Sebuah Mimpi Yang Pernah Tercatat Dahulu Kala

Minggu, 13 September 2015

Di Killiney, Senayan, menulis sendirian.


DARI MIMPI. Mataku menangkap matamu lalu kita jadi tau satu. Kita jadi mengerti siapa kita ini dan apa kita ini. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

Kata-kata terkandung lalu lahir kita dari rahim nuansa. Engkau adalah suara dan aku larik-larik yang bercerita. Lahir kita sebagai sajak, yang beruntai pada satu masa. Lahir kita karena malam memberi benihnya pada cinta. Darah dari sajak dan daging dari sajak. Terbentuk dari satu dan timbul jadi satu. Sebabnya demikian:

Kita saling melihat hati tanpa membuka mata. Tidak lagi perlu apa-apa, tidak lagi rindu apa-apa. Karena selalu cukup bagiku engkau dan nada-nada. Dan, kesukaanmu adalah kubacakan kisah-kisah.

Lahir kita sebagai sajak yang beruntai pada satu masa. Sampai saat kita tercerabut hingga tak lagi kita berpaut. Angin barat bertiup membelah jagat lalu kita terpisah. Tanpa tanda-tanda pengingat, kita terceraikan oleh entah. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

Namun, kita adalah anak-anak sajak. Darah kita terus luruh mengalir dari hulu sajak. Daging kita bertumbuh di bawah denyut sajak. Maka, kita tidaklah perlu kuatir akan apapun juga. Cakrawala kita terangkum dalam pejam mata. Dalam getar-getar yang dirambatkan udara. Dan, perpisahan adalah sekadar cara agar kita dapat saling menemukan.

Seperti saat ini, setelah hidup kita bergerak jauh. Setelah hati kita berpindah-pindah, ini aku, menemukan engkau. Mataku menangkap matamu lalu kita jadi tau satu. Kita jadi teringat siapa kita ini dan apa kita ini. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (16)

Aku udah lama banget gak ke sini dan ketemu orang-orang di sini. Aku ngerasa takut. Takut mengecewakan. Takut ditolak. Takut gak cukup baik. Takut gak diterima. Tapi kamu insist kita ke sini dan sekarang kita sudah di sini.

Ini rumah yang besar sekali buatku. Terlalu besar sampai aku merasa di sini sangat dingin, padahal warna-warna di dinding yang penuh dekorasi klasik, lampu-lampu cantik, dan perapian sebesar itu, semuanya seakan ingin menunjukkan kehangatan dan keramahan. Tapi tetap saja dingin, kaku, bikin takut.

Seperti biasa, seakan tau isi pikiranku, kamu bilang: gapapa. Baiklah. Gapapa. Aku mengembalikan perhatianku kepada kita yang sedang berjalan memasuki paviliun demi paviliun, mengikuti seorang penjaga rumah berpakaian formal yang mengantarkan kita sedari tadi. Kita belum sampai-sampai juga ke ruangan yang dituju. Ini betul-betul rumah yang besar. Dan, aku diam-diam semakin panik.

Di bawah anak tangga menuju ruangan yang sudah penuh orang itu, langkahku sempat terhenti. Aku gentar sekali naik ke sana. Tangga yang maha lebar dan maha tinggi itu pun seakan-akan mengintimidasi. Kamu yang sudah beberapa anak tangga lebih dulu, sepertinya sadar aku tertinggal di belakang. Kamu meminta penjaga rumah yang flamboyan itu untuk menunggu. Kamu kembali untuk menjemput aku dan kamu mengulurkan tangan. Kamu bilang lagi: gapapa. Baiklah. Aku memegang tangan kamu. Aku percaya sama kamu.

Lama sekali kita berjalan, kamu gak melepas tangan aku. Ketika pintu dibuka, semua mata memandang di balik tirai. Aku bisa merasakan tanganku makin dingin, sementara tangan kamu makin hangat. Aku mematung karena sulit berpikir jernih, lalu kamu, seperti biasa, seperti tau pikiranku, kamu membisikkan namaku, tepat di telinga.

Di situ, gue bangun.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (15)

“I’m not allowed to be seen around you.”

“Really? Why?

“That’s what I’ve been told.”

“Who told you that?”

“You know who.”

“…”

“You know who.”

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (14)

“I’m easily forgotten.” kali ini gantian aku yang cerita. Kamu mendengarkan. Gak tau kenapa aku mulai dengan sok ide berbahasa Inggris, padahal lancar juga enggak.

Kita sedang di dalam perjalanan dan hari hujan. Baik aku maupun kamu, gak satupun dari kita menduga hari itu akan hujan. Kita menuju ke rumah seseorang yang gak aku kenal, tapi kamu kenal. Aku yang nyetir, kamu yang menunjukkan jalannya. Kamu gak kuat nyetir, apalagi dengan cuaca kayak gini, itu pasti, aku paham. Aku gak inget kita ngobrolin apa sebelumnya, tapi sepertinya sesuatu yang penting dan urgent tentang kenalan kamu yang sedang kita datangi rumahnya itu.

Sambil nyetir, aku bilang ke kamu, “Aku akan menanti-nanti satu kesempatan di mana kamu menyadari ada kejadian-kejadian yang di luar kendali bisa terjadi begitu aja, dan kamu gak tau itu kenapa. Tapi, tanpa tau kenapa, semua kejadian itu bisa memperbaharui cara kamu memandang banyak hal.”

“Yang kamu percaya, bisa runtuh seketika. Yang kamu pikir gak nyata, ternyata ada. Apa yang penting? Apa yang perlu? Bisa berubah tiba-tiba. Tapi ternyata, semua yang kita tau, dulu, sekarang, atau nanti, sudah ada masa-masanya masing-masing. Akan tiba masanya kamu sadar, ada hal-hal yang di luar kendali, terjadi begitu aja dan kamu akan bergerak terus dengan itu.”

“Kalau kesempatan itu udah tiba, semoga kamu inget aku pernah bilang ini: segala sesuatu ada sumbernya, biarin aja mengalir.” Aku cuma kasih jawaban itu sambil mengakhiri, “Tapi, like I said, I’m easily forgotten.” Kita diam beberapa lama, sebelum kamu jawab, “No, you are not.”

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Coming Back Stronger

Dua bulan terakhir ini, gue melepaskan diri dari media sosial. Kadang-kadang muncul sesekali di sana kalau dibutuhkan aja. Bulan Mei dan Juni lalu, banyak hal berat yang gue lalui. Gue yakin, gak cuma gue doang yang diam-diam stress dengan situasi saat ini. Gak cuma dua bulan terakhir, gue pun yakin banyak yang setuju, sepanjang tahun ini udah kelewat banyak kejadian yang melelahkan hati dan pikiran. Selama kurang lebih satu setengah tahun, seringkali energi kayak dikuras habis, menenangkan hati, bangkit lagi, terus jatuh lagi. Kayak digebukkin berkali-kali.

Sudah kurang lebih delapan bulan ini, gue kayak hidup di dua alam. Setidaknya, begitu Kamga menyebutnya. Kamga adalah salah satu teman baru yang gue kenal beberapa bulan terakhir, beliau ada di momen-momen pertama kebangunan spiritual gue terjadi, sekitar Oktober-November 2020. Gue dan Kamga memang gak sesering itu ngobrol, tapi terakhir kita sempat ngobrol di DM Instagram, akhir Mei lalu. Kamga sempat bertanya “Lo kenapa bulan Mei?” Di situ, gue akhirnya cerita.

Beberapa hal gue rasakan di bulan Mei. Gue sempat ada di situasi di mana gue gak bisa mengimbangi hal-hal yang spiritual dan yang material. Mulai sulit tidur, makin sering ngerasa dicolek-colek, tiba-tiba kepikiran hal-hal yang gak gue pahami tapi bisa gue rasakan emosinya, dan yang terbaru: punya firasat sebelum seseorang meninggal. Entah karena gue overwhelmed, atau jangan-jangan sebetulnya gue takut walaupun udah sering dibilangin untuk gak perlu takut, atau gue memang nubi banget aja jadi gak paham.

Dalam obrolan singkat di DM tersebut, Kamga menyampaikan saran-saran yang gue pertimbangkan terus. Seperti sebelum-sebelumnya, semua saran Kamga selalu gue inget-inget, simply gue percaya sama Kamga. Yang paling gue inget, terakhir Kamga bilang, “Get well soon Botin manusia dua alam.

Dua alam. Udah mana sulit menetapkan diri di alam spiritual, ada banyak juga yang terjadi di alam material, ada banyak hal-hal nyata yang juga perlu gue urusin, gue pikirin, gue kerjain.

Karena satu dan lain hal, album gue (dan showcasenya) yang mestinya rilis bulan Mei, harus diundur, thanks to pandemi. Memang pandemi ini bikin gue belajar menyadari bahwa ada hal-hal yang memang di luar kendali dan gue dididik pelan-pelan untuk merelakan. Semacam harus lebih ya-udah-lah.

Selain itu, sejak pandemi dimulai dan gak tau kapan kelarnya, kehidupan gue jadi sangat domestik. Yang kenal baik sama gue, pasti akan bilang, “Lah, lo kan emang jarang ke mana-mana dari dulu.” Iya, sejak gue kerja di ROEMAHIPONK tujuh tahun lalu, gue memang jarang keluar karena kesibukan produksi seringkali menuntut gue untuk ada di studio terus. Plus, gue memang gak terlalu suka keramaian dan lebih sering memilih untuk menyendiri. Tapi, beda banget sih rasanya, antara gak keluar-keluar karena memang memilih untuk stay inside, dengan gak keluar-keluar karena paranoid sama situasi di luar sana.

Gue pun awalnya berpikir, menjadi domestik gak akan terlalu memengaruhi gue, tapi nyatanya enggak juga. Jenuh, ngerasa gak aman, ngerasa gak cukup baik karena ngerasa kerjaan selalu numpuk imbas dari gak ada bedanya lagi antara waktunya kerja sama waktunya libur, gak tau kapan prioritasin waktu untuk diri sendiri dan untuk kerjaan. Waktu semakin sulit diukur dan keseharian gue berputar di ruang yang sama, itu lagi itu lagi.


Baik perkara-perkara spiritual maupun material, gue belakangan jadi banyak cari tau, demi gue bisa lebih memahami gue kenapa dan gue harus apa. Artikel-artikel soal spiritual awakening gue baca. Artikel-artikel psikologi pun gue baca. Tips-tips menjaga stabilitas performa kerja gue kulik. Banyak istilah-istilah baru gue googling: clairaudience, clairsentience, burnout, clinical depression, anxiety problems, banyaklah. Dari yang gue baca, katanya gue pas untuk cobain diet, cobain puasa, cobain meditasi, coba berdoa lagi, baca alkitab lagi, coba exercise ini itu, coba relayout ruang kerja, coba cari hiburan dengan nonton, main game, hobi baru, apapun. Gue turutin sehari, dua hari, seminggu, sebulan, beberapa bulan. Kenapa gue gak ngerasa lebih baik? Kenapa setelah make efforts ini itu, gue malah ngerasa banyak gagalnya? Ini wajar apa enggak? Gak paham.

Tulisan apa ini. Isinya ngeluh semua. Padahal judulnya tentang coming back stronger. Gue nulis di sini, karena gak tau medium lain yang bisa menampung ini, karena gue tau: pada masa-masa kayak sekarang, siapa yang gak ngerasa kewalahan? Kalaupun ada yang tenang-tenang aja, berapa banding berapa dengan yang sebaliknya? Di sekeliling gue, yang gue temukan sih hampir semua orang lagi devastated. Gak mungkin tega gue tambah beban mereka dengan menumpahkan keluhan gue. Dan, gue nulis di sini, mungkin karena gue udah capek berusaha menghindarkan diri dari stress bacain angka-angka di berita. Cari positivity di layar handphone gak berhasil, malah berakhir dengan pikiran negatif: di luar sana banyak yang hidupnya udah kayak setrong lagi, kok gue ngerasa gue gak stronger-stronger juga. Digebukkin berkali-kali, gak stronger-stronger juga.

Sejak gue mengalami pengalaman spiritual yang tidak gue pahami itu, gue memang jadi lebih memerhatikan tanda-tanda. Gue merasa setiap tanda sederhana yang gue sadari, menyimpan pesan mendalam yang perlu gue pelajari. Kalau ada yang pernah (atau sering) mengalami pengalaman yang kayak gue dan paham maksud kalimat barusan, mungkin paham juga ketika gue memutuskan untuk mengikuti tanda demi tanda, demi tau ujungnya apa.

Penelusuran gue membawa gue kepada pertanyaan: tracing back ke masa demi masa kehidupan yang sudah gue lewati, apa yang paling bikin gue lega? Gue udah sempet bercerita di salah satu tulisan di situs ini, bahwa belakangan ini gue sedang berusaha mengetahui apa yang gue cari dan apa yang perlu gue temukan. Lalu, ada satu tulisan gue dari tahun 2015 yang baru-baru ini muncul di antara tumpukan jurnal lama. Di situ tertulis soal lega. Sekarang gue baru berpikir ulang, ini bukan cuma soal lega, melainkan “Apa yang bisa bikin gue gak menyesal?”.

Tanda demi tanda membawa gue sampai di kesimpulan yang sedang gue coba saat ini, yaitu kembali ke apa yang gue nikmati dan gue percayai sejak kecil: menulis. Dari kecil, gue suka merekam kejadian-kejadian di depan mata, ataupun khayalan-khayalan di dalam kepala, ke dalam tulisan. Ketika menulis, ada romantisme yang gue temukan dan gue nikmati di dalam persahabatan gue dengan kata-kata.

Membaca atau mendengarkan kata-kata sudah jadi keseharian gue beberapa tahun terakhir. Terutama karena pekerjaan di balik layar produksi musik dan audio, yang bikin gue terbiasa soal itu. Oleh karena itu, kata-kata, (dan banyak hal lainnya dalam berbahasa) jadi penting banget buat gue. Belakangan, gue teringat bahwa kecintaan gue pada kata-kata kayaknya udah dari kecil.

Gue terbiasa mengamati cara orang-orang di sekitar gue berkomunikasi. Ketika gue denger satu kalimat, kepala gue jadi terlatih untuk merunut dan menghubungkannya dengan kemungkinan cerita besar yang menyelimuti kalimat sederhana tersebut. Ketika gue baca satu baris, gue merasakan kombinasi perasaan yang mungkin mengendap di dalam barisan kata-kata itu. Ketika gue mendengar intonasi, gue seperti menyelam ke dalam pikiran yang tidak gue kenali. Ketika menulis, itu semua kayak amplified.

Ini yang gue rasakan. Menulis membantu gue mengendalikan pikiran gue, karena ketika menulis gue harus merunut kejadian dan menghubungkan satu dengan yang lain. Menulis juga membantu gue memahami banyak hal yang sebelumnya cuma misteri, terutama ketika tulisan yang sedang dikembangkan melibatkan kilas balik jejak rekam kejadian demi kejadian yang pernah gue alami. Menulis melatih gue untuk memperkaya intonasi, menyeimbangkan antara keras dan lembut, kuat dan lemah, insist atau pasrah. Menulis mengajarkan gue untuk “pelan-pelan nanti juga sampai di tujuan”. Rasanya ini penting banget untuk selalu jadi pengingat buat gue di masa sekarang, di masa-masa stres.

Pada masa sulit, tulisan bisa jadi medium untuk gue menuangkan beban yang perlu dilepas sebentar dari kepala gue. Gue gak menemukan kesenangan yang sama, yang gue dapatkan dari menulis, pada hal yang lain: liburan selalu asyik, tapi ya udah, beda tempat beda suasana, terus udah; nonton selalu seru, karena menginspirasi, tapi terus udah; game, buat gue gak menarik. Tulisan, selalu pas. Tulisan selalu menerima gue apa adanya. Apapun yang mau gue ceritakan, jadilah. Dengan demikian, lega banget ketika beban satu-satu lepas dalam bentuk tulisan. Rasanya ini juga yang jadi alasan gue kembali ke sini, menulis blog lagi.

Di sebuah tulisan Tentang Theoresia Rumthe, gue menulis tentang sebuah kalimat yang pernah berhasil menyelamatkan gue dari bahayanya pikiran gue sendiri: “Menulislah dan jangan bunuh diri.” Tujuh tahun lalu, gue membaca kalimat Theoresia Rumthe ini, tapi gue gak yakin gue mengerti artinya. Kayaknya baru sekarang gue mulai paham.

Di lingkungan gue, topik bunuh diri bukan topik yang dibicarakan secara buka-bukaan. Namun, kalau mau jujur, topik bunuh diri bukan gak pernah mampir di pikiran gue. Beruntung gue dikelilingi oleh orang-orang yang menjagai gue, minimal lewat doa dan nasihat pengingat, sejauh ini gue selalu kembali kepada kewarasan gue. Theoresia Rumthe adalah salah satunya, yang pernah hadir dengan sebuah pengingat, “Menulislah dan jangan bunuh diri.” Sampe sekarang, masih gue ingat. Dan, gue lakukan.

Untuk kalian yang membaca sampai sini, sekiranya sedang berada di situasi yang kurang lebih sama kayak gue: mumet, rumit, gagal paham, overthinking, atau semacam itu; well, tos, semangat ya. Gue doakan kalian menemukan cara untuk menguapkan semua beban, satu-satu supaya lebih ringan. Mungkin caranya adalah menulis, kayak gue. Mungkin juga bukan. Apapun bentuknya, semoga ketika diperlukan, kalian dipertemukan dengan pengingat sederhana yang bisa bikin kalian kuat lagi.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Ketika Tuhan Bercerita

Aku meramu samudera.

Kucampurkan warna-warna. Biru laut, awan putih. Hijau ganggang di dasarnya menari-nari. Kulihat dari langit dan kupandangi. Tidak terasa hidup, karena semua hanya diam. Maka, kuciptakan daya, kuberikan gelora. Dan, kunamai dia: ombak.

Lalu, aku tersenyum. Aku terdiam. Kemudian kutiupkan angin, kuberikan riak. Sehembus dari nafasku. Dan, kunamai dia: badai.

Ya, semua indah. Tapi tunggu. Ini, ciptaan kecil yang paling kusayang. Aku ingin ia juga memahami. Aku ingin ia juga merasakan. Kunamai dia: manusia. Semua indah. Pada waktunya.

Manusia. Seringkali aku merindukannya. Dan, bila tidak lagi tertahan, aku akan membisikkan suara-suara. Gemuruh gulungan ombak. Tetes embun. Nyanyian tonggeret. Kicau burung-burung. Gema di dalam terowongan. Bising di dalam kemacetan. Aku adalah keheningan dalam ruang-ruang ibadah. Itu aku. Khidmat dalam resital. Itu aku. Aku adalah keramaian dalam festival. Itu juga suaraku. Aku membisikkan kebahagiaan saat bayi-bayi lahir. Aku berikan diam saat nyawa-nyawa beristirahat. Itu suaraku. Kunamai dia: musik.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Pengalaman Spiritual

Peringatan sebelum membaca: Hati-hati, tulisan ini aneh. Begitu pula penulisnya.


Photo by Luis Dalvan on Pexels.com

Gue pun masih jet lag dan belum paham bener ini tuh apa. Kenapa ketika kenalan atau ngobrol sama orang, gue beberapa kali mendengar pesan-pesan yang tidak gue mengerti yang bunyinya kayak di belakang kepala. Kenapa waktu dengerin curhatan, kadang ada perasaan-perasaan yang intens yang tiba-tiba muncul. Kenapa gue dipertemukan dengan wajah-wajah dari masa silam. Atau paling enggak, rasanya kayak dari masa silam. Atau firasat, yang rasanya kayak dari masa depan. Entahlah, belakangan ini, kadang rasanya waktu gak relevan lagi untuk jadi sekadar besaran dari pengukuran.

Omong-omong soal relevansi, sama kayak agama. Setelah beberapa kali melalui pengalaman yang sifatnya spiritual, pikiran-pikiran gue mengenai agama kayak diajak untuk berevolusi. Beberapa hal yang gue pegang teguh, akhirnya patah. Beberapa hal yang gue pikir klise, ternyata nyata. Beberapa hal yang sebelumnya gue percaya gak percaya, akhirnya gue percaya. Yang gue pikir gak ada, ternyata ada. Isi itu kosong. Dan, kosong mungkin sebetulnya isi. Gak taulah. Aneh.

Tapi, walaupun di sini gue nyentil soal agama dan seakan mempertanyakan relevansinya di kehidupan dan alam pemikiran gue, bukan berarti gue gak menghargai hal-hal tentang agama. Banyak banget intisari yang gue serap ketika belajar agama yang gue rasa berharga untuk jadi bekal dalam berkehidupan. Ini juga yang membuat gue semakin menghargai teman-teman dan sahabat yang mempelajari dan mendalami agama, apalagi yang mengalirkannya ke dalam kehidupan nyata dengan ngasih dampak yang segar buat sekitar. Buat gue, mereka kayak Malekat.

Pengalaman-pengalaman spiritual belakangan ini, meskipun seringkali menghanyutkan ke dalam naik-turunnya kebingungan dan bahkan kecemasan, selalu mengembalikan gue kepada dua pertanyaan besar yang seringkali gue tanyakan dalam hati. Apa yang gue cari? Dan, apa yang harus gue temukan?

Apa yang gue cari? Ini pertanyaan simpel, pendek, tapi sejujurnya gue seringkali gagap ketika harus menjawab. Padahal, kalo dipikir-pikir, opsi jawaban kan ada banyak. Uang? Popularitas? Kekuasaan atas sesuatu? Atau apalah, banyak kan? Nah, ini aneh nih. Belum lama ini, pas lagi beresin tumpukan jurnal lama, gue nemu satu tulisan tertanggal 10 September 2015. Begini bunyinya:


Sepanjang hidup, aku berusaha mencari lega. Selama itu pula, aku belajar menyadari, bahwa seringkali kelegaan ada dalam kesederhanaan. Indah dan agung.

Aku lega setiap kali pagi datang kembali. Dan, embun, butir demi butir, masih rela jatuh ke pucuk-pucuk pohon lalu mengalir ke pangkuan tanah. Aku juga lega saat tanah menjemputnya dengan sukacita. Malam memisahkan. Pagi mempertemukan. Maka terpujilah Tuhan, atau dengan istilah apapun namanya kau sebutkan. 

Aku lega setiap kali kembang-kembang mekar kembali. Putik dan helai-helai benang sari bergelora lagi di ujung ranting yang kupikir telah kering dan tangkai yang kupikir telah lunglai. Aku lega karena meski terpatahkan satu, telah tumbuh kembali satu, mungkin aja akan jadi seribu.

Aku lega setiap kali bayi-bayi lahir ke dunia dan para ibu berbahagia. Aku pun lega saat tiba waktunya bagi yang melepaskan diri mereka satu persatu tanpa beban setelah berjuang panjang di medan kehidupan.

Aku lega setiap kali aku menikmati kesempatan untuk melihat wajah-wajah dari semua yang kusayang. Ada yang kekal di sana. Terekam dan tidak hilang. Hela napas mereka, senyuman kecil saat mereka terlelap di tengah mimpi indah. Pelukan-pelukan yang singkat namun cukup untuk menjembatani kerinduan.

Sederhana, bukan? Sekarang bercerminlah ke langit dan lihatlah. Keindahan dan keagungan memantul di wajahmu. Itu cukup.


Itu. Tulisan macam apa itu. Waktu menulis itu, gue gak yakin gue sendiri paham maknanya. Sekarang pun, entah. Tapi, untuk sementara waktu, mungkin tulisan ini bisa menjawab dua pertanyaan tadi. Apa yang gue cari? Mungkin kelegaan. Apa yang harus gue temukan? Mungkin kesederhanaan

Sekian dulu tentang pengalaman spiritual sayah sebelum lebih aneh lagi. Omong-omong, kalau beneran ngerasa ini tulisan yang aneh, gue udah wanti-wanti dari awal ya, namun ya namun lo masih baca sampe sini, beb. Ya mau gimana.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (13)

Kamu kelihatan lelah, tapi tetap senyum seperti biasa. Ketika kamu datang, ada dua ekor kupu-kupu yang mengikuti kamu. Kita berdua sedang di atas bukit, di depan sana ada sehampar padang ditumbuhi ilalang. Hari sepertinya sore dan gerakan-gerakan ilalang ditiup angin bagai mencari-cari ke mana matahari akan pergi.

Kita gak banyak bicara. Kamu punya banyak beban di dalam pikiran yang gak terkatakan. Kalau pun terkatakan, aku gak tau aku bisa bantu apa. Aku memandangi kamu. Aku selalu suka memandangi kamu. Tiba-tiba aku senyum-senyum sendiri. Kamu sadar, terus nanya kenapa aku senyum.

“Gak tau.” Karena gak puas sama jawabanku, kamu nanya lagi, “Kenapa?” Aku jawab dengan jawaban yang sama lagi, tanpa bermaksud iseng ataupun becanda. Aku memang gak tau. Terus kamu kelitikin aku karena kamu tau aku gelian. Sebel, capek, karena akhirnya jadi kejar-kejaran.

“Kenapa? Jawab.”

“Gak tau.”

“Jawab gak!”

“Ya udah. Emang gak boleh?”

Kamu diam. Kita berhenti kejar-kejaran. Aku juga diam. Beberapa menit dalam diam yang rasanya sangat awkward. Terakhir, kamu cuma bilang, “Kamu jawab pertanyaan dengan pertanyaan.”


Gue kebangun. Ada suara ambulans.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (12)

Kamu sering bersenandung. Aku gak tau lagu apa, tapi selalu lagu yang sama. Aku penasaran banget mau tanya itu lagu apa, tapi selalu mengurungkan niat. Mengingat bahwa selama ini sepertinya kamu selalu bisa baca pikiranku, seandainya kamu mau kasih tau itu lagu apa, kamu pasti bakal langsung kasih tau. Sekarang, kamu gak ngomong apa-apa. Yaudah.

Kita sama-sama gak pernah tau kita ada di mana. Kita berpindah-pindah tempat. Kali ini, kita ada di bawah pohon tua yang besar, gagah, berdiri tegak di tengah sehampar ladang yang luas. Malam sedang terang-terangnya. Sedari tadi aku mendengarkan kamu bersenandung dari kejauhan. Aku memejamkan mata dan menikmati suara kamu. Kamu memanggil namaku, aku menoleh waktu kamu menunjuk ke langit di belakangku. Aku melihat ke sana, ternyata kamu menunjuk bulan. Kamu tau aku suka bulan.

Di setiap mimpi di mana kamu ada, aku selalu merasa kita dekat meskipun selalu berjarak. Aku tau kamu cuma sekadar mimpi, tapi kamu lebih nyata daripada banyak hal lainnya yang aku tau. Kamu di sana, kita saling berpegangan tangan, tapi yang bisa aku rasakan cuma hangatnya. Gak perlu bahasa yang sama untuk bisa bikin kita saling mengerti, kita cuma perlu saling melihat hati. Kita saling melihat hati, tanpa aku perlu bilang, kamu tau aku suka bulan.

Aku sedang memandangi bulan yang penuh dan terbakar merah malam itu, sebelum tiba-tiba kamu menyentuh lenganku dengan tangan kamu yang selalu hangat seperti biasanya. Menyentuh sebentar, terus udah. Kita menghabiskan beberapa waktu memandangi bulan sama-sama, tanpa ada yang bicara.

Aku bertanya-tanya, gimana kalau suatu saat nanti kamu gak lagi muncul di mimpi-mimpi kayak gini. Seandainya aku bisa merekam semua mimpi di mana kamu ada sehingga jadi satu film, aku yakin bakal nonton ulang film itu berkali-kali setiap kali aku kangen kamu. Iya, aku mungkin bakal kangen sama kamu.

Kamu bilang, “Kita masih punya waktu, walaupun banyak atau sedikit itu relatif, tapi cukup.” Aku gak ngerti apa maksudnya. Kamu kayaknya beneran bisa baca pikiran. “Ada dua orang lagi.” Aku, lagi-lagi gak ngerti.

Tau-tau, bangun-bangun, nangis.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (11)

Daripada gue gila, yaudah gue tulis aja.

Kita bertengkar di mimpi semalam. Aku tau ini cuma mimpi, tapi rasanya gak enak. Kayaknya aku lebih pilih bertengkar di dunia nyata ketimbang ini. Berawal dari pasar malam.

Kita ke pasar malam. Ramai banget. Aku tertarik dengan banyak hal yang ada di sana. Warna-warni, orang-orang yang bentuknya berbeda-beda. Pakaiannya belum pernah kulihat sebelumnya. Lalu, kamu menggenggam tanganku, kamu takut aku hilang atau kesasar. Aku nurut aja, karena kamu yang lebih tau tempat ini. Hari itu dingin, cerah tapi berangin. Tangan kamu hangat.

Kita berhenti di perempatan karena kamu ketemu dengan orang-orang yang kamu kenal tapi aku gak kenal. Aku melihat seorang ibu di seberang jalan sedang kesusahan membawa barang-barangnya yang banyak sekali. Aku nyeberang demi membantu ibu paruh baya itu. Jalanan ini ternyata lebih lebar dari dugaanku. Mobil-mobil berlalu-lalang cepat sekali, tapi akhirnya aku sampai di seberang. Ibu-ibu tadi sudah gak ada, entah ke mana. Aku memutuskan berkeliling sebentar karena tertarik dengan tempat itu.

Ada patung yang besar dan tinggi di sana, kepalanya dihinggapi burung hantu yang warnanya cerah dan tidak biasa. Ketika aku sedang menikmati keindahan patung tua itu, tiba-tiba kamu muncul entah dari mana. Kamu menarik dan memegang tanganku kencang sekali. Kamu marah karena aku tiba-tiba ngilang. Di situ kita bertengkar. Kita berdua bilang hal-hal yang kita sesali kemudian.

Sepanjang jalan pulang, aku cuma diam. Kamu pun diam. Sebelum akhirnya kalimat terakhir kamu yang aku ingat, “Jangan ke mana-mana lagi.”

Ok. Gue kebangun sambil ngomong sendiri, “Ok.”

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.