Gue mengimani “Tak Kenal Maka Tak Sayang” karena inilah yang terjadi kepada gue baru saja. Ini soal teman baru gue yang bernama Kaje. Namanya aneh memang, ya udahlah, orangnya juga kok. Jadi, namanya dan kepribadiannya, memang cocok. Kami berkenalan lewat surat elektronik karena satu pekerjaan yang mungkin akan dikerjakan bersama. Itu. Lalu berlanjut melalui messenger. Belum ada keanehan apa-apa sih dari perkenalan dan obrolan-obrolan awal. Iya. Rasanya sih belum. Sampai kemudian kami janjian untuk ketemuan di satu studio di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Sebelum gue bercerita panjang lebar, mungkin ada baiknya gue memperkenalkan lo dengan Si Kaje. Karena kalau gak kenal, gak bakal sayang, bukan? Baiklah. Si Kaje adalah pria Ambon-Kediri, dan dikenal sebagai rapper, seniman kata-kata, seniman ritme. Beliau ini Aries tulen, lahir 8 April 1980. Si Kaje ini punya banyak banget penggemar. Gila-gilaan. Jelas aja. Tampangnya ganteng, badannya tegap calon bikin lo klepek-klepek dan minta dilindungin banget, wawasannya luas, plus ngobrolnya asik. Kebayang? Okay.

Jalanan macet parah hari itu dan gue harus menghabiskan kurang lebih dua jam perjalanan dari Karawaci ke Tanah Abang. Gila. Durasi perjalanan ke Tanah Abang udah hampir sama kayak ke Bandung. Alhasil, gue telat sejam dari waktu yang ditentukan. Sesampainya di tempat pertemuan, pas banget Kaje telepon gue. Gue meminta maaf sebesar-besarnya dan untung (kedengarannya di telepon) Kaje gak marah, malah langsung ngajak makan di salah satu kedai di sekitaran studio. Gue bergegas menuju tempat yang dimaksud.
Kita ketemuan akhirnya. Kaje gayanya santai banget. Basic tee. Celana training. Sneakers. Topi khas berjahit simbol +62. Ransel. Semua dalam nuansa abu-abu hitam. Semuanya santai dan asik banget. Kecuali, satu hal. Keanehan pertama. Gerak-geriknya sangat buru-buru. Maka, melihat itu, gue langsung meminta maaf lagi karena gue sejujurnya takut telatnya gue membawa bencana buat jadwalnya Kaje. Ternyata, Kaje pun baru banget kelar latihan yang juga ngaret, dan keterburuannya cuma karena laper aja kepingin makan. Okay.
Gue dan Kaje sama-sama gak makan nasi, akhirnya kita cuma pesan semacam cemilan tiga porsi berisi sayuran, telur, dan tahu yang dimakan berdua sambil bercakap-cakap. Buat ukuran cemilan doang dan buat ukuran sesi ngobrol dengan orang yang baru dikenal, banyak ya. Tapi, ternyata pertemuan yang gue pikir gak bakalan lebih dari setengah atau satu jam, akhirnya berlangsung selama lima jam. Lima jam. Banyak hal yang kita omongin. Mulai dari ngomongin kerjaan, hobi nulis, sampai cita-cita. Banyak dan kalau gue tulis semua di sini, entah bisa berapa halaman. Nanti lah, dalam post yang lain, dan terutama kalau ada kesempatan ketemu Kaje lagi, bakal gue ceritain hal-hal yang menarik tentang obrolan gue bersama Kaje (karena gue yakin akan selalu ada cerita menyenangkan untuk ditulis kalau udah bicara soal Kaje). Namun, sepanjang percakapan berdurasi kalau-ditambah-sejam-lagi-setara-dengan-gue-ngetake-vocal-satu-lagu-plus-ngetake-backing-vocal-sebanyak-empat-puluh-delapan-track-untuk-lagu-yang-sama-udah-termasuk-dibalance-untuk-kemudian-dibounce-bawa-pulang-lalu-dipelajarin-untuk-direvisi-lagi-minggu-depan-cape-banget-serius (jadicurhatkan!) itu, gue memerhatikan keanehan lainnya dari Kaje.
Keanehan kedua. Si Kaje ini, idenya banyak banget. Lagi-lagi, gila-gilaan. Obrolan kita tentang satu ide bakal melahirkan ide-ide lain dan begitu terus. Mengutip pernyataannya Kaka Slank soal Kaje, “Nih anak, dari air mukanya aja, ini (anak) smart boy.” dan emang bener. Melalui Kaje dan gak butuh waktu banyak, satu ide bisa beranak cucu dan bertambah banyak dan memenuhi bumi. Okay.
Ternyata, semakin larut hari itu, keanehan demi keanehan malah semakin bermunculan. Ketiga. Soal Kaje yang gak pernah nangis sejak 19 tahun sampe sekarang usianya 35 tahun. Keempat. Soal Kaje yang katanya waktu kecil belajar bahasa Inggris cuma dari nonton acara anak-anak dan acara musik di TV tapi ya kok jago banget dan fluent banget. Kelima. Soal Kaje yang kadang-kadang sikapnya nyebelin dan kelihatan sombong, tapi bisa juga super-ramah dan tebar-tebar senyum ke-tora-sudiro-annya itu. Keenam. Terlanjur udah kesebut soal senyumnya yang mirip senyum Tora Sudiro, keanehan terakhir ini adalah soal Kaje yang mukanya rada mirip Manny Pacquiao. Nah, coba dibayang-bayangin aja, kurang aneh apa kalau gue sebut dalam diri satu orang ada sebagian Tora Sudiro dan sebagian Manny Pacquiao di situ. Aneh kan.

Ah. Tadinya gue buka laptop, niatnya mau ngeblog serius, eh jadi ngomongin orang. Ngomongin Kaje pula. Ya sudahlah, cukup dulu malam ini. Semoga malam ini, ngomongin orang kali ini, gue gak dosa-dosa amat ya.
ps.
Maaf. Foto Si Kaje di atas gue curi dari sini. Akibat terlalu seru ngobrol, gue lupa foto. Sekali lagi, maaf, saya curi-curi, masnya. Abis fotonya lucu yang ini. Jago deh masnya yang fotoin (Dasar penjilat kamu, Oendari!).