-bias matahari yang menembus jendela kamarmu melalui sela-sela batang perdu.

Aku mungkin tidak pergi ke surga ataupun neraka, nanti ketika aku mati. Namun, aku bisa jadi apa saja dan tetap mencintai kamu dan semua ingatan tentang kamu.


Kehilangan adalah keniscayaan bila kau sedemikian lama memelihara rasa sayang. Namun, kenangan akan menghangatkan hatimu, saat jarak terlanjur menghangatkan pelupuk matamu.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Alkisah Seorang Nenek

Pada suatu ketika, adalah seorang Nenek tua menjalani hari-hari terakhirnya di bumi. Ketika Si Nenek ditanya oleh Sang Waktu, “Nek, Nenek mau ngapain dulu? Jalan-jalan terakhir, ke mana gitu sebelum kita lanjut nih, Nek?” Si Nenek berpikir keras di dalam hatinya, “Iya juga, sebelum lanjut nih perjalanan. Apa ya yang harus disiapin?”


Di sebuah kota berbeda, seorang Ayah sedang kelimpungan mencari Anak Perempuannya yang masih kecil. Si Anak Perempuan hilang waktu mereka pergi ke pasar pagi itu. Si Ayah sedihnya sedih banget. Sudah dicari ke sana kemari, Si Anak Perempuan gak ketemu-ketemu juga.

Tanpa Si Ayah ketahui, Anak Perempuan sedang berjalan-jalan di taman bermain tidak jauh dari pasar. Rupanya, Anak Perempuan ketemu dengan seorang Anak Lelaki sebayanya, yang membawa sepaket kelereng kecil warna-warni yang sungguh menarik hati. Anak Lelaki baik hati itu mengajak Anak Perempuan bermain kelereng di tempat favoritnya di taman bermain. Di taman itu, Anak Perempuan dan Anak Lelaki bertemu dengan anak-anak seusia mereka lalu mereka bergembira bersama.


“Tu.” Nenek memanggil Sang Waktu. “Nenek mau jalan-jalan ngunjungin ketiga cucu Nenek, boleh gak?” Sang Waktu menjawab, “Boleh, Nek. Tapi Nenek kan udah tua nih, cucu-cucu Nenek di luar kota semua. Waktunya gak cukup, Nek.” Mereka berdua berdiskusi panjang, lalu tiba-tiba Sang Waktu punya ide “Oke, Nek. Gimana kalau Nenek dianterin sama aku? Tubuh Nenek di sini aja, kasian, udah tua kan. Hati sama pikiran Nenek aja yang ikut.” Wah, brilian tuh, si Nenek akhirnya setuju. Lalu dimulailah petualangan Nenek dan Waktu.

Cucu Nenek ada tiga. Yang jarak tempuhnya paling dekat, ya Cucu Kedua, yang jaraknya cuma sepelempar batu dari dimensi di mana Nenek dan Sang Waktu berada pada saat itu. “Nek, kita ke Cucu Kedua dulu aja ya.”

Ketika Nenek sampai di sana, Cucu Kedua sedang bermain masak-masakan. Cucu Kedua bermain seru sekali dengan seperangkat dapur mini berwarna-warni dan piring-piring yang terisi. Ada buah, sayur-mayur, nasi hangat, lauk-pauk. “Adek, ayo makan.” Oh, di situ ada boneka kecil, manis, dan lucu, duduk menghadap meja makan mainan yang sudah tertata rapi. Cucu Kedua menyuapkan sendok imajinasi ke bonekanya. “Wah, makannya pinter ya,” Cucu Kedua menirukan suara kedua orangtuanya.

Nenek dan Sang Waktu mengamati sambil senyum-senyum sendiri. Nenek ingin membelai rambut Cucu Keduanya, tapi lupa, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Kedua, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Kedua. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah itu, Nenek dan Sang Waktu melanjutkan petualangan mereka. “Nek, abis ini kita ke Cucu Ketiga dulu ya.”

Perjalanan memakan waktu yang sedikit lebih lama, karena jaraknya lebih jauh. Tapi, akhirnya mereka sampai juga pada sebuah malam. Cucu Ketiga sedang dikelilingi oleh buku-buku dan miniatur pesawat ruang angkasa. Dengan piyama yang terlihat seperti pakaian astronot, Cucu Ketiga menggapai mimpi-mimpinya terbang ke angkasa dan menikmati pemandangan bumi yang indah dari sana. Cucu Ketiga bercengkerama dengan bintang-bintang dan calon-calon meteor siap luncur, yang memancar dari proyeksi lampu tidurnya ala-ala lampu tidur di Tumb*r atau Tokoped*a.

Nenek dan Sang Waktu mengamati sambil senyum-senyum sendiri. Nenek ingin membelai rambut Cucu Ketiganya, tapi lupa lagi, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Ketiga, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Kedua. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah itu, Nenek dan Sang Waktu melanjutkan petualangan mereka. “Nek, abis ini kita lanjut ke Cucu Pertama. Terakhir nih, Nek.”

Di tengah perjalanan menuju ke Cucu Pertama, Sang Waktu mendengar ada suara. Ternyata itu adalah suara seseorang sedang berdoa kencang sekali. “Nek, Nenek denger gak?” Si Nenek celingak-celinguk. “Iya. Siapa ya itu? Doanya kenceng amat.” Mereka menghentikan perjalanan sebentar untuk mendengarkan lebih lanjut. Oh, ternyata itu adalah suara seorang Ayah yang sedang berdoa, hampir putus asa, memohon-mohon supaya Anak Perempuannya yang hilang di pasar segera ditemukan. “Wah, siapa tuh, Tu?” Nenek bertanya kepada Sang Waktu, tapi Sang Waktu diam saja. “Ya sudahlah, Nek, kita lanjut aja dulu.” Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan.

Ketika Nenek sampai, Cucu Pertama sedang mengukur jarak dari kelereng yang satu ke kelereng yang lain sebelum mengarahkannya menuju ke lubang dua meter dari hadapannya. Dengan cermat dan hati-hati, Cucu Pertama menyentil satu persatu kelereng-kelereng itu sampai akhirnya berhasil mendapatkan kelereng incaran milik lawan: sebutir kelereng indah berwarna seperti pelangi sore hari. Nenek dan Sang Waktu mengamati sampai deg-degan sendiri. Namun, ketika Cucu Pertama mendapatkan apa yang diinginkannya, Nenek dan Sang Waktu bahagianya bukan main.

Lagi-lagi, Nenek ingin membelai cucu kesayangannya. Lagi-lagi, Nenek lupa lagi, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Pertama, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Pertama. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah semua doa indah selesai, hati Nenek tenang. Namun, tiba-tiba, Sang Waktu bilang, “Nek, lihat, ada Anak Perempuan.” Tidak jauh dari mereka, ada seorang Anak Perempuan sedang menangis di sebelah Cucu Pertama yang kebingungan dan berusaha menenangkan.


Di sebuah taman bermain sederhana di dekat pasar, seorang Anak Perempuan baru sadar kalau dia gak bisa menemukan Ayahnya. Perasaan cemas, sedih, sokberani-tapi-takut menghantui pikirannya. Seorang Anak Lelaki yang baru selesai bermain gundu mendekati dan berusaha menenangkannya. Anak Lelaki itu baru dikenalnya di pasar. Dia berkata, “Udah, udahh, jangan nangis. Ayah kamu pasti bakal cari kamu kok. Aku temenin kamu ya, sampai Ayah kamu dateng.”

Tanpa diketahui oleh seorangpun, dua sosok mengamati kejadian yang dialami dua anak kecil itu dari kejauhan. Mereka adalah Nenek dan Sang Waktu. Ternyata Si Anak Lelaki adalah Cucu Pertama dari Si Nenek.


“Tu.” Si Nenek berkata pada Sang Waktu, “Kita harus bilang ke Si Ayah yang sedang berdoa tadi, bahwa Anak Perempuannya ada di sini, ditemenin sama Cucu Pertama. Yuk, terakhir, sebelum Nenek pulang nih.” Sang Waktu, tanpa perlu menjawab, mengantar Nenek kepada Si Ayah yang masih terus berdoa, mengirimkan sebuah bisikan doa, “Si Anak Perempuan sedang di taman bermain, ditemani Cucu Pertama saya, menunggu kamu untuk datang dan menemukannya. Ayo, cepat ke sana.”


Di kota itu, pada hari itu, seorang Ayah mencari-cari Anak Perempuannya yang baru saja hilang di pasar. Dicari-cari dari pagi sampai menjelang sore, belum ketemu-ketemu juga. Berjalan kaki ke sana-kemari, lelah, lalu berhenti. Hampir putus asa, di sebuah jalan yang sepi dan gelap, Si Ayah berdoa kencang-kencang berharap Semesta mendengar.

Tidak lama setelahnya, seperti baru dibisiki sesuatu, Si Ayah berjalan ke arah sebuah taman bermain. Betapa tenang hatinya, di taman bermain sederhana itu, Si Ayah bertemu kembali dengan Anak Perempuan yang disayanginya, di sebelah seorang Anak Lelaki yang dengan sabar menemani. Dalam hati, Si Ayah berkata, “Duh, untung ketemu, untung sehat walafiat, untung aman. Kalo enggak, gue pasti dimarahin sama bini gue.”


Sang Waktu mengantarkan Nenek kembali ke rumah dan ke tubuhnya. “Nek, mau ke mana lagi? Tadi kan baru cucu-cucu Nenek. Aku bisa anter Nenek ke anaknya Nenek juga kok. Aku nih hebat lho.” Kadang-kadang Sang Waktu emang kadang songong, walau niatnya baik. Sang Waktu hebat, tapi kadang masih kalah hebat dibanding hebatnya kasih seorang ibu. Nenek berkata, “Kamu ga usah kuatir, Tu. Nenek udah seumur hidup berdoa untuk Anaknya Nenek. Soal itu, Nenek lebih paham daripada kamu.”


Dua hari setelah itu, hidup Nenek di bumi berakhir sudah. Sang Waktu menjemput Nenek ke petualangan lain: kembali ke pelukan Semesta; dan ke pelukan Kakek yang sudah menantinya sejak sekian tahun sebelumnya.


*)

Tertanggal 31 Agustus 2021, kutuliskan ini untuk Oma Sari. 

Aku tidak bisa lupa perkenalan pertamaku dengan Oma beberapa tahun lalu. Oma nawarin gorengan yang dibeli di alun-alun. Salah satu gorengan paling enak yang pernah aku nikmati, hangatnya pas sekali untuk dinginnya pagi dan dinginnya kehidupan saat itu.

Selamat menikmati perjalanan dari Bandung menuju keabadian, Oma. Ke sebuah petualangan yang tenang dan menyenangkan bersama Opa dan Sang Waktu.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Ketika Tuhan Bercerita

Aku meramu samudera.

Kucampurkan warna-warna. Biru laut, awan putih. Hijau ganggang di dasarnya menari-nari. Kulihat dari langit dan kupandangi. Tidak terasa hidup, karena semua hanya diam. Maka, kuciptakan daya, kuberikan gelora. Dan, kunamai dia: ombak.

Lalu, aku tersenyum. Aku terdiam. Kemudian kutiupkan angin, kuberikan riak. Sehembus dari nafasku. Dan, kunamai dia: badai.

Ya, semua indah. Tapi tunggu. Ini, ciptaan kecil yang paling kusayang. Aku ingin ia juga memahami. Aku ingin ia juga merasakan. Kunamai dia: manusia. Semua indah. Pada waktunya.

Manusia. Seringkali aku merindukannya. Dan, bila tidak lagi tertahan, aku akan membisikkan suara-suara. Gemuruh gulungan ombak. Tetes embun. Nyanyian tonggeret. Kicau burung-burung. Gema di dalam terowongan. Bising di dalam kemacetan. Aku adalah keheningan dalam ruang-ruang ibadah. Itu aku. Khidmat dalam resital. Itu aku. Aku adalah keramaian dalam festival. Itu juga suaraku. Aku membisikkan kebahagiaan saat bayi-bayi lahir. Aku berikan diam saat nyawa-nyawa beristirahat. Itu suaraku. Kunamai dia: musik.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Galih

20 Juli 2015. 21:58.

Kembang cantik Padma mekar di puncak Ciumbuleuit.

FullSizeRender

Akhirnya bisa liburan lagi walaupun cuma sebentar. Akhirnya bisa senggang dan lepas dari yang tegang-tegang macam deadline. Jauh dari ricuh kota besar, jauh dari rutinitas harian, jauh dari missed calls, jauh dari pesan singkat dan surat elektronik orang-orang. Sendiri dan jernih (mudah-mudahan).

Hari-hari sebelum ini, belakangan, gue merasa sangat penat dan sangat terburu-buru. Untuk segala sesuatu. Sebetulnya, gue meyakini bahwa ini bukan cuma soal deadline. Banyak pikiran dan banyak masalah pribadi yang sedang gue pikirkan. Tapi, gue gak akan mengeluhkan hal-hal itu di sini, karena gue tau, gue hanya satu dari sekian miliar manusia di muka bumi yang punya pergumulan. Nah, lucunya, kepusingan gue belakangan ini sebenarnya juga karena disponsori oleh banyaknya curhatan sahabat. Salah satunya adalah soal asmara yang mandek di tengah jalan. Klise ya. Tapi, ternyata seklise-klisenya ini, sahabat gue segitu berberat hati. Mungkin karena dia pikir, perempuan yang sedang banjir-banjirnya ditangisi adalah kekasih yang paling sejati. Ya, kan, gak ada yang tau.

Sahabat gue, sebut saja dia Galih. Dan, dia merasa sudah ketemu dengan Ratna-nya, jodoh paling tepat, yang paling dipujanya. Tetapi, karena satu masalah pelik menyangkut orang ketiga yang muncul hanya untuk cari keuntungan diri sendiri, dan bahkan bukan untuk keuntungan Galih, apalagi Ratna, si Galih jadi kelimpungan. Karena Ratna sudah keburu merasa dikhianati dan akhirnya pergi. Tanpa sempat jelasin apa-apa, sekarang tinggalah Galih seorang diri dan patah hati. Terus si Galih ini jadi curhat ke gue.

Sudah empat bulan Galih diputusin Ratna. Ya, itu tadi, kampretnya adalah tanpa Galih bisa menjelaskan apa-apa. Mana bisa jelasin. Selama empat bulan kemarin, Galih gak bisa sama sekali menghubungi Ratna. Telepon dan SMS diblok. Facebook dan Path diunfriend. Twitter diunfollow. Line dihapus. Email juga gak dibales. Kalaupun Pos Indonesia masih bisa cukup dipercaya dan Galih masih berniat kirim surat atau kartu pos, gue yakin Ratna juga pasti gak bakal bales. Namun, sekali setelah empat bulan, kemarin akhirnya Ratna bales pesan Galih. Beberapa menit. Beberapa pesan. Galih langsung berapi-api. Sampe dicapture obrolan mereka, berlayar-layar, dan dikirim ke gue. Lalu, oh, Galih. Meskipun gue tau bahwa Galih seneng banget karena pesannya terbalas, dari semua pesan yang gue baca, gue juga tau, bahwa Galih semakin patah hati.

Tidak seperti Galih yang merasa bahwa hal-hal apapun yang mereka miliki belum seharusnya selesai, Ratna merasa bahwa empat bulan lalu, segalanya tentang tiga tahun kebersamaan yang mereka punya, sudah berakhir. Dan Ratna kekeuh soal itu. Entah Galih menutupi kesedihannya dengan tetep ketawa-ketiwi di depan gue, atau memang gak ngeh aja bahwa Ratna saat ini sudah gak bisa diraih lagi, Galih tetep berharap banyak. Dan, tetap yakin bahwa keputusannya untuk memupuk dan menumbuhkan harapan adalah keputusan yang tepat.

Kalau aja dengan ceplokin telor ke jidatnya Galih bisa munculin hologram bertuliskan “MOVE ON, GALIH!”, gue udah borong semua telor di Indomaret deket sini (sayangnya, mas-mas Indomaretnya gak terima kartu debit ataupun kredit karena mesinnya lagi rusak dan gue gak bawa cash banyak cuma buat beli telor segitu banyak). Tapi, ya Tuhan, Galih. Move on boleh kali.

Gue memang bukan yang paling jago urusan me-move-on-kan diri sendiri. Banyak hal juga yang sebetulnya tidak baik buat gue, tapi sulit gue lepaskan. Gue sulit berhenti merokok yang dulu pernah merebut kehidupan kakek gue. Gue sulit lepas dari kekuatiran berlebihan yang menghalangi gue keluar rumah tanpa eyeliner dan eyeshadow di atas mata gue yang monolid ini, walaupun untuk pake barang kampret itu gue harus menghabiskan minimal dua puluh menit setiap hari. Gue sulit menghilangkan kebiasaan cemas dan panik ketika ada gangguan terhadap jadwal gue walaupun gangguannya paling cuma beberapa menit, paling lama beberapa jam. Gue sulit menentukan barang mana yang mau dibuang ketika tiba harinya bersihin kamar dengan alasan klise “mungkin nanti bakal dipake lagi”, padahal barang-barang sampah yang macem demikian semakin numpuk bertahun-tahun. Itu. Hal-hal itu mengikat gue sampai sekarang. Tapi, semakin bertambah usia, gue semakin belajar, bahwa banyak faedahnya ketika gue memutuskan untuk “cut off” hal-hal yang gak lagi berguna buat kehidupan gue; hal-hal yang memberatkan; hal-hal yang menyeret-nyeret hati dan pikiran gue sehingga gue sulit bergerak bebas; hal-hal yang membuat gue merasa tidak merdeka. Dan, gue rasa, Galih perlu tau soal ini.

Ratna udah pergi, Galih. Dan, elo gak tau sampai kapan. Dan, elo gak tau akan balik lagi atau enggak. Dan, elo gak tau hati lo akan luka sedalam apa dan berdarah-darah seberapa, kalau lo tetap berharap banyak di situ. Angkat pantat, beranjak, gerak, Galih. Kehidupan masih menawarkan banyak hal baik buat elo. Banyak hal baik yang bisa dilakukan selain menangisi dengan diam-diam Ratna yang entah bakal hadir lagi di hidup lo atau enggak satu waktu nanti dan tidak sekarang. Gue sadar bahwa move on gak gampang, karena meskipun kedengarannya aneh, rasa sakit itu nagih, dan mungkin (gue dan) elo adalah sedikit di antara sekian manusia yang suka tenggelam di dalam rasa sakit dan hobi banget melukai jiwa sendiri. But that’s no good, Galih. You deserve to be happy. Ya gak sih?

Buat gue, setidaknya sekarang, setelah mengalami beberapa hal dalam hidup (tsah!), move on itu penting. Terutama untuk hal-hal yang membuat hidup gue tidak ke mana-mana. Patut diakui, kadang cuma karena merasa sudah terlanjur tenggelam di dalam rasa sakit dan terlalu nyaman gegoleran di dalam kubangan bernama patah hati, gue merasa bangkit kembali jadi terlalu susah. Sampai gue merasa bahwa “kenyamanan” yang gue rasakan sekarang tidak akan jadi “kenyamanan” yang gue harapkan untuk ada di dalam masa depan gue, di dalam hidup gue pada waktu-waktu mendatang. Entahlah. Gue rasa, Galih betul-betul perlu tau soal ini.


Galih adalah sahabat yang sangat baik dan penyayang buat gue. Meskipun tampangnya kayak Chuck Norris blasteran Hongkong, hatinya adalah Hello Kitty asli Indonesia dengan keramahan khas Priangan. Oleh karena itu, gue hanya berharap tahap kehidupan dia yang ini, yang pahit dan kampret ini, adalah cuma sekadar waktu buat Galih merasakan yang sama seperti gue. Bahwa, akhirnya Galih bisa liburan lagi walaupun mungkin cuma sebentar (atau lama, entah). Liburan dari segala capek-capeknya dan tai-tainya jatuh cinta. Bahwa, akhirnya Galih bisa senggang dan lepas dari yang tegang-tegang lagi, setelah sebelum putus kemarin, Galih dihantui dan bahkan dikejar-kejar oleh perasaan takut kehilangan (walaupun akhirnya jadi kehilangan beneran).

Gue hanya berharap, secantik kembang padma yang sedang banyak mekar di puncak Ciumbuleuit malem ini, hidup Galih juga semakin mekar dan bertumbuhkan ribuan mahkota. Lahir dari air kehidupan yang berlumpur-lumpur masalah, kemudian berjuang melipat-lipat dirinya, berubah bentuk menjadi bunga cantik yang makin kuat. Makin kuat. Makin kuat. Dan, makin kuat. Supaya kemudian, kebijaksanaan lahir dari pusatnya.

Teman Baru Yang Aneh Bernama Kaje

Gue mengimani “Tak Kenal Maka Tak Sayang” karena inilah yang terjadi kepada gue baru saja. Ini soal teman baru gue yang bernama Kaje. Namanya aneh memang, ya udahlah, orangnya juga kok. Jadi, namanya dan kepribadiannya, memang cocok. Kami berkenalan lewat surat elektronik karena satu pekerjaan yang mungkin akan dikerjakan bersama. Itu. Lalu berlanjut melalui messenger. Belum ada keanehan apa-apa sih dari perkenalan dan obrolan-obrolan awal. Iya. Rasanya sih belum. Sampai kemudian kami janjian untuk ketemuan di satu studio di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Sebelum gue bercerita panjang lebar, mungkin ada baiknya gue memperkenalkan lo dengan Si Kaje. Karena kalau gak kenal, gak bakal sayang, bukan? Baiklah. Si Kaje adalah pria Ambon-Kediri, dan dikenal sebagai rapper, seniman kata-kata, seniman ritme. Beliau ini Aries tulen, lahir 8 April 1980. Si Kaje ini punya banyak banget penggemar. Gila-gilaan. Jelas aja. Tampangnya ganteng, badannya tegap calon bikin lo klepek-klepek dan minta dilindungin banget, wawasannya luas, plus ngobrolnya asik. Kebayang? Okay.

sikaje

Jalanan macet parah hari itu dan gue harus menghabiskan kurang lebih dua jam perjalanan dari Karawaci ke Tanah Abang. Gila. Durasi perjalanan ke Tanah Abang udah hampir sama kayak ke Bandung. Alhasil, gue telat sejam dari waktu yang ditentukan. Sesampainya di tempat pertemuan, pas banget Kaje telepon gue. Gue meminta maaf sebesar-besarnya dan untung (kedengarannya di telepon) Kaje gak marah, malah langsung ngajak makan di salah satu kedai di sekitaran studio. Gue bergegas menuju tempat yang dimaksud.

Kita ketemuan akhirnya. Kaje gayanya santai banget. Basic tee. Celana training. Sneakers. Topi khas berjahit simbol +62. Ransel. Semua dalam nuansa abu-abu hitam. Semuanya santai dan asik banget. Kecuali, satu hal. Keanehan pertama. Gerak-geriknya sangat buru-buru. Maka, melihat itu, gue langsung meminta maaf lagi karena gue sejujurnya takut telatnya gue membawa bencana buat jadwalnya Kaje. Ternyata, Kaje pun baru banget kelar latihan yang juga ngaret, dan keterburuannya cuma karena laper aja kepingin makan. Okay.

Gue dan Kaje sama-sama gak makan nasi, akhirnya kita cuma pesan semacam cemilan tiga porsi berisi sayuran, telur, dan tahu yang dimakan berdua sambil bercakap-cakap. Buat ukuran cemilan doang dan buat ukuran sesi ngobrol dengan orang yang baru dikenal, banyak ya. Tapi, ternyata pertemuan yang gue pikir gak bakalan lebih dari setengah atau satu jam, akhirnya berlangsung selama lima jam. Lima jam. Banyak hal yang kita omongin. Mulai dari ngomongin kerjaan, hobi nulis, sampai cita-cita. Banyak dan kalau gue tulis semua di sini, entah bisa berapa halaman. Nanti lah, dalam post yang lain, dan terutama kalau ada kesempatan ketemu Kaje lagi, bakal gue ceritain hal-hal yang menarik tentang obrolan gue bersama Kaje (karena gue yakin akan selalu ada cerita menyenangkan untuk ditulis kalau udah bicara soal Kaje). Namun, sepanjang percakapan berdurasi kalau-ditambah-sejam-lagi-setara-dengan-gue-ngetake-vocal-satu-lagu-plus-ngetake-backing-vocal-sebanyak-empat-puluh-delapan-track-untuk-lagu-yang-sama-udah-termasuk-dibalance-untuk-kemudian-dibounce-bawa-pulang-lalu-dipelajarin-untuk-direvisi-lagi-minggu-depan-cape-banget-serius (jadicurhatkan!) itu, gue memerhatikan keanehan lainnya dari Kaje.

Keanehan kedua. Si Kaje ini, idenya banyak banget. Lagi-lagi, gila-gilaan. Obrolan kita tentang satu ide bakal melahirkan ide-ide lain dan begitu terus. Mengutip pernyataannya Kaka Slank soal Kaje, “Nih anak, dari air mukanya aja, ini (anak) smart boy.” dan emang bener. Melalui Kaje dan gak butuh waktu banyak, satu ide bisa beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi. Okay.

Ternyata, semakin larut hari itu, keanehan demi keanehan malah semakin bermunculan. Ketiga. Soal Kaje yang gak pernah nangis sejak 19 tahun sampe sekarang usianya 35 tahun. Keempat. Soal Kaje yang katanya waktu kecil belajar bahasa Inggris cuma dari nonton acara anak-anak dan acara musik di TV tapi ya kok jago banget dan fluent banget. Kelima. Soal Kaje yang kadang-kadang sikapnya nyebelin dan kelihatan sombong, tapi bisa juga super-ramah dan tebar-tebar senyum ke-tora-sudiro-annya itu. Keenam. Terlanjur udah kesebut soal senyumnya yang mirip senyum Tora Sudiro, keanehan terakhir ini adalah soal Kaje yang mukanya rada mirip Manny Pacquiao. Nah, coba dibayang-bayangin aja, kurang aneh apa kalau gue sebut dalam diri satu orang ada sebagian Tora Sudiro dan sebagian Manny Pacquiao di situ. Aneh kan.

sikaje

Ah. Tadinya gue buka laptop, niatnya mau ngeblog serius, eh jadi ngomongin orang. Ngomongin Kaje pula. Ya sudahlah, cukup dulu malam ini. Semoga malam ini, ngomongin orang kali ini, gue gak dosa-dosa amat ya.


ps.

Maaf. Foto Si Kaje di atas gue curi dari sini. Akibat terlalu seru ngobrol, gue lupa foto. Sekali lagi, maaf, saya curi-curi, masnya. Abis fotonya lucu yang ini. Jago deh masnya yang fotoin (Dasar penjilat kamu, Oendari!).

“Didiemin Malah Ngelunjak”

Baru aja gue ngelewatin keset. Terbuat dari koran bekas. Ada tulisannya begini: didiemin makin ngelunjak. Tau lah koran apa kira-kira.


Gue merasa salah satu kalimat yang paling gak masuk di akal di dunia ini adalah: didiemin makin ngelunjak. Kalau ngebayangin kondisinya, kira-kira demikian. Si A merasa si B bertingkah aneh-aneh. Si A gak suka tingkah si B tersebut, tapi diem aja. Terus si B tetep bertingkah serupa. Terus si A jadi kesel. Sementara itu, si B anteng-anteng aja gak tau apa-apa dan merasa gak ada yang salah. Lalu, lahirlah statement dari mulut si A: didiemin makin ngelunjak. Kan bodoh.

Wahai, A.

Pertama. Ya, kalau elo gak mau si B ngelunjak, ya jangan diem aja. Bilangin kek. Cubit keteknya kek. Cabut bulu kakinya kek. Biar ngeh.

Kedua. Ya, kalau elo udah memilih untuk diem aja, si B ngelunjak adalah sebuah risiko. Jadi, sebetulnya kalimat itu adalah sebuah kesia-siaan karena elo udah seharusnya tau si B bakal ngelunjak.

Ketiga, kenapa kok kalian namanya cuma satu huruf satu huruf. Irit banget.