Pagi cerah.
Mungkin ada alasan melankolis-romantis kenapa Tuhan (atau siapapun itu di sana) menciptakan pagi dan malam untuk membatasi hari-hari.
Mungkin karena Dia tahu hidup tidak selalu mudah, hidup tidak selalu mulus, dan hidup tidak selalu bahagia. Maka, Dia menciptakan malam: untuk menutup yang perlu diselesaikan, untuk melupakan yang perlu dilupakan. Dan, pagi: untuk memulai lagi.
Mungkin memang sesederhana itulah yang sekiranya diperlukan manusia, termasuk gue: kesempatan untuk memulai lagi. Kalau salah langkah, alangkah leganya bila gue punya kesempatan untuk diam sejenak, rehat, mengumpulkan keberanian untuk memulai lagi langkah-langkah yang baru. Pindah rumah, contohnya.
Baru beberapa waktu lalu, gue pindah rumah. Ini nekat sebetulnya. Gue gak punya duit yang segitu melimpahnya. Melebihi perhitungan gue, ternyata pindahan menuntut pengeluaran yang gak sedikit. Namun, dari beberapa hari yang baru aja gue habiskan di sini, gue justru merasa bahwa sekian banyak uang yang mesti gue hamburkan di sini, dibanding dengan apa yang telah dan mungkin gue dapat, gak lagi jadi masalah yang terlalu sulit. Memulai kembali. Memulai lagi. Bagi gue, ini berharga, sangat.
Banyak hal terjadi dua tahun belakangan. Banyak hal yang gue syukuri. Tapi, selama ini, hal-hal baik tersebut sering gue pandang sebelah mata. Terutama, karena banyak pula kesulitan dan kegelisahan yang turut menghantui di belakangnya. Sulit bagi gue berpikir jernih pada situasi-situasi terhantui semacam itu. Sulit melihat hal-hal rumit dengan lebih terang saat sudut pandang gue sedang dikaburkan oleh banyaknya masalah yang berputar-putar di sekeliling gue. Sulit bergerak di antara wajah-wajah dan suara-suara yang familiar tapi menjemukan. Cukup lama, dua tahun, akhirnya gue memutuskan pindah rumah. Dan, gue bersyukur, gue pernah setidaknya sekali bernyali untuk keputusan ini. Aneh ya, di tempat baru yang asing, yang semestinya mengandung banyak kecemasan (dan sudah pasti butuh banyak pengeluaran) ini, gue malah bersyukur.
Di sini, gue mensyukuri malam-malam yang sunyi dan tenang, yang seolah-olah mengingatkan bahwa ada waktunya untuk istirahat, terutama bagi pikiran gue yang selalu ribut. Di sini, gue juga memandang matahari dengan cara yang berbeda ketika semburat putih-kuningnya bergerak masuk melalui jendela. Cahaya pagi memperlihatkan kepada gue hijau pohon yang bergairah lagi, kembang-kembang cerah lagi, burung-burung dibangunkan untuk bernyanyi lagi dan bersibuk-ria lagi, kupu-kupu memulai lagi petualangannya hari itu, ke sana dan kemari. Di sini, segala kehidupan berganti jadi baru setiap hari. Ini bisa jadi sudut pandang yang gak bakal gue dapatkan di tempat lama, kalau saja gue berusaha bertahan di sana. Gue gak tahu. Tapi setidaknya, gue mensyukuri ini.
Ini kehidupan baru, tempat gue akan selalu berpulang untuk memulai kembali. Setidaknya, untuk sementara ini.
kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?
Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.
Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!


