Ketika Tuhan Bercerita

Aku meramu samudera.

Kucampurkan warna-warna. Biru laut, awan putih. Hijau ganggang di dasarnya menari-nari. Kulihat dari langit dan kupandangi. Tidak terasa hidup, karena semua hanya diam. Maka, kuciptakan daya, kuberikan gelora. Dan, kunamai dia: ombak.

Lalu, aku tersenyum. Aku terdiam. Kemudian kutiupkan angin, kuberikan riak. Sehembus dari nafasku. Dan, kunamai dia: badai.

Ya, semua indah. Tapi tunggu. Ini, ciptaan kecil yang paling kusayang. Aku ingin ia juga memahami. Aku ingin ia juga merasakan. Kunamai dia: manusia. Semua indah. Pada waktunya.

Manusia. Seringkali aku merindukannya. Dan, bila tidak lagi tertahan, aku akan membisikkan suara-suara. Gemuruh gulungan ombak. Tetes embun. Nyanyian tonggeret. Kicau burung-burung. Gema di dalam terowongan. Bising di dalam kemacetan. Aku adalah keheningan dalam ruang-ruang ibadah. Itu aku. Khidmat dalam resital. Itu aku. Aku adalah keramaian dalam festival. Itu juga suaraku. Aku membisikkan kebahagiaan saat bayi-bayi lahir. Aku berikan diam saat nyawa-nyawa beristirahat. Itu suaraku. Kunamai dia: musik.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.