Tentang “Akhirat: A Love Story”

Setelah nabung menulis sedikit demi sedikit selama beberapa waktu belakangan, ini yang akhirnya bisa gue rangkum tentang “Akhirat: A Love Story”.

Timur & Mentari dalam “Akhirat: A Love Story”

JUDULNYA pake KATA “AKHIRAT”. FILM HOROR?

Bukan. Google sih menyebut genre film ini Drama/Fantasy. Lagian, judul lengkapnya adalah “Akhirat: A Love Story”. Ada cerita cinta di dalamnya.

Di Twitter, sempat ada banyak komentar soal topik cinta-beda-agama Atau nikah-beda-agama yang ada di film ini. Emang bener filmnya tentang itu?

Kemungkinan besar pertanyaan ini muncul dari para penonton trailer resmi “Akhirat: A Love Story” yang belum sempat nonton filmnya. Trailernya, ini.

AKHIRAT: A LOVE STORY | OFFICIAL TRAILER

Perihal cinta-beda-agama atau nikah-beda-agama memang jadi salah satu permasalahan yang hadir di dalam film “Akhirat: A Love Story”. Tapi, kalau gue ditanya, “Apakah filmnya tentang itu?” … Hmm, gue akan menjawab: bukan.

Kalau gitu, tentang apa dong?

Ini jawaban resmi dari Studio Antelope dan Pak Jason Iskandar, sutradaranya. Film “Akhirat: A Love Story” bercerita tentang sepasang kekasih bernama Timur & Mentari, diperankan oleh Adipati Dolken & Della Dartyan. Mereka memiliki banyak perbedaan, salah satunya perbedaan agama. Dan, di alam raya Indonesia ini, tipe hubungan yang dijalani Timur & Mentari ini mendapat banyak tentangan, termasuk dari keluarga.

Pada suatu malam yang sangat spesial (untuk mengetahui sespesial apa, ya baiknya nonton aja), mereka berdua malah mengalami kecelakaan. Sejujurnya, gue kesel banget. Padahal, harusnya malam itu spesial. Anyway, selepas kecelakaan tersebut, terbangunlah Timur & Mentari di sebuah “dunia fantasi” bernama Akhirat, di mana Timur & Mentari, ironically, malah menemukan kesempatan untuk bisa bersama selamanya, kondisi yang hampir mustahil untuk mereka alami di dunia nyata. Dunia memisahkan, Akhirat malah mempertemukan.

Timur & Mentari dalam “Akhirat: A Love Story”

Ini adalah film petualangan Timur & Mentari menjelajah “dunia fantasi”, yang isinya gak cuma mereka berdua, tapi juga ada karakter-karakter menarik lain yang punya cerita masing-masing, yang muncul di tengah pencarian Timur & Mentari akan jawaban atas pertanyaan, “Apakah Timur & Mentari pada akhirnya bisa bersama selamanya?”.

Lalu, ini jawaban personal dari gue. Film “Akhirat: A Love Story” adalah rekaman perjalanan dua orang bernama Timur & Mentari ketika mereka (atau jangan-jangan gue juga?) secara sadar-gak-sadar mencari jawaban atas pertanyaan: “Hidup (dan hubungan) yang rasanya faktap dan gak ada ujungnya ini akan ke mana sih?”

Dan, setelah menonton filmnya sebanyak puluhan kali dalam jangka waktu kurang lebih tiga bulan dalam keterlibatan gue di dalam film ini, jawaban yang gue temukan atas pertanyaan tadi adalah:

“Hidup, ujungnya akan ke mana? Akan ke satu pecahan momen kecil dalam semesta mahabesar, di mana elo bisa menyimpulkan bahwa ternyata hidup adalah tentang mengoleksi kenangan dari berbagai pertemuan yang pernah terjadi, dialami, dan nyata. Maka selagi ada kesempatan, hargai pertemuan dengan cara yang terbaik yang bisa diusahakan.”

Gimana awalnya keterlibatan Oendari di soundtrack film “Akhirat: A Love Story”? Gimana prosesnya? Apa tantangannya? Ada momen berkesan?

Nah, ini panjang. Gue ceritain di tulisan selanjutnya ya. Kayaknya lebih asik kalau sambil ngebedah satu-persatu lagu yang ada di album soundtrack “Akhirat: A Love Story” kali ya?

Untuk sementara, bisa nonton ini dulu. Di sini, gue dan Iponk menceritakan apa-apa yang ada di balik pembuatan soundtrack film “Akhirat: A Love Story”:

Di Balik Pembuatan Soundtrack – Akhirat: A Love Story Featurette on YouTube
Apakah Timur & Mentari terpisah? Atau mereka bahagia selamanya?

Mohon diingat-ingat, Timur & Mentari udah terpisah dari awal.

Dari beberapa menit pertama film ini pun, elo akan bisa menerka seberapa jauh terpisahnya Timur & Mentari. Buat yang udah nonton dan masih ingat adegan pertama di mana Timur & Mentari ketemu dalam sebuah reuni, apakah ingat juga bahwa Timur & Mentari diam-diam bergandeng tangan di bawah meja? Seingin itu bersentuhan, tapi sedemikian terbiasa sembunyi-sembunyi. Pacaran, tapi berjarak. Itu baru di awal film.

Kisahnya berjalan, kemudian semakin terlihat Timur & Mentari memang terbiasa dengan canggungnya perpisahan. Ada banyak hal yang tertahan di balik percakapan mereka, ngambeknya Mentari, perasaan-perasaan yang gak terkatakan, kebingungan Timur, dan segala peristiwa lainnya di dalam film ini. Banyak hal tertahan karena satu alasan: terbiasa dengan canggungnya perpisahan.

Kurang canggung apa, kalau dalam sebuah hubungan, perpisahan sudah terjadi sejak awalnya? Perpisahan yang Timur & Mentari punya adalah selebar jarak antara dua agama, dua latar belakang keluarga, dua cara mikir yang berbeda. Itu baru sedikit sebelum sekian banyak yang rumit kemudian, yang bikin dua orang ini seakan-akan sudah harus siap kehilangan sebelum betul-betul memiliki.

Lalu, sampailah Timur & Mentari pada satu titik di mana mereka punya kesempatan untuk menjembatani jarak yang ada, yaitu dengan memilih. Di momen itulah, upaya Timur & Mentari melawan semua jarak yang ada di tengah mereka baru terlihat jelas. Pilihan-pilihan yang ada punya kesulitan dan konsekuensinya masing-masing, tapi yang namanya cinta … ya diperjuangkan. Ah, selebihnya, nontonlah. Kalau gue ceritain di sini, antara gue jadi auto-mellow, atau malah nyebar spoiler.

Timur & Mentari dalam “Akhirat: A Love Story”

Dan, menyoal “bahagia selamanya”, sekiranya film ini punya lanjutan cerita pada masa depan, gue rasa (dan gue harap) iya, mereka bahagia selamanya. Lagi-lagi, cuma karena satu alasan, tapi kali ini, alasannya: cinta selamanya.

Sad ending? Atau happy ending?

Tergantung gimana elo memaknai sad dan happy. Selepas gue menonton menit-menit terakhir dari “Akhirat: A Love Story”, gue berbahagia, meskipun dengan eyeliner yang udah beleber ke mana-mana.

Semakin gue merenungi kisahnya Timur dan Mentari, semakin gue yakin, bahwa kesedihan gak selalu termanifestasi dengan ekspresi depresif tingkat tinggi dan air mata yang meluber berdeburan. Begitu pula sebaliknya, percakapan yang dipenuhi haha-hihi dan banyak tawa juga belum tentu berarti bahagia. Nontonlah, mungkin lo akan paham yang gue maksud barusan.

Di film ini, “Akhirat: A Love Story”, Iponk dan gue menemani kalian sepanjang nonton, sedih, seneng, sedih, seneng bergantian sampai menit dan detik terakhir. Literally, sampai menit dan detik terakhir. Sampai tirai-tirai pintu dibuka lagi dan lampu bioskop nyala lagi, sampai kalian selesai nangis, kami setia menemani. Semoga kalian setia menikmati.

Dan, selamat nonton “Akhirat: A Love Story”. Tepat hari ini, 02.02.2022, “Akhirat: A Love Story” sudah tayang di Netflix. Buat yang gak kebagian nonton di bioskop beberapa bulan lalu, ini saatnya kamu nonton. Kemarin di Instagram juga sempet ada yang bilang udah nonton di bioskop beberapa kali tapi kepingin nonton lagi untuk kesekian kali, ya, silakan. Seneng sekali kalau banyak yang menantikan film ini. Ini untuk kalian yang pernah merasakan jatuh cinta, harus terpisah, mengalami kehilangan, namun menghargai pertemuan. Selamat terbuai dalam helai demi helai kenangan.


UNTUK TEMAN-TEMAN PERS / MEDIA,

Berikut ini press kit yang bisa diunduh, berisi informasi lengkap mengenai karya ini:

[PRESSKIT] Akhirat: A Love Story, dramatis berbalut musik romantis
kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Sanubariku

Canti Tachril berhasil bikin Saya bengong. Dengan cara yang terdengar effortless, Canti mengutarakan dua kata yang tepat menjelaskan apa yang Saya jalani selama kurang lebih tujuh tahun terakhir: mengejar ketenangan.


STOP KERJANYA. PASANG TELINGA. BUKA HATI.

Pertama kali Saya mendengar lagu ini adalah ketika Ivan Gojaya, alias Ivan Iponk, yang didapuk sebagai music produser dan mixing engineernya, sedang preview mix untuk dikirim ke studio mastering. Waktu itu, Saya duduk di sofa studio, nemenin Iponk kerja sembari ngurusin tulisan yang lagi Saya develop.

Awalnya, Saya terlarut dalam apa yang Saya kerjakan. Setiap nemenin Iponk di studio, Saya biasanya gak sengaja curi-curi dengar sepotong-sepotong saja dari lagu yang sedang beliau kerjain. Toh, Saya pun sibuk berkonsentrasi menyeimbangkan jari-jemari supaya kalaupun harus ketak-ketik keyboard laptop, gak terlalu berisik dan gak terlalu ngeganggu yang sedang mixing. Sampai akhirnya, pada ujung proses mixing, Iponk play satu lagu ini dari awal sampai selesai. Di situlah, …

Di situlah, tangan Saya berhenti bergerak. Tubuh kehilangan kontrol. Dari seluruh ujung kaki sampai ujung kepala, seakan-akan yang berfungsi cuma telinga sama otak. Kedua mata Saya perlahan menutup. Ada dingin yang hangat, panas yang sejuk, suhu yang sulit dijelaskan, mengalir dengan pelan-pelan seperti udara yang berbisik di depan liang telinga, “Stop kerjanya. Pasang telinga. Buka hati.”

Saya terdiam selama tiga menit dan lima puluh sekian detik. Lalu, air mata jatuh sendiri.

Sebuah Lagu Berjudul Sanubariku.

Lagu ini dimulai dengan permainan piano yang berani dari Juan Mandagie. Melanjutkan kerjasama yang sudah terjalin dengan baik pada produksi musik dan lagu untuk film Akhirat: A Love Story, Ivan Iponk menunjuk Juan Mandagie sebagai pilihan yang paling tepat untuk menerjemahkan lagu ini lewat piano dan aransemen strings. Juan Mandagie membuka “Sanubariku” dengan ketegasan yang semacam menyatakan bahwa ini sebuah balada.

Tidak lama kemudian, ada suara yang menunjukkan diri. Itu Canti memulai ceritanya. Canti, yang tidak sempat berpijak, terhanyut dalam lamunan, dan menanti-nanti harapan yang hilang di khayalannya. Mendengarkan Canti bercerita tentang kerapuhan melalui lagu ini, rasanya kayak mendengarkan diri sendiri ketika menaikkan doa kepada Yang Maha Semesta. Kecil di hadapan yang Maha Besar.

Ketika dalam kesendirian dan penantian, apa yang harusnya terasa biasa-biasa saja, memang bisa terasa berbeda, seperti penggambaran Canti dalam bait yang ditulisnya. Biru langit ternyata bisa menciptakan pilu. Sunyi malam terasa menderu. Semuanya bisa tiba-tiba intens.

Tidak cuma melalui lirik, intensitas lagu yang bagi Saya terdengar seperti doa ini, pun digambarkan dengan riuh namun indah melalui aransemen strings yang diciptakan Juan Mandagie dan ditempatkan Ivan Iponk mulai dari bagian favorit Saya, berlanjut ketika lagu ini mencapai puncaknya, kemudian surut bersama dengan selesainya lagu ini. Strings quartet, yang terdiri dari Mario Lasar, Sean Jethro, Akira Desmond, dan Jonathan William Abraham, mengiringi khidmatnya kata demi kata yang dinyanyikan oleh Canti.

Gamaliel Tapiheru, yang didapuk sebagai vocal director untuk lagu ini, juga memegang peran yang sangat krusial dalam menciptakan aransemen vokal yang, – haduh, speechless – entah apa ada istilah lain yang lebih tepat selain: ajaib. (Omong-omong, Saya dan Iponk memang pernah ngobrol santai tentang Gamal. Kami sepakat bahwa Gamal adalah salah satu penyanyi yang suaranya sangat, hmmm, surgawi.)

Coba dengarkan sendiri melalui link ini: Canti Tachril – Sanubariku; semalam sudah rilis di semua Digital Streaming Platform dan masih Saya repeat sampai saat ini. Wah, intens banget nih lagu.

Canti Tachril – Sanubariku on Spotify

Dengar-dengar gosip was-wes-wos, lagu ini ditulis ketika Canti sedang dalam kondisi terisolasi dalam masa penyembuhannya dari Covid tahun 2021 lalu. Ah, kesendirian memang paling-paling. Paling apa? Paling bisa bikin orang menemukan kembali apa yang sebelumnya terlupa atau dikira gak ada.

Lantas, apa yang Canti temukan ketika menulis “Sanubariku” dalam kesendiriannya? Kelihatannya, sama seperti apa yang Saya cari-cari selama ini dan kemudian (kayaknya sudah) Saya temukan kurang lebih satu-dua tahun lalu.

Matahari Dan Perihal Mengejar Ketenangan.

Saya baru berkenalan dengan Canti ketika preliminary meeting lagu “Sanubari” diselenggarakan di studio. Sebelumnya, gak kenal sama sekali. Bahkan, dari obrolan hari itu, kami baru tau bahwa kami satu kampus pas kuliah. Tentu, Canti pun gak tau bahwa Saya punya keterikatan khusus dengan “matahari”. Dan, itulah kenapa bagian chorus lagu ini, di mana Canti menempatkan kata “matahari”, jadi spesial buat Saya. Kenapa?

Baiklah. Melompat mundur ke tahun 2020. Alkisah, pada suatu hari yang ditentukan oleh Semesta, bertemulah Saya dengan seorang … ah, sebut saja Si Om. Saya gak kenal Si Om. Si Om pun gak kenal Saya. Kami hanya dipertemukan oleh Waktu. Lalu, kenapa pertemuan yang random ini Saya ceritakan? Karena berkesan.

Sebelum ketemu Si Om, Saya gak merasa ada yang istimewa dari Matahari. Matahari terbit, membakar diri sehingga bumi kecipratan hangatnya, lalu terbenam. Itu sudah. Setiap hari. Apa istimewanya?

“Sepanjang hidup, hujan akan ada banyak. Namun, cuma butuh satu Matahari, semua akan terang lagi.”

Itu kalimat Si Om yang Saya ingat sampai sekarang. Awalnya, Saya sok ngerti, tanpa betul-betul paham apa makna terdalam dari kalimat sesederhana itu. Lah, ternyata dalem banget. Si Om sempat menceritakan dengan sangat singkat: satu sosok istimewa yang dia ibaratkan seperti matahari. Sebut saja dia Si Pemuda.


Alkisah dalam alkisah, Si Pemuda ini pernah membela seorang perempuan yang dianggap oleh masyarakat sebagai perempuan cela. Padahal tanpa ikatan emosional, tanpa hubungan romantis apa-apa. Kenal pun enggak.

Perempuan cela yang cemas dan tersakiti secara mental itu hampir diamuk warga karena kedapatan berzinah. Si Pemuda, yang kebetulan lewat di daerah tersebut, pas tau situasi yang sedang terjadi, langsung merangsek ke tengah kerumunan warga yang sudah hampir merajam perempuan itu. Si Pemuda berdiri di tengahnya dan menghalangi Perempuan itu dari amukan warga. Si Pemuda menulis sesuatu di tanah, dan bilang, “Siapa yang merasa hidupnya paling bener, gak ada dosa, gak pernah bikin salah, silakan jadi yang pertama ngelempar batu.”

Setelah satu kalimat singkat itu, keributan mereda lalu perlahan bubar. Sang Perempuan bingung. Si Pemuda hanya bilang pada Perempuan itu, “Udah. Elo pergi. Mulai sekarang, jangan aneh-aneh lagi,” Gak semua orang paham sama kelakuan Si Pemuda. Namun, Saya rasa, hampir pasti hidup Perempuan itu gak sama lagi setelah kejadian hari itu. Lama gak kedengeran lagi, tau-tau ada kabar: Si Pemuda itu dihukum mati karena kesalahan orang lain.


Si Om kedengarannya sangat mengagumi sosok Si Pemuda. Pahlawan sejati, baginya. Melihat kekaguman yang sebesar itu dan bagaimana Si Om mengibaratkan Si Pemuda itu seperti matahari, … ah, hidup Saya pun gak sama lagi. Iyalah, wong akhirnya, sampai ada satu lagu yang khusus Saya tuliskan mengenai ini. Namun, baiklah, Saya ceritakan lain waktu.

Belakangan, setiap Saya mulai cemas karena banyak perintilan dalam hidup, Saya teringat Si Om, teringat Si Pemuda, dan teringat Matahari. Sambil berharap bahwa, sama seperti terhadap Perempuan dalam cerita itu, akan ada sosok yang datang tepat waktu, memeluk kecemasan Saya dengan rela dan mengubahnya menjadi ketenangan.

Entah apa yang sebenarnya sedang dirasakan Canti ketika menuliskan bagian chorus dari lagu “Sanubariku” dan menempatkan kata matahari di situ. Saya gak tau. Namun, ketika Canti menutupnya dengan “Dalam kehilangan, kaulah tempatku pulang,” Saya teringat Si Pemuda. Di situlah, Saya menitikkan air mata.

DUARR! ADA VIDEO KLIPNYA.

Saya gak akan cerita lebih banyak lagi karena tulisan ini kayaknya udah panjang banget. Singkatnya, setelah apa yang Saya alami ketika pertama kali mendengar lagu “Sanubariku”, video klipnya bikin Saya merinding. Silakan nonton aja sendiri, selamat mengejar ketenangan, dan semoga menemukan tempat pulang. Ini:

Canti – Sanubariku (Official Music Video)

“Sanubariku” / Performed by Canti Tachril / Music Producer: Ivan Gojaya / Vocal Director/Producer: Gamaliel Tapiheru / Songwriter: Canti Tachril / Piano & Strings Arrangement: Juan Mandagie / Violin 1: Mario Lasar / Violin 2: Sean Jethro / Viola: Akira Desmond / Violoncello: Jonathan William Abraham / Strings Engineer: Michael Septian Wahyudi / Mixed by: Ivan Gojaya at ROEMAHIPONK Music Studio / Mastered by: Chris Gehringer at Sterlingsound / All tracks recorded & produced at ROEMAHIPONK Music Studio

“Sanubariku” Music Video by Pincster / Talent: Canti Tachril, Aldafi Adnan, Mario Lasar, Jonathan William Abraham, Juan Mandagie / Produced by: Christabel Fortunatus / Directed by: Rein Maychaelson / Line Producer: Lisa Victory / Director of Photography: Leontius Tito / Choreographed by: Davit Fitrik / Make-up Artist: Dorothea Toemon / Hairdo: Yasmin Raudatul Jannah / Wardrobe: Fadillah Putri Yunidar / Dress: Jeffry Tan


Di tengah menulis ini, Banten digoyang gempa. Ya ampun. Betapa kita memang kecil di hadapan yang Maha Besar. Digoyang dikit langsung ketar-ketir. Ya udah, berdoa aja. Semoga semua dilindungi oleh Yang Maha Semesta.

UNTUK TEMAN-TEMAN PERS / MEDIA,

Berikut ini press kit yang bisa diunduh, berisi informasi lengkap mengenai karya ini:

[PRESSKIT] Canti Tachril Menapaki Karier LEWAT LAGU Sanubariku

Agustin Oendari adalah seorang penulis lagu dan penyanyi yang mengawali karier pada 2014 dengan menulis dan menyanyikan lagu Selamat Pagi Malam untuk film berjudul sama karya sutradara Lucky Kuswandi. Lagu tersebutlah yang pertama kali mempertemukan Oendari dengan pendengar setia yang terus mendukungnya hingga melalui beberapa rilisan untuk film-film lain, seperti Galih & Ratna, satu lagi karya sutradara Lucky Kuswandi, dan Susah Sinyal, karya sutradara Ernest Prakasa.

Rilisan-rilisan Oendari yang lain pun telah mendapat perhatian khusus dari berbagai streaming platform dan media, antara lain: LHSW yang sempat menjadi bagian dari banner utama aplikasi JOOX pada masa rilisnya dan juga disiarkan di berbagai media musik ternama, seperti Billboard Indonesia dan Pophariini; Bend Down dan Selamat Pagi Malam yang berada di deretan nominasi AMI Awards ke-22; dan beberapa lagu dalam album soundtrack Galih & Ratna yang mendapatkan kesempatan spesial JOOX Concert Galih & Ratna tahun 2017, seperti Hampir Sempurna, yang ditampilkan oleh Rendy Pandugo, Song Of Goodbye, yang ditampilkan oleh Ivan Gojaya yang juga adalah produser dari hampir seluruh karya Oendari, dan lagu-lagu lain yang ditampilkan oleh Oendari, seperti Nyatanya Sementara, Dari Rindu Kepada Rindu.

Selain terlibat dalam berbagai karya kolaboratif sebagai penyanyi atau penulis lagu, Oendari juga sempat berkiprah sebagai vocal director, bekerja bersama musisi dan produser ternama, antara lain Titiek Puspa, Dutacinta, Momo Geisha, Sheryl Sheinafia, dan Steve Lillywhite. Keterlibatan Oendari sebagai vocal director juga terdapat pada lagu Lathi (Weird Genius ft. Sara Fajira), Dunia (Mytha Lestari), A Million Stars (Album Kolaborasi Rising Stars), dan masih banyak lagi. Tahun 2021, Oendari dengan merilis album dari keterlibatannya di dalam sebuah film berjudul Akhirat: A Love Story.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Bintang di Surga

Saya menulis ini di dalam kesendirian malam, hanya berteman “Bintang di Surga”.


Dulu, sebuah album berjudul “Bintang di Surga” milik Peterpan terjual jutaan kopi dan menyabet penghargaan sana-sini. Lagu-lagunya diputer di mana-mana. Radio, televisi, angkot, sampai warnet. Saya sendiri gak pernah beli album fisiknya Peterpan. Bukannya apa, gak punya duit. Namun, memang sehebat itu Peterpan, sampai Saya, yang gak punya albumnya aja, terpapar lagunya dari mana-mana.

Saya, yang pada jaman itu masih anak bocah, gak ngerti sama sekali ketika denger lirik “Bintang di Surga”. Namun, memang patut diakui, Boriel adalah jagoan perihal menulis lagu dan dianugerahi dengan gaya nyanyi yang cuma punya doski. Di bawah terik matahari Jakarta, dengan bersimbah keringat yang aromanya biadab, Saya pulang sekolah jalan kaki sambil humming-humming sendiri. Ah, apalah itu terik matahari kalau kepala sudah terlampau penuh oleh auman Ariel Peterpan, maungnya Bandung.

Omong-omong, sampai sekarang, itu auman gak berubah. Tetap ganas.

Bintang di Surga berikan cerita.

Buat Saya, gak cuma nama yang adalah doa. Setelah makin banyak menulis lagu, Saya pun kini percaya bahwa lagu adalah doa. Dan, yang menyanyikannya terus adalah pendoa yang setia, termasuk Saya.

Saya baru punya album fisik “Bintang di Surga” beberapa belas tahun setelah albumnya rilis. Bahkan, setelah lebih dulu menikmati album “Suara Lainnya”, yang sukses bikin Saya jatuh cinta dan penasaran pada band Bandung yang pada waktu itu menyandang nama Ariel, Uki, Lukman, Reza, David.

CD “Bintang di Surga” baru Saya miliki kemudian, dihadiahi seorang sahabat pada hari ulang tahun Saya yang entah keberapa, Saya juga lupa. Sebut saja Abram Lembono, karena memang itu namanya. Entah beberapa bulan lamanya, dua lagu dari album ini Saya repeat terus untuk menemani nyetir. Salah satunya adalah “Bintang di Surga”. Satu lagi juga ajaib, tapi, ah, Saya bahas nanti saja. Karena, saat ini, Saya jadi punya keterikatan yang lebih spesial sama lagu “Bintang di Surga”. Kenapa?

Karena, nyatanya, Bintang di Surga memang telah memberikan cerita. Setidaknya, buat Saya.

Tidak ingat tahun berapa, tapi semua memang dimulai dari Abram Lembono, yang memberikan Saya CD “Bintang di Surga” yang lama bersemayam di CD player mobil pertama Saya, yang menemani Saya bolak-balik Jakarta-Karawaci selama bertahun-tahun. Seperti yang sudah Saya bilang, track “Bintang di Surga” adalah salah satu lagu di album tersebut yang memang Saya repeat terus sepanjang perjalanan untuk mengiringi Saya nyanyi-nyanyi, sampai akhirnya bunyinya meleyot dan, mau tidak mau, CD tersebut pensiun.

Tidak lama setelah itu, Abram Lembono memperkenalkan Saya dengan sahabatnya dari SMA. Namanya Ivan Gojaya, yang kini sering Saya sebutkan namanya dalam banyak tulisan dengan sebutan Iponk. Mereka sama-sama sekolah di Bandung, lalu merantau ke Karawaci pas kuliah. Kami berkenalan kemudian mengerjakan proyek musik bersama untuk beberapa tahun berikutnya. Band. Salah satu referensi utamanya: Peterpan. Namun, proyek tersebut mangkrak di tengah jalan. Bubar. Kehidupan kami bertiga terpisah ke jalan masing-masing. Abram pindah ke Jakarta. Iponk semakin sibuk dengan studionya. Dan, Saya, ya gitu-gitu aja.

Lalu, tibalah tahun 2014. Saya kembali dipertemukan dengan Iponk oleh satu proyek film layar lebar yang terbilang tiba-tiba. Pada tahun yang sama, Abram Lembono juga tiba-tiba hadir kembali dengan membawa satu proyek dari Musica Studio’s, proyeknya Eyang Titiek Puspa. Entah kenapa, kami bertiga dikumpulkan kembali oleh hidup. Sebagian dari kita mungkin menyebutnya dengan istilah: kebetulan.

Dalam proyek Eyang Titiek, Saya menjadi salah satu penulis di dalam salah satu lagu Duta Cinta berjudul “Lagu untuk Bunda”, lagu di mana Abram juga menjadi salah satu komposernya. Selain lagu tersebut, ada banyak lagu lain dalam proyek satu album di mana Iponk menjadi produsernya. Pada hari penandatanganan kontrak di Musica, ternyata sedang ada rekaman Noah dan ada Ariel di sana. “Kapan lagi ketemu Ariel NOAH, foto lah,” demikian pikir Saya. Maka, terukirlah dalam sejarah pribadi Saya: pada suatu hari di tahun 2015, Agustin Oendari, yang pagi itu belum mandi, berfoto dengan Ariel NOAH. Hanya sebatas itu, satu centang untuk bucket list Saya yang super sederhana. Done.

Proyek Eyang Titiek berlangsung lebih lama daripada dugaan Saya. Kirain setelah sealbum kelar, udah. Ternyata, lanjut terus ke tahun-tahun berikutnya. Dan, kirain, Saya gak akan ketemu lagi dengan NOAH, ataupun Ariel. Ternyata, Mas Teddy, A&R Musica mempertemukan kami kembali. Lagi-lagi, Saya gak betul-betul ingat proyeknya apa, karena waktu itu, semua berjalan dengan cepat. Yah, hal-hal seru memang seringkali terasa berjalan dengan cepat. Dan, lagi-lagi, sebagian dari kita mungkin menyebutnya dengan istilah: kebetulan.

Pada akhirnya, proyek Eyang Titiek surut seiring berlalunya tahun demi tahun. Abram pun melanjutkan pendidikan keluar negeri. Tersisa Saya dan Iponk yang sampai saat ini bekerja bersama, Saya dan Eyang yang tetap berteman sampai sekarang, dan rekan-rekan Duta Cinta yang selalu bikin rindu. Namun, sudah barang tentu, perjalanan kami dengan Musica terpisah ke jalan masing-masing. Yep. Rasanya, selesai di situ. Sampai pada satu ketika …

Sekitar pergantian tahun 2021 ke 2022 yang lalu, Mas Teddy menghubungi Iponk perihal rencana NOAH merilis kembali album Bintang di Surga. Betapa sebuah panggilan telepon sederhana bisa sedemikian mengagetkan.

Rupanya, oleh Musica, Ivan Gojaya, alias Ivan Iponk didapuk menjadi salah satu mixing & mastering engineer di dalam album “Bintang di Surga” yang dirilis kembali sebagai format yang baru dalam proyek Second Chance. Ada dua lagu dalam album tersebut yang dipoles oleh Iponk, yaitu “Bintang di Surga” dan “Di Belakangku”.

Bersinggungan lagi dengan Musica, dengan Mas Teddy, dengan NOAH, dengan Ariel, adalah sesuatu yang di luar dugaan kami. Kirain setelah proyek Eyang Titiek kelar, udah. Ternyata, … ah, hidup memang aneh.

Saya jadi berpikir, jangan-jangan, apa yang sebagian dari kita sebut sebagai kebetulan, mungkin bukan kebetulan. Jangan-jangan, itu adalah cerita yang diberikan oleh Bintang di Surga, yang Saya nyanyikan sepanjang perjalanan Jakarta-Karawaci; yang tanpa sadar sudah jadi doa yang Saya panjatkan. On repeat.

NOAH – Bintang di Surga (Official Music Video)

Oh! Tadi Saya sempat bilang bahwa ada satu lagu lagi di album “Bintang di Surga” yang menurut Saya juga ajaib. Masih ingat? Lagu itu adalah “Di Belakangku”. Hmm, sebagian dari kita mungkin menyebutnya dengan istilah: kebetulan.

Cerita, dan kasih yang setia, dan cahaya nyata.

Meskipun album ini adalah bagian dari proyek bertajuk Second Chance, apakah berarti “Bintang di Surga” yang kali ini merupakan upaya Noah mengulang cerita kesuksesan Peterpan? Menurut Saya, enggak. Noah menciptakan cerita kesuksesan baru, di alam yang baru, meskipun dengan lagu yang lama. And, it turns out: spectacular.

Mungkin cerita kesuksesan Noah yang kali ini adalah salah satu cerita yang diberikan Surga, seperti yang telah dirapalkan oleh Boriel di dalam liriknya. Seperti yang Saya percaya, siapapun yang menyanyikannya terus, pada suatu waktu yang misterius, akan menemukannya: cerita, kasih yang setia, dan cahaya nyata.


UNTUK TEMAN-TEMAN PERS / MEDIA,

Berikut ini press kit yang bisa diunduh, berisi informasi lengkap mengenai karya ini:

[PRESSKIT] NOAH dan Kesempatan Kedua yang Meriah

Agustin Oendari adalah seorang penulis lagu dan penyanyi yang mengawali karier pada 2014 dengan menulis dan menyanyikan lagu Selamat Pagi Malam untuk film berjudul sama karya sutradara Lucky Kuswandi. Lagu tersebutlah yang pertama kali mempertemukan Oendari dengan pendengar setia yang terus mendukungnya hingga melalui beberapa rilisan untuk film-film lain, seperti Galih & Ratna, satu lagi karya sutradara Lucky Kuswandi, dan Susah Sinyal, karya sutradara Ernest Prakasa.

Rilisan-rilisan Oendari yang lain pun telah mendapat perhatian khusus dari berbagai streaming platform dan media, antara lain: LHSW yang sempat menjadi bagian dari banner utama aplikasi JOOX pada masa rilisnya dan juga disiarkan di berbagai media musik ternama, seperti Billboard Indonesia dan Pophariini; Bend Down dan Selamat Pagi Malam yang berada di deretan nominasi AMI Awards ke-22; dan beberapa lagu dalam album soundtrack Galih & Ratna yang mendapatkan kesempatan spesial JOOX Concert Galih & Ratna tahun 2017, seperti Hampir Sempurna, yang ditampilkan oleh Rendy Pandugo, Song Of Goodbye, yang ditampilkan oleh Ivan Gojaya yang juga adalah produser dari hampir seluruh karya Oendari, dan lagu-lagu lain yang ditampilkan oleh Oendari, seperti Nyatanya Sementara, Dari Rindu Kepada Rindu.

Selain terlibat dalam berbagai karya kolaboratif sebagai penyanyi atau penulis lagu, Oendari juga sempat berkiprah sebagai vocal director, bekerja bersama musisi dan produser ternama, antara lain Titiek Puspa, Dutacinta, Momo Geisha, Sheryl Sheinafia, dan Steve Lillywhite. Keterlibatan Oendari sebagai vocal director juga terdapat pada lagu Lathi (Weird Genius ft. Sara Fajira), Dunia (Mytha Lestari), A Million Stars (Album Kolaborasi Rising Stars), dan masih banyak lagi. Tahun 2021, Oendari dengan merilis album dari keterlibatannya di dalam sebuah film berjudul Akhirat: A Love Story.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

We Never Really Die

Bila aku mati, aku mungkin saja tidak pergi ke surga. Atau tidak juga ke neraka. Aku mungkin hanya tidur, tidur yang sangat panjang, sangat lama. Dan, bila aku bangun, mungkin aku telah menjadi bentuk yang berbeda.

Aku mungkin jadi mimpi. Mimpimu, yang terkenang-kenang, melayang di dalam tidurmu. Aku mungkin jadi cucuran air keran yang jatuh di tanganmu ketika kau bangun pagi dan menggosok gigi. Cucuran air yang leleh, yang mengingatkanmu tentang kita ketika berbagi hujan bersama. Kita juga berbagi terik bersama, dan di situ juga mungkin aku ada. Aku mungkin jadi bias-bias matahari yang menembus jendela kamarmu melalui sela-sela batang perdu.

Aku mungkin tidak pergi ke surga ataupun neraka, nanti ketika aku mati. Namun, aku bisa jadi apa saja dan tetap mencintai kamu dan semua ingatan tentang kamu.


Kehilangan adalah keniscayaan bila kau sedemikian lama memelihara rasa sayang. Namun, kenangan akan menghangatkan hatimu, saat jarak terlanjur menghangatkan pelupuk matamu.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Alkisah Seorang Nenek

Pada suatu ketika, adalah seorang Nenek tua menjalani hari-hari terakhirnya di bumi. Ketika Si Nenek ditanya oleh Sang Waktu, “Nek, Nenek mau ngapain dulu? Jalan-jalan terakhir, ke mana gitu sebelum kita lanjut nih, Nek?” Si Nenek berpikir keras di dalam hatinya, “Iya juga, sebelum lanjut nih perjalanan. Apa ya yang harus disiapin?”


Di sebuah kota berbeda, seorang Ayah sedang kelimpungan mencari Anak Perempuannya yang masih kecil. Si Anak Perempuan hilang waktu mereka pergi ke pasar pagi itu. Si Ayah sedihnya sedih banget. Sudah dicari ke sana kemari, Si Anak Perempuan gak ketemu-ketemu juga.

Tanpa Si Ayah ketahui, Anak Perempuan sedang berjalan-jalan di taman bermain tidak jauh dari pasar. Rupanya, Anak Perempuan ketemu dengan seorang Anak Lelaki sebayanya, yang membawa sepaket kelereng kecil warna-warni yang sungguh menarik hati. Anak Lelaki baik hati itu mengajak Anak Perempuan bermain kelereng di tempat favoritnya di taman bermain. Di taman itu, Anak Perempuan dan Anak Lelaki bertemu dengan anak-anak seusia mereka lalu mereka bergembira bersama.


“Tu.” Nenek memanggil Sang Waktu. “Nenek mau jalan-jalan ngunjungin ketiga cucu Nenek, boleh gak?” Sang Waktu menjawab, “Boleh, Nek. Tapi Nenek kan udah tua nih, cucu-cucu Nenek di luar kota semua. Waktunya gak cukup, Nek.” Mereka berdua berdiskusi panjang, lalu tiba-tiba Sang Waktu punya ide “Oke, Nek. Gimana kalau Nenek dianterin sama aku? Tubuh Nenek di sini aja, kasian, udah tua kan. Hati sama pikiran Nenek aja yang ikut.” Wah, brilian tuh, si Nenek akhirnya setuju. Lalu dimulailah petualangan Nenek dan Waktu.

Cucu Nenek ada tiga. Yang jarak tempuhnya paling dekat, ya Cucu Kedua, yang jaraknya cuma sepelempar batu dari dimensi di mana Nenek dan Sang Waktu berada pada saat itu. “Nek, kita ke Cucu Kedua dulu aja ya.”

Ketika Nenek sampai di sana, Cucu Kedua sedang bermain masak-masakan. Cucu Kedua bermain seru sekali dengan seperangkat dapur mini berwarna-warni dan piring-piring yang terisi. Ada buah, sayur-mayur, nasi hangat, lauk-pauk. “Adek, ayo makan.” Oh, di situ ada boneka kecil, manis, dan lucu, duduk menghadap meja makan mainan yang sudah tertata rapi. Cucu Kedua menyuapkan sendok imajinasi ke bonekanya. “Wah, makannya pinter ya,” Cucu Kedua menirukan suara kedua orangtuanya.

Nenek dan Sang Waktu mengamati sambil senyum-senyum sendiri. Nenek ingin membelai rambut Cucu Keduanya, tapi lupa, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Kedua, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Kedua. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah itu, Nenek dan Sang Waktu melanjutkan petualangan mereka. “Nek, abis ini kita ke Cucu Ketiga dulu ya.”

Perjalanan memakan waktu yang sedikit lebih lama, karena jaraknya lebih jauh. Tapi, akhirnya mereka sampai juga pada sebuah malam. Cucu Ketiga sedang dikelilingi oleh buku-buku dan miniatur pesawat ruang angkasa. Dengan piyama yang terlihat seperti pakaian astronot, Cucu Ketiga menggapai mimpi-mimpinya terbang ke angkasa dan menikmati pemandangan bumi yang indah dari sana. Cucu Ketiga bercengkerama dengan bintang-bintang dan calon-calon meteor siap luncur, yang memancar dari proyeksi lampu tidurnya ala-ala lampu tidur di Tumb*r atau Tokoped*a.

Nenek dan Sang Waktu mengamati sambil senyum-senyum sendiri. Nenek ingin membelai rambut Cucu Ketiganya, tapi lupa lagi, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Ketiga, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Kedua. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah itu, Nenek dan Sang Waktu melanjutkan petualangan mereka. “Nek, abis ini kita lanjut ke Cucu Pertama. Terakhir nih, Nek.”

Di tengah perjalanan menuju ke Cucu Pertama, Sang Waktu mendengar ada suara. Ternyata itu adalah suara seseorang sedang berdoa kencang sekali. “Nek, Nenek denger gak?” Si Nenek celingak-celinguk. “Iya. Siapa ya itu? Doanya kenceng amat.” Mereka menghentikan perjalanan sebentar untuk mendengarkan lebih lanjut. Oh, ternyata itu adalah suara seorang Ayah yang sedang berdoa, hampir putus asa, memohon-mohon supaya Anak Perempuannya yang hilang di pasar segera ditemukan. “Wah, siapa tuh, Tu?” Nenek bertanya kepada Sang Waktu, tapi Sang Waktu diam saja. “Ya sudahlah, Nek, kita lanjut aja dulu.” Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan.

Ketika Nenek sampai, Cucu Pertama sedang mengukur jarak dari kelereng yang satu ke kelereng yang lain sebelum mengarahkannya menuju ke lubang dua meter dari hadapannya. Dengan cermat dan hati-hati, Cucu Pertama menyentil satu persatu kelereng-kelereng itu sampai akhirnya berhasil mendapatkan kelereng incaran milik lawan: sebutir kelereng indah berwarna seperti pelangi sore hari. Nenek dan Sang Waktu mengamati sampai deg-degan sendiri. Namun, ketika Cucu Pertama mendapatkan apa yang diinginkannya, Nenek dan Sang Waktu bahagianya bukan main.

Lagi-lagi, Nenek ingin membelai cucu kesayangannya. Lagi-lagi, Nenek lupa lagi, kan tubuhnya gak ikut. Sang Waktu bilang, “Gapapa, Nek. Nenek kirim doa aja untuk Cucu Pertama, aku bisa pastikan doanya sampai. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran.”

Dengan yakin dan percaya, Nenek mengirimkan doa yang sungguh indah untuk Cucu Pertama. Dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran. Setelah semua doa indah selesai, hati Nenek tenang. Namun, tiba-tiba, Sang Waktu bilang, “Nek, lihat, ada Anak Perempuan.” Tidak jauh dari mereka, ada seorang Anak Perempuan sedang menangis di sebelah Cucu Pertama yang kebingungan dan berusaha menenangkan.


Di sebuah taman bermain sederhana di dekat pasar, seorang Anak Perempuan baru sadar kalau dia gak bisa menemukan Ayahnya. Perasaan cemas, sedih, sokberani-tapi-takut menghantui pikirannya. Seorang Anak Lelaki yang baru selesai bermain gundu mendekati dan berusaha menenangkannya. Anak Lelaki itu baru dikenalnya di pasar. Dia berkata, “Udah, udahh, jangan nangis. Ayah kamu pasti bakal cari kamu kok. Aku temenin kamu ya, sampai Ayah kamu dateng.”

Tanpa diketahui oleh seorangpun, dua sosok mengamati kejadian yang dialami dua anak kecil itu dari kejauhan. Mereka adalah Nenek dan Sang Waktu. Ternyata Si Anak Lelaki adalah Cucu Pertama dari Si Nenek.


“Tu.” Si Nenek berkata pada Sang Waktu, “Kita harus bilang ke Si Ayah yang sedang berdoa tadi, bahwa Anak Perempuannya ada di sini, ditemenin sama Cucu Pertama. Yuk, terakhir, sebelum Nenek pulang nih.” Sang Waktu, tanpa perlu menjawab, mengantar Nenek kepada Si Ayah yang masih terus berdoa, mengirimkan sebuah bisikan doa, “Si Anak Perempuan sedang di taman bermain, ditemani Cucu Pertama saya, menunggu kamu untuk datang dan menemukannya. Ayo, cepat ke sana.”


Di kota itu, pada hari itu, seorang Ayah mencari-cari Anak Perempuannya yang baru saja hilang di pasar. Dicari-cari dari pagi sampai menjelang sore, belum ketemu-ketemu juga. Berjalan kaki ke sana-kemari, lelah, lalu berhenti. Hampir putus asa, di sebuah jalan yang sepi dan gelap, Si Ayah berdoa kencang-kencang berharap Semesta mendengar.

Tidak lama setelahnya, seperti baru dibisiki sesuatu, Si Ayah berjalan ke arah sebuah taman bermain. Betapa tenang hatinya, di taman bermain sederhana itu, Si Ayah bertemu kembali dengan Anak Perempuan yang disayanginya, di sebelah seorang Anak Lelaki yang dengan sabar menemani. Dalam hati, Si Ayah berkata, “Duh, untung ketemu, untung sehat walafiat, untung aman. Kalo enggak, gue pasti dimarahin sama bini gue.”


Sang Waktu mengantarkan Nenek kembali ke rumah dan ke tubuhnya. “Nek, mau ke mana lagi? Tadi kan baru cucu-cucu Nenek. Aku bisa anter Nenek ke anaknya Nenek juga kok. Aku nih hebat lho.” Kadang-kadang Sang Waktu emang kadang songong, walau niatnya baik. Sang Waktu hebat, tapi kadang masih kalah hebat dibanding hebatnya kasih seorang ibu. Nenek berkata, “Kamu ga usah kuatir, Tu. Nenek udah seumur hidup berdoa untuk Anaknya Nenek. Soal itu, Nenek lebih paham daripada kamu.”


Dua hari setelah itu, hidup Nenek di bumi berakhir sudah. Sang Waktu menjemput Nenek ke petualangan lain: kembali ke pelukan Semesta; dan ke pelukan Kakek yang sudah menantinya sejak sekian tahun sebelumnya.


*)

Tertanggal 31 Agustus 2021, kutuliskan ini untuk Oma Sari. 

Aku tidak bisa lupa perkenalan pertamaku dengan Oma beberapa tahun lalu. Oma nawarin gorengan yang dibeli di alun-alun. Salah satu gorengan paling enak yang pernah aku nikmati, hangatnya pas sekali untuk dinginnya pagi dan dinginnya kehidupan saat itu.

Selamat menikmati perjalanan dari Bandung menuju keabadian, Oma. Ke sebuah petualangan yang tenang dan menyenangkan bersama Opa dan Sang Waktu.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Sempurnanya Hidup Yang Jauh Dari Sempurna Ini

Beberapa kejadian bikin gue bener-bener sadar, bahwa memang kita gak akan pernah tau kapan waktunya kelar di dunia dan beranjak ke akhirat. Bahkan, mungkin beberapa detik sebelum waktunya tiba pun gak kepikiran akan metong.

Beberapa minggu lalu, gue gak sengaja curi denger lagunya D’MASIV yang lagi dimixing sama Iponk. Waktu itu niatnya cuma mau nganterin tumbler takutnya si Iponk kurang minum karena di studio terus jarang turun. Ya Tuhan, duh maaf, saya jadi curi denger. Tapi ini lagu memang kayaknya wajib didenger oleh semua orang sih. Terutama sekarang-sekarang ini.

Gue cuma berharap kalau tiba waktunya, gue dipenuhi kelegaan, supaya dengan tenang, dengan bersabar, gue bisa merelakan. Apa yang perlu diambil, ambillah. Siapapun yang perlu menjemput, jemputlah. Bila ada yang harus dilepaskan, lepaskan, biar ringan perjalanan. Kenangan-kenangan, simpan dan bawalah dalam hati. Ketika gue sudah bisa merelakan sampai di titik situ, mungkin artinya ketika waktunya nanti tiba, gue sudah siap menyelesaikan hidup yang gak sempurna ini dengan cara yang paling sempurna: dengan lega.

Kata Ibu gue, berdoa.

Kata Bapak gue, vaksin.

Kata sahabat gue, relain.

Kata pemerintah, kalau mau lega, jaga kebersihan, jaga kesehatan, pake masker jagain orang di sekitar.

Kata D’MASIV, biarkan waktu menjawab.

Kata Kunto Aji, biar Semesta bekerja.

Kata seorang bernama Timur pada seorang bernama Mentari, keseimbangan.

Kata gue: Untuk segalanya, ada waktunya.


Agustin Oendari adalah seorang penulis lagu dan penyanyi yang mengawali karier pada 2014 dengan menulis dan menyanyikan lagu Selamat Pagi Malam untuk film berjudul sama karya sutradara Lucky Kuswandi. Lagu tersebutlah yang pertama kali mempertemukan Oendari dengan pendengar setia yang terus mendukungnya hingga melalui beberapa rilisan untuk film-film lain, seperti Galih & Ratna, satu lagi karya sutradara Lucky Kuswandi, dan Susah Sinyal, karya sutradara Ernest Prakasa.

Rilisan-rilisan Oendari yang lain pun telah mendapat perhatian khusus dari berbagai streaming platform dan media, antara lain: LHSW yang sempat menjadi bagian dari banner utama aplikasi JOOX pada masa rilisnya dan juga disiarkan di berbagai media musik ternama, seperti Billboard Indonesia dan Pophariini; Bend Down dan Selamat Pagi Malam yang berada di deretan nominasi AMI Awards ke-22; dan beberapa lagu dalam album soundtrack Galih & Ratna yang mendapatkan kesempatan spesial JOOX Concert Galih & Ratna tahun 2017, seperti Hampir Sempurna, yang ditampilkan oleh Rendy Pandugo, Song Of Goodbye, yang ditampilkan oleh Ivan Gojaya yang juga adalah produser dari hampir seluruh karya Oendari, dan lagu-lagu lain yang ditampilkan oleh Oendari, seperti Nyatanya Sementara, Dari Rindu Kepada Rindu.

Selain terlibat dalam berbagai karya kolaboratif sebagai penyanyi atau penulis lagu, Oendari juga sempat berkiprah sebagai vocal director, bekerja bersama musisi dan produser ternama, antara lain Titiek Puspa, Dutacinta, Momo Geisha, Sheryl Sheinafia, dan Steve Lillywhite. Keterlibatan Oendari sebagai vocal director juga terdapat pada lagu Lathi (Weird Genius ft. Sara Fajira), Dunia (Mytha Lestari), A Million Stars (Album Kolaborasi Rising Stars), dan masih banyak lagi. Tahun 2021, Oendari dengan merilis album dari keterlibatannya di dalam sebuah film berjudul Akhirat: A Love Story.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

To Whom It May Concern

Sekarang, kalau ada yang berniat mendoakan, siapa tau … gak ada yang lebih penting buat gue, selain didoakan. Kita ada di situasi di mana gak tau kapan, bisa aja tiba-tiba kita gak ada. Mungkin hari ini sehat, besok sehat, lusa masih sehat, lalu tiba-tiba bam! Tinggal nama.

Apapun yang terjadi, gue minta maaf atas semua hal yang gue lakukan dengan salah. Gue bersyukur pernah melintas di kehidupan kalian, entah kapan entah gimana entah untuk apa. Doakan gue menuju sebuah peperangan spiritual bernama kematian.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Sebuah Mimpi Yang Pernah Tercatat Dahulu Kala

Minggu, 13 September 2015

Di Killiney, Senayan, menulis sendirian.


DARI MIMPI. Mataku menangkap matamu lalu kita jadi tau satu. Kita jadi mengerti siapa kita ini dan apa kita ini. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

Kata-kata terkandung lalu lahir kita dari rahim nuansa. Engkau adalah suara dan aku larik-larik yang bercerita. Lahir kita sebagai sajak, yang beruntai pada satu masa. Lahir kita karena malam memberi benihnya pada cinta. Darah dari sajak dan daging dari sajak. Terbentuk dari satu dan timbul jadi satu. Sebabnya demikian:

Kita saling melihat hati tanpa membuka mata. Tidak lagi perlu apa-apa, tidak lagi rindu apa-apa. Karena selalu cukup bagiku engkau dan nada-nada. Dan, kesukaanmu adalah kubacakan kisah-kisah.

Lahir kita sebagai sajak yang beruntai pada satu masa. Sampai saat kita tercerabut hingga tak lagi kita berpaut. Angin barat bertiup membelah jagat lalu kita terpisah. Tanpa tanda-tanda pengingat, kita terceraikan oleh entah. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

Namun, kita adalah anak-anak sajak. Darah kita terus luruh mengalir dari hulu sajak. Daging kita bertumbuh di bawah denyut sajak. Maka, kita tidaklah perlu kuatir akan apapun juga. Cakrawala kita terangkum dalam pejam mata. Dalam getar-getar yang dirambatkan udara. Dan, perpisahan adalah sekadar cara agar kita dapat saling menemukan.

Seperti saat ini, setelah hidup kita bergerak jauh. Setelah hati kita berpindah-pindah, ini aku, menemukan engkau. Mataku menangkap matamu lalu kita jadi tau satu. Kita jadi teringat siapa kita ini dan apa kita ini. Jauh, jauh sekali, sebelum ini.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (14)

“I’m easily forgotten.” kali ini gantian aku yang cerita. Kamu mendengarkan. Gak tau kenapa aku mulai dengan sok ide berbahasa Inggris, padahal lancar juga enggak.

Kita sedang di dalam perjalanan dan hari hujan. Baik aku maupun kamu, gak satupun dari kita menduga hari itu akan hujan. Kita menuju ke rumah seseorang yang gak aku kenal, tapi kamu kenal. Aku yang nyetir, kamu yang menunjukkan jalannya. Kamu gak kuat nyetir, apalagi dengan cuaca kayak gini, itu pasti, aku paham. Aku gak inget kita ngobrolin apa sebelumnya, tapi sepertinya sesuatu yang penting dan urgent tentang kenalan kamu yang sedang kita datangi rumahnya itu.

Sambil nyetir, aku bilang ke kamu, “Aku akan menanti-nanti satu kesempatan di mana kamu menyadari ada kejadian-kejadian yang di luar kendali bisa terjadi begitu aja, dan kamu gak tau itu kenapa. Tapi, tanpa tau kenapa, semua kejadian itu bisa memperbaharui cara kamu memandang banyak hal.”

“Yang kamu percaya, bisa runtuh seketika. Yang kamu pikir gak nyata, ternyata ada. Apa yang penting? Apa yang perlu? Bisa berubah tiba-tiba. Tapi ternyata, semua yang kita tau, dulu, sekarang, atau nanti, sudah ada masa-masanya masing-masing. Akan tiba masanya kamu sadar, ada hal-hal yang di luar kendali, terjadi begitu aja dan kamu akan bergerak terus dengan itu.”

“Kalau kesempatan itu udah tiba, semoga kamu inget aku pernah bilang ini: segala sesuatu ada sumbernya, biarin aja mengalir.” Aku cuma kasih jawaban itu sambil mengakhiri, “Tapi, like I said, I’m easily forgotten.” Kita diam beberapa lama, sebelum kamu jawab, “No, you are not.”

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Coming Back Stronger

Dua bulan terakhir ini, gue melepaskan diri dari media sosial. Kadang-kadang muncul sesekali di sana kalau dibutuhkan aja. Bulan Mei dan Juni lalu, banyak hal berat yang gue lalui. Gue yakin, gak cuma gue doang yang diam-diam stress dengan situasi saat ini. Gak cuma dua bulan terakhir, gue pun yakin banyak yang setuju, sepanjang tahun ini udah kelewat banyak kejadian yang melelahkan hati dan pikiran. Selama kurang lebih satu setengah tahun, seringkali energi kayak dikuras habis, menenangkan hati, bangkit lagi, terus jatuh lagi. Kayak digebukkin berkali-kali.

Sudah kurang lebih delapan bulan ini, gue kayak hidup di dua alam. Setidaknya, begitu Kamga menyebutnya. Kamga adalah salah satu teman baru yang gue kenal beberapa bulan terakhir, beliau ada di momen-momen pertama kebangunan spiritual gue terjadi, sekitar Oktober-November 2020. Gue dan Kamga memang gak sesering itu ngobrol, tapi terakhir kita sempat ngobrol di DM Instagram, akhir Mei lalu. Kamga sempat bertanya “Lo kenapa bulan Mei?” Di situ, gue akhirnya cerita.

Beberapa hal gue rasakan di bulan Mei. Gue sempat ada di situasi di mana gue gak bisa mengimbangi hal-hal yang spiritual dan yang material. Mulai sulit tidur, makin sering ngerasa dicolek-colek, tiba-tiba kepikiran hal-hal yang gak gue pahami tapi bisa gue rasakan emosinya, dan yang terbaru: punya firasat sebelum seseorang meninggal. Entah karena gue overwhelmed, atau jangan-jangan sebetulnya gue takut walaupun udah sering dibilangin untuk gak perlu takut, atau gue memang nubi banget aja jadi gak paham.

Dalam obrolan singkat di DM tersebut, Kamga menyampaikan saran-saran yang gue pertimbangkan terus. Seperti sebelum-sebelumnya, semua saran Kamga selalu gue inget-inget, simply gue percaya sama Kamga. Yang paling gue inget, terakhir Kamga bilang, “Get well soon Botin manusia dua alam.

Dua alam. Udah mana sulit menetapkan diri di alam spiritual, ada banyak juga yang terjadi di alam material, ada banyak hal-hal nyata yang juga perlu gue urusin, gue pikirin, gue kerjain.

Karena satu dan lain hal, album gue (dan showcasenya) yang mestinya rilis bulan Mei, harus diundur, thanks to pandemi. Memang pandemi ini bikin gue belajar menyadari bahwa ada hal-hal yang memang di luar kendali dan gue dididik pelan-pelan untuk merelakan. Semacam harus lebih ya-udah-lah.

Selain itu, sejak pandemi dimulai dan gak tau kapan kelarnya, kehidupan gue jadi sangat domestik. Yang kenal baik sama gue, pasti akan bilang, “Lah, lo kan emang jarang ke mana-mana dari dulu.” Iya, sejak gue kerja di ROEMAHIPONK tujuh tahun lalu, gue memang jarang keluar karena kesibukan produksi seringkali menuntut gue untuk ada di studio terus. Plus, gue memang gak terlalu suka keramaian dan lebih sering memilih untuk menyendiri. Tapi, beda banget sih rasanya, antara gak keluar-keluar karena memang memilih untuk stay inside, dengan gak keluar-keluar karena paranoid sama situasi di luar sana.

Gue pun awalnya berpikir, menjadi domestik gak akan terlalu memengaruhi gue, tapi nyatanya enggak juga. Jenuh, ngerasa gak aman, ngerasa gak cukup baik karena ngerasa kerjaan selalu numpuk imbas dari gak ada bedanya lagi antara waktunya kerja sama waktunya libur, gak tau kapan prioritasin waktu untuk diri sendiri dan untuk kerjaan. Waktu semakin sulit diukur dan keseharian gue berputar di ruang yang sama, itu lagi itu lagi.


Baik perkara-perkara spiritual maupun material, gue belakangan jadi banyak cari tau, demi gue bisa lebih memahami gue kenapa dan gue harus apa. Artikel-artikel soal spiritual awakening gue baca. Artikel-artikel psikologi pun gue baca. Tips-tips menjaga stabilitas performa kerja gue kulik. Banyak istilah-istilah baru gue googling: clairaudience, clairsentience, burnout, clinical depression, anxiety problems, banyaklah. Dari yang gue baca, katanya gue pas untuk cobain diet, cobain puasa, cobain meditasi, coba berdoa lagi, baca alkitab lagi, coba exercise ini itu, coba relayout ruang kerja, coba cari hiburan dengan nonton, main game, hobi baru, apapun. Gue turutin sehari, dua hari, seminggu, sebulan, beberapa bulan. Kenapa gue gak ngerasa lebih baik? Kenapa setelah make efforts ini itu, gue malah ngerasa banyak gagalnya? Ini wajar apa enggak? Gak paham.

Tulisan apa ini. Isinya ngeluh semua. Padahal judulnya tentang coming back stronger. Gue nulis di sini, karena gak tau medium lain yang bisa menampung ini, karena gue tau: pada masa-masa kayak sekarang, siapa yang gak ngerasa kewalahan? Kalaupun ada yang tenang-tenang aja, berapa banding berapa dengan yang sebaliknya? Di sekeliling gue, yang gue temukan sih hampir semua orang lagi devastated. Gak mungkin tega gue tambah beban mereka dengan menumpahkan keluhan gue. Dan, gue nulis di sini, mungkin karena gue udah capek berusaha menghindarkan diri dari stress bacain angka-angka di berita. Cari positivity di layar handphone gak berhasil, malah berakhir dengan pikiran negatif: di luar sana banyak yang hidupnya udah kayak setrong lagi, kok gue ngerasa gue gak stronger-stronger juga. Digebukkin berkali-kali, gak stronger-stronger juga.

Sejak gue mengalami pengalaman spiritual yang tidak gue pahami itu, gue memang jadi lebih memerhatikan tanda-tanda. Gue merasa setiap tanda sederhana yang gue sadari, menyimpan pesan mendalam yang perlu gue pelajari. Kalau ada yang pernah (atau sering) mengalami pengalaman yang kayak gue dan paham maksud kalimat barusan, mungkin paham juga ketika gue memutuskan untuk mengikuti tanda demi tanda, demi tau ujungnya apa.

Penelusuran gue membawa gue kepada pertanyaan: tracing back ke masa demi masa kehidupan yang sudah gue lewati, apa yang paling bikin gue lega? Gue udah sempet bercerita di salah satu tulisan di situs ini, bahwa belakangan ini gue sedang berusaha mengetahui apa yang gue cari dan apa yang perlu gue temukan. Lalu, ada satu tulisan gue dari tahun 2015 yang baru-baru ini muncul di antara tumpukan jurnal lama. Di situ tertulis soal lega. Sekarang gue baru berpikir ulang, ini bukan cuma soal lega, melainkan “Apa yang bisa bikin gue gak menyesal?”.

Tanda demi tanda membawa gue sampai di kesimpulan yang sedang gue coba saat ini, yaitu kembali ke apa yang gue nikmati dan gue percayai sejak kecil: menulis. Dari kecil, gue suka merekam kejadian-kejadian di depan mata, ataupun khayalan-khayalan di dalam kepala, ke dalam tulisan. Ketika menulis, ada romantisme yang gue temukan dan gue nikmati di dalam persahabatan gue dengan kata-kata.

Membaca atau mendengarkan kata-kata sudah jadi keseharian gue beberapa tahun terakhir. Terutama karena pekerjaan di balik layar produksi musik dan audio, yang bikin gue terbiasa soal itu. Oleh karena itu, kata-kata, (dan banyak hal lainnya dalam berbahasa) jadi penting banget buat gue. Belakangan, gue teringat bahwa kecintaan gue pada kata-kata kayaknya udah dari kecil.

Gue terbiasa mengamati cara orang-orang di sekitar gue berkomunikasi. Ketika gue denger satu kalimat, kepala gue jadi terlatih untuk merunut dan menghubungkannya dengan kemungkinan cerita besar yang menyelimuti kalimat sederhana tersebut. Ketika gue baca satu baris, gue merasakan kombinasi perasaan yang mungkin mengendap di dalam barisan kata-kata itu. Ketika gue mendengar intonasi, gue seperti menyelam ke dalam pikiran yang tidak gue kenali. Ketika menulis, itu semua kayak amplified.

Ini yang gue rasakan. Menulis membantu gue mengendalikan pikiran gue, karena ketika menulis gue harus merunut kejadian dan menghubungkan satu dengan yang lain. Menulis juga membantu gue memahami banyak hal yang sebelumnya cuma misteri, terutama ketika tulisan yang sedang dikembangkan melibatkan kilas balik jejak rekam kejadian demi kejadian yang pernah gue alami. Menulis melatih gue untuk memperkaya intonasi, menyeimbangkan antara keras dan lembut, kuat dan lemah, insist atau pasrah. Menulis mengajarkan gue untuk “pelan-pelan nanti juga sampai di tujuan”. Rasanya ini penting banget untuk selalu jadi pengingat buat gue di masa sekarang, di masa-masa stres.

Pada masa sulit, tulisan bisa jadi medium untuk gue menuangkan beban yang perlu dilepas sebentar dari kepala gue. Gue gak menemukan kesenangan yang sama, yang gue dapatkan dari menulis, pada hal yang lain: liburan selalu asyik, tapi ya udah, beda tempat beda suasana, terus udah; nonton selalu seru, karena menginspirasi, tapi terus udah; game, buat gue gak menarik. Tulisan, selalu pas. Tulisan selalu menerima gue apa adanya. Apapun yang mau gue ceritakan, jadilah. Dengan demikian, lega banget ketika beban satu-satu lepas dalam bentuk tulisan. Rasanya ini juga yang jadi alasan gue kembali ke sini, menulis blog lagi.

Di sebuah tulisan Tentang Theoresia Rumthe, gue menulis tentang sebuah kalimat yang pernah berhasil menyelamatkan gue dari bahayanya pikiran gue sendiri: “Menulislah dan jangan bunuh diri.” Tujuh tahun lalu, gue membaca kalimat Theoresia Rumthe ini, tapi gue gak yakin gue mengerti artinya. Kayaknya baru sekarang gue mulai paham.

Di lingkungan gue, topik bunuh diri bukan topik yang dibicarakan secara buka-bukaan. Namun, kalau mau jujur, topik bunuh diri bukan gak pernah mampir di pikiran gue. Beruntung gue dikelilingi oleh orang-orang yang menjagai gue, minimal lewat doa dan nasihat pengingat, sejauh ini gue selalu kembali kepada kewarasan gue. Theoresia Rumthe adalah salah satunya, yang pernah hadir dengan sebuah pengingat, “Menulislah dan jangan bunuh diri.” Sampe sekarang, masih gue ingat. Dan, gue lakukan.

Untuk kalian yang membaca sampai sini, sekiranya sedang berada di situasi yang kurang lebih sama kayak gue: mumet, rumit, gagal paham, overthinking, atau semacam itu; well, tos, semangat ya. Gue doakan kalian menemukan cara untuk menguapkan semua beban, satu-satu supaya lebih ringan. Mungkin caranya adalah menulis, kayak gue. Mungkin juga bukan. Apapun bentuknya, semoga ketika diperlukan, kalian dipertemukan dengan pengingat sederhana yang bisa bikin kalian kuat lagi.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.