Mimpi Semalam (4)

Aku sudah biasa memimpikan diriku hampir tenggelam.

Aku menyetir di sebuah jalan, ada jembatan kereta api melintang di depan sana. Rasanya seperti di Bandung. Namun, ada dua lajur, dan aku salah mengambil jalan. Aku masuk ke jalur kiri, yang membawaku tersesat ke jalan yang semakin menyempit, menyempit, menyempit. Semakin sempit dan aku semakin sulit mengendalikan mobil ini. Celaka, aku jatuh ke dalam air. Mobil ini jatuh ke air. Aku gak tau harus apa.

Butuh waktu yang tidak sebentar sampai akhirnya aku berani memutuskan untuk menyelamatkan diri sebelum akhirnya aku tenggelam bersama mesin logam berat ini. Aku berusaha keras mengeluarkan diriku dari mobil. Butuh waktu. Tapi waktu tidak banyak. Akhirnya bisa.

Aku keluar dari mobil lalu berusaha berenang ke atas dengan segenap energiku yang masih tersisa. Kemudian, aku takjub dengan apa yang kutemukan saat sedang susah payahnya mengayuhkan lengan dan kakiku. Ada banyak ikan besar yang belum pernah kulihat seumur hidupku, mereka melintas dengan anggun melewati aku yang jauh lebih kecil dan tidak berdaya. Beberapa kali mereka menatap aku lekat-lekat dengan mata hitam dengan tatapan yang dalam. Entah apa yang ingin mereka sampaikan. Aku selalu merasa ikan adalah makhluk misterius.

Aku terus berenang hingga aku sampai di permukaan. Di atas sana, kulihat orang-orang yang kuyup, mungkin mereka juga sama sepertiku. Jatuh, hampir tenggelam, dan menyelamatkan diri.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Rumah Nomor 811

Pagi cerah.

Mungkin ada alasan melankolis-romantis kenapa Tuhan (atau siapapun itu di sana) menciptakan pagi dan malam untuk membatasi hari-hari.

Mungkin karena Dia tahu hidup tidak selalu mudah, hidup tidak selalu mulus, dan hidup tidak selalu bahagia. Maka, Dia menciptakan malam: untuk menutup yang perlu diselesaikan, untuk melupakan yang perlu dilupakan. Dan, pagi: untuk memulai lagi.

Mungkin memang sesederhana itulah yang sekiranya  diperlukan manusia, termasuk gue: kesempatan untuk memulai lagi. Kalau salah langkah, alangkah leganya bila gue punya kesempatan untuk diam sejenak, rehat, mengumpulkan keberanian untuk memulai lagi langkah-langkah yang baru. Pindah rumah, contohnya.

rumah 811

Baru beberapa waktu lalu, gue pindah rumah. Ini nekat sebetulnya. Gue gak punya duit yang segitu melimpahnya. Melebihi perhitungan gue, ternyata pindahan menuntut pengeluaran yang gak sedikit. Namun, dari beberapa hari yang baru aja gue habiskan di sini, gue justru merasa bahwa sekian banyak uang yang mesti gue hamburkan di sini, dibanding dengan apa yang telah dan mungkin gue dapat, gak lagi jadi masalah yang terlalu sulit. Memulai kembali. Memulai lagi. Bagi gue, ini berharga, sangat.

Banyak hal terjadi dua tahun belakangan. Banyak hal yang gue syukuri. Tapi, selama ini, hal-hal baik tersebut sering gue pandang sebelah mata. Terutama, karena banyak pula kesulitan dan kegelisahan yang turut menghantui di belakangnya. Sulit bagi gue berpikir jernih pada situasi-situasi terhantui semacam itu. Sulit melihat hal-hal rumit dengan lebih terang saat sudut pandang gue sedang dikaburkan oleh banyaknya masalah yang berputar-putar di sekeliling gue. Sulit bergerak di antara wajah-wajah dan suara-suara yang familiar tapi menjemukan. Cukup lama, dua tahun, akhirnya gue memutuskan pindah rumah. Dan, gue bersyukur, gue pernah setidaknya sekali bernyali untuk keputusan ini. Aneh ya, di tempat baru yang asing, yang semestinya mengandung banyak kecemasan (dan sudah pasti butuh banyak pengeluaran) ini, gue malah bersyukur.

rumah 811

Di sini, gue mensyukuri malam-malam yang sunyi dan tenang, yang seolah-olah mengingatkan bahwa ada waktunya untuk istirahat, terutama bagi pikiran gue yang selalu ribut. Di sini, gue juga memandang matahari dengan cara yang berbeda ketika semburat putih-kuningnya bergerak masuk melalui jendela. Cahaya pagi memperlihatkan kepada gue hijau pohon yang bergairah lagi, kembang-kembang cerah lagi, burung-burung dibangunkan untuk bernyanyi lagi dan bersibuk-ria lagi, kupu-kupu memulai lagi petualangannya hari itu, ke sana dan kemari. Di sini, segala kehidupan berganti jadi baru setiap hari. Ini bisa jadi sudut pandang yang gak bakal gue dapatkan di tempat lama, kalau saja gue berusaha bertahan di sana. Gue gak tahu. Tapi setidaknya, gue mensyukuri ini.

Ini kehidupan baru, tempat gue akan selalu berpulang untuk memulai kembali. Setidaknya, untuk sementara ini.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Catatan

Hari ini gue dikaruniai banyak banget waktu luang. Ini langka. Sebagai bukti kelangkaan, saat ini dengan begitu leluasa, gue bisa mampir dan menulis di sini, setelah sekian lama. Banyak hal terjadi dalam rentang waktu, yang kalau dirunut sejak terakhir gue menulis di sini, satu tahun, kira-kira. Sebetulnya, dalam setahun ini, gue lumayan sering merekam hal-hal personal dalam keseharian gue lewat tulisan tangan. Tapi, rasanya males aja merangkum ulang dan masukkin catatan-catatan itu kemari. Selain karena memang gue tidak sempat mengalokasikan waktu untuk itu, gue tidak merasa ada signifikansi yang cukup menjadi alasan menulis kembali catatan harian pribadi di sini. Anehnya, setelah gue baca-baca lagi kertas-kertas setumpuk itu, rasanya lega juga, terekam di situ bahwa seringkali, gue bisa waras. Rasanya juga syukur, ada kenangan tentang kekasih, ada kenangan tentang kawan, ada kenangan-kenangan yang bisa disimpan. Rasanya pun bangga, banyak hal sudah gue lewati: sukses ataupun tidak; mudah ataupun sulit; senang ataupun sedih.

Gue jadi berpikir, bahwa mungkin:

Ada baiknya manusia sering-sering merekam jejak jalan pikirannya sendiri.

Supaya ketika dilihatnya lagi, bisa disyukurinya bila perjalanan itu panjang dan menyenangkan. Dan, kalau perjalanan itu pernah melalui rimba-rimba dan samudera yang rumit dan gelap, setidaknya ia telah memahami lebih dalam, ia telah melihat lebih banyak, ia bisa menjalani lebih kuat, ia bisa melalui lebih tangkas, untuk segala yang akan datang pada masa depan. Mungkin ada baiknya manusia sering-sering merekam jejak pikirannya sendiri. Supaya ia bisa mengingat. Karena buat gue, manusia, yang lahirnya sendiri-sendiri itu, akan mati sendiri-sendiri pula. Dan, kalau kesendirian itu tiba pada satu masa, ketika kawan sudah tidak lagi ada, dan kekasih tidak lagi di sana, hanya satu yang mampu lestari dan setia: kenangan-kenangan, dalam catatan-catatan perjalanan.

 

catatan
kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (3)

Seminggu ini sulit mengingat mimpi. Yang kuingat dari mimpi semalam pun hanyalah mimpi yang nyaman. Putih dan abu-abu muda.

Kalau ditanya mimpi apa yang paling kuingat, adalah sebuah mimpi yang sunyi. Pantai yang panjang. Langit terbelah dua. Terang di sisi yang satu. Mendung dan gelap di sisi yang lain. Seperti biasanya, tidak banyak suara. Dan, lagi-lagi aku sendiri.

Pasir di punggungku. Pasir di bahuku. Dan, angin laut yang hangat bertiup di atas dadaku. Aku menutup mata saat ombak bergulung tipis menyelinap di bawah kedua kakiku. Lalu ramai-ramai, ombak bergulung menjauh, meninggalkan bulir-bulir pasir yang mungil dalam kesepian.

Aku mendengar bisikan. Pelan. Dibalut bunyi angin. Maka, pelan pula, kubuka mataku dan tiba-tiba dia ada di sana.

Pria itu membelakangi matahari dan tidak dapat kukenali wajahnya. Dia tidak bicara. Matanya menatap lekat-lekat, menembus bola mataku. Hidungnya menyentuh tepat di ujung hidungku. Wajahnya basah di depan wajahku. Begitu pula tubuhnya.

Air menetes dari tepi dahinya, jatuh di dahiku. Lalu, aku bangun.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (2)

Aku bermimpi semalam. Mimpiku terbuat dari pasir hitam putih dan gumpalan awan kecokelatan. Semuanya buram dan rasanya aku akan pergi jauh. Jauh, tapi entah ke mana. Hanya rasanya saja demikian.

Aku bepergian sendiri, seperti biasanya. Ini memang bukan mimpi pertama di mana aku merasa bepergian. Dan, pada setiap mimpi serupa, rasanya aku selalu sendiri.

Kemudian, ada stasiun yang sangat besar dan sungguh ramai di sana. Aku di sana. Ramai, tapi mimpiku sunyi. Tidak banyak suara. Hanya ada beberapa orang yang bicara. Belum ada siapapun yang kukenal di sana, lalu tiba-tiba ada Albert. Dia tiba-tiba muncul di tengah kabut tipis kecokelatan, membawakan banyak sekali makanan. Sebelum aku berangkat, katanya.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (1)

Kamu ada di sana, di mimpi semalam. Kita mengobrol lama sekali.

Kita hanya bayang-bayang di balik sisi terang bulan. Karena kita hanya bayang- bayang, kita tidak berdenyut. Kita tidak bernyawa. Kita hanya bunyi-bunyian. Berkata-kata lewat suara.

Kamu tau, di balik sisi terang bulan, ada siang. Ada manusia-manusia sadar. Memar-memar di hatinya diciptakannya sendiri. Maka, beruntunglah kita. Mengucap syukurlah pada Semesta, bahwa kita cukup jadi bayang-bayang di balik sisi terang bulan.

Hari ini, kita pergi jauh-jauh sendiri-sendiri. Hari lainnya, pada satu tempat, kita ketemu lagi. Dunia hanya ada di antara batas yang bernama waktu. Tapi waktu sering bersikap licik karena cuma dia yang bisa memelar sendiri dan menyempit semaunya. 

Ayo, kita hendak pergi ke mana lagi. Lekas kita mengembara berdua lagi. Kita tidak dikejar apa-apa. Kita tidak meninggalkan siapa-siapa di belakang. Di belakang, hanya ada waktu. Karena dia adalah kelicikan, maka anggap saja kita boleh meninggalkan dia di belakang.

Seharusnya kita lebih sering kembali berpulang kepada hakikat kita. Kita liar, binatang liar. Tapi kita punya kemampuan bertanya. Kenapa. Apa alasannya. Maka, semua bisa dipertanyakan.

Dan di balik pertanyaan, kita bisa menemukan jawaban, jika dan hanya jika kita bisa, kita menerima, kita membolehkan, kita memberi jawaban bagi dia, jawaban kecil itu, untuk bersembunyi di sana.

Lebih baik jawaban yang bersembunyi di balik cadar pertanyaan, ketimbang jawaban yang datang dari pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.