Betapa menyeramkan.
Aku menemukan kenyamanan di sebuah mimpi di mana Aku membenturkan wajahku ke dinding batu. Terbentur sampai hancur. Semua inti terburai lalu Aku melayang di dalam ketiadaan.
Kesunyian jadi musik yang indah. Tanpa suara. Tidak ada lagi degup jantung. Tidak ada lagi desir alir dan denyut nadi. Air mata terakhir jatuh dan berhenti sudah segala tangisan.
Aku menghilang dari ingatan orang-orang. Lenyap dari kenangan yang tersayang. Senyap dalam gelap seperti malam tanpa bintang.
Waktu yang deras menggerus jaman seketika membeku dalam keabadian. Tidak ada hulu dan tidak ada muara, karena semua telah diam. Di muka arus yang bergeming, kuberanikan diri becermin. Kosong.
Betapa menyeramkan.
Namun, siapa sangka. Segala yang harus kuhadapi setelah terbangun dari mimpi itu ternyata lebih menyeramkan.
