Ketika Tuhan Bercerita

Aku meramu samudera.

Kucampurkan warna-warna. Biru laut, awan putih. Hijau ganggang di dasarnya menari-nari. Kulihat dari langit dan kupandangi. Tidak terasa hidup, karena semua hanya diam. Maka, kuciptakan daya, kuberikan gelora. Dan, kunamai dia: ombak.

Lalu, aku tersenyum. Aku terdiam. Kemudian kutiupkan angin, kuberikan riak. Sehembus dari nafasku. Dan, kunamai dia: badai.

Ya, semua indah. Tapi tunggu. Ini, ciptaan kecil yang paling kusayang. Aku ingin ia juga memahami. Aku ingin ia juga merasakan. Kunamai dia: manusia. Semua indah. Pada waktunya.

Manusia. Seringkali aku merindukannya. Dan, bila tidak lagi tertahan, aku akan membisikkan suara-suara. Gemuruh gulungan ombak. Tetes embun. Nyanyian tonggeret. Kicau burung-burung. Gema di dalam terowongan. Bising di dalam kemacetan. Aku adalah keheningan dalam ruang-ruang ibadah. Itu aku. Khidmat dalam resital. Itu aku. Aku adalah keramaian dalam festival. Itu juga suaraku. Aku membisikkan kebahagiaan saat bayi-bayi lahir. Aku berikan diam saat nyawa-nyawa beristirahat. Itu suaraku. Kunamai dia: musik.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Mimpi Semalam (9)

Gak perlu selalu kasih pilihan. Aku punya cukup kemampuan untuk memutuskan. Dan, apapun itu keputusan, yang penting: percaya. Itu yang kamu bilang.

Kamu datang lagi di mimpi semalam. Kenapa kamu lagi kamu lagi. Kamu dandan rapi banget, gak tau kayak mau ke mana aja. Padahal di sini-sini doang. Entah karena suatu sebab, kamu dikenal sebagai pemecah masalah. Ga tau kenapa, aku inget aku harus inget-inget itu.

Ada toko kecil di ujung jalan. Langit biru tua, Kala Jingga beristirahat di singgasana. Besok dia harus bugar lagi. Itu yang kudengar. Besok. Belakangan ini, aku mempertanyakan ulang tentang besok. Apa yang kutau tentang besok. Gak ada. Apakah besok pasti ada? Gak tau. Kita gak pernah tau. Lagi-lagi, ini hal-hal yang aku pikirin barusan. Belum sempet aku kasih tau ke kamu, kamu udah ngangguk duluan.

Kita sedang menuju ke danau. Duduk di dermaga. Berenang-renang sampai malam tiba. Aku seperti melayang di perairan dangkal ini, memandangi langit karena sebentar lagi bintang akan terbit. Life goes on within you and without you. Tiba-tiba aku keinget itu.

“Life goes on within you and without you” adalah quote yang gue pasang di ruang tamunya ROEMAHIPONK. Kamu pasti baca itu waktu dateng ke situ. Dan gue masih gak tau Si Kamu ini siapa. Bahkan, gue gak tau Si Aku ini siapa.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Cerita Di Balik Video Hujan Dan Matahari.

Kata Melek, “Jendela.”

Lalu, gue mencerna itu sebagai:

“Chintana, ke jendela. Liat satu titik di sana. Kamu yang tau titik itu di mana.”

“Ngomong ke satu titik itu aja, ketika harus menyampaikan lirik yang ditulis. Apa yang ditulis, bacain ke satu titik itu aja. Percayain ke titik itu semua yang ditanyakan. This little dot, sedang menceritakan sebuah perjalanan yang indah, yang akan kamu denger jawabannya.”

“Botin, tugasnya dengerin pas Chintana nyanyiin part dia. Kalau Chintana udah selesai nanya, itu waktunya Botin tunjukkin apa yang dia pahami dari jawaban yang sedang diberikan untuk Chintana.”

I really don’t know what that means, tapi itu yang gue cerna. OH! Ada satu lagi.

“Melek, baca ini berulang-ulang, terus. Pelan-pelan. Supaya bisa ngerasain makna di balik lagunya. Percaya, nanti akan ngerasain sesuatu yang mungkin bisa bikin air mata jatuh sendiri. Bahwa sebetulnya: kita semua gak pernah sendirian, selalu ada yang doain, percaya, Lek.”

This is what I call: Frequency Response.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Tentang Suatu Malam Di Imah Seniman

Lembang, 2 Mei 2021

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

1 Syawal 1439H

Tuhan adalah Maha Esa, hati selalu maha berbeda, lalu ada kita, yang senantiasa maha tak sempurna. Maka sebagaimana semestinya, kita akan saling memohon dan saling memberi maaf, hari ini, kini, juga nanti. Dan, seterusnya.

Aku menikmati bunyi takbir yang merambat di dinding kamarku malam ini. Semoga begitu juga dengan kamu. Selamat menikmati hari raya, wahai saudara, kekasih, teman. Meski mungkin seringkali tidak sempat tersampaikan di dalam hari-hari dan tahun-tahun yang sudah lalu, aku sayang padamu.

Barakallah.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Rumah Nomor 811

Pagi cerah.

Mungkin ada alasan melankolis-romantis kenapa Tuhan (atau siapapun itu di sana) menciptakan pagi dan malam untuk membatasi hari-hari.

Mungkin karena Dia tahu hidup tidak selalu mudah, hidup tidak selalu mulus, dan hidup tidak selalu bahagia. Maka, Dia menciptakan malam: untuk menutup yang perlu diselesaikan, untuk melupakan yang perlu dilupakan. Dan, pagi: untuk memulai lagi.

Mungkin memang sesederhana itulah yang sekiranya  diperlukan manusia, termasuk gue: kesempatan untuk memulai lagi. Kalau salah langkah, alangkah leganya bila gue punya kesempatan untuk diam sejenak, rehat, mengumpulkan keberanian untuk memulai lagi langkah-langkah yang baru. Pindah rumah, contohnya.

rumah 811

Baru beberapa waktu lalu, gue pindah rumah. Ini nekat sebetulnya. Gue gak punya duit yang segitu melimpahnya. Melebihi perhitungan gue, ternyata pindahan menuntut pengeluaran yang gak sedikit. Namun, dari beberapa hari yang baru aja gue habiskan di sini, gue justru merasa bahwa sekian banyak uang yang mesti gue hamburkan di sini, dibanding dengan apa yang telah dan mungkin gue dapat, gak lagi jadi masalah yang terlalu sulit. Memulai kembali. Memulai lagi. Bagi gue, ini berharga, sangat.

Banyak hal terjadi dua tahun belakangan. Banyak hal yang gue syukuri. Tapi, selama ini, hal-hal baik tersebut sering gue pandang sebelah mata. Terutama, karena banyak pula kesulitan dan kegelisahan yang turut menghantui di belakangnya. Sulit bagi gue berpikir jernih pada situasi-situasi terhantui semacam itu. Sulit melihat hal-hal rumit dengan lebih terang saat sudut pandang gue sedang dikaburkan oleh banyaknya masalah yang berputar-putar di sekeliling gue. Sulit bergerak di antara wajah-wajah dan suara-suara yang familiar tapi menjemukan. Cukup lama, dua tahun, akhirnya gue memutuskan pindah rumah. Dan, gue bersyukur, gue pernah setidaknya sekali bernyali untuk keputusan ini. Aneh ya, di tempat baru yang asing, yang semestinya mengandung banyak kecemasan (dan sudah pasti butuh banyak pengeluaran) ini, gue malah bersyukur.

rumah 811

Di sini, gue mensyukuri malam-malam yang sunyi dan tenang, yang seolah-olah mengingatkan bahwa ada waktunya untuk istirahat, terutama bagi pikiran gue yang selalu ribut. Di sini, gue juga memandang matahari dengan cara yang berbeda ketika semburat putih-kuningnya bergerak masuk melalui jendela. Cahaya pagi memperlihatkan kepada gue hijau pohon yang bergairah lagi, kembang-kembang cerah lagi, burung-burung dibangunkan untuk bernyanyi lagi dan bersibuk-ria lagi, kupu-kupu memulai lagi petualangannya hari itu, ke sana dan kemari. Di sini, segala kehidupan berganti jadi baru setiap hari. Ini bisa jadi sudut pandang yang gak bakal gue dapatkan di tempat lama, kalau saja gue berusaha bertahan di sana. Gue gak tahu. Tapi setidaknya, gue mensyukuri ini.

Ini kehidupan baru, tempat gue akan selalu berpulang untuk memulai kembali. Setidaknya, untuk sementara ini.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Catatan

Hari ini gue dikaruniai banyak banget waktu luang. Ini langka. Sebagai bukti kelangkaan, saat ini dengan begitu leluasa, gue bisa mampir dan menulis di sini, setelah sekian lama. Banyak hal terjadi dalam rentang waktu, yang kalau dirunut sejak terakhir gue menulis di sini, satu tahun, kira-kira. Sebetulnya, dalam setahun ini, gue lumayan sering merekam hal-hal personal dalam keseharian gue lewat tulisan tangan. Tapi, rasanya males aja merangkum ulang dan masukkin catatan-catatan itu kemari. Selain karena memang gue tidak sempat mengalokasikan waktu untuk itu, gue tidak merasa ada signifikansi yang cukup menjadi alasan menulis kembali catatan harian pribadi di sini. Anehnya, setelah gue baca-baca lagi kertas-kertas setumpuk itu, rasanya lega juga, terekam di situ bahwa seringkali, gue bisa waras. Rasanya juga syukur, ada kenangan tentang kekasih, ada kenangan tentang kawan, ada kenangan-kenangan yang bisa disimpan. Rasanya pun bangga, banyak hal sudah gue lewati: sukses ataupun tidak; mudah ataupun sulit; senang ataupun sedih.

Gue jadi berpikir, bahwa mungkin:

Ada baiknya manusia sering-sering merekam jejak jalan pikirannya sendiri.

Supaya ketika dilihatnya lagi, bisa disyukurinya bila perjalanan itu panjang dan menyenangkan. Dan, kalau perjalanan itu pernah melalui rimba-rimba dan samudera yang rumit dan gelap, setidaknya ia telah memahami lebih dalam, ia telah melihat lebih banyak, ia bisa menjalani lebih kuat, ia bisa melalui lebih tangkas, untuk segala yang akan datang pada masa depan. Mungkin ada baiknya manusia sering-sering merekam jejak pikirannya sendiri. Supaya ia bisa mengingat. Karena buat gue, manusia, yang lahirnya sendiri-sendiri itu, akan mati sendiri-sendiri pula. Dan, kalau kesendirian itu tiba pada satu masa, ketika kawan sudah tidak lagi ada, dan kekasih tidak lagi di sana, hanya satu yang mampu lestari dan setia: kenangan-kenangan, dalam catatan-catatan perjalanan.

 

catatan
kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.

Galih

20 Juli 2015. 21:58.

Kembang cantik Padma mekar di puncak Ciumbuleuit.

FullSizeRender

Akhirnya bisa liburan lagi walaupun cuma sebentar. Akhirnya bisa senggang dan lepas dari yang tegang-tegang macam deadline. Jauh dari ricuh kota besar, jauh dari rutinitas harian, jauh dari missed calls, jauh dari pesan singkat dan surat elektronik orang-orang. Sendiri dan jernih (mudah-mudahan).

Hari-hari sebelum ini, belakangan, gue merasa sangat penat dan sangat terburu-buru. Untuk segala sesuatu. Sebetulnya, gue meyakini bahwa ini bukan cuma soal deadline. Banyak pikiran dan banyak masalah pribadi yang sedang gue pikirkan. Tapi, gue gak akan mengeluhkan hal-hal itu di sini, karena gue tau, gue hanya satu dari sekian miliar manusia di muka bumi yang punya pergumulan. Nah, lucunya, kepusingan gue belakangan ini sebenarnya juga karena disponsori oleh banyaknya curhatan sahabat. Salah satunya adalah soal asmara yang mandek di tengah jalan. Klise ya. Tapi, ternyata seklise-klisenya ini, sahabat gue segitu berberat hati. Mungkin karena dia pikir, perempuan yang sedang banjir-banjirnya ditangisi adalah kekasih yang paling sejati. Ya, kan, gak ada yang tau.

Sahabat gue, sebut saja dia Galih. Dan, dia merasa sudah ketemu dengan Ratna-nya, jodoh paling tepat, yang paling dipujanya. Tetapi, karena satu masalah pelik menyangkut orang ketiga yang muncul hanya untuk cari keuntungan diri sendiri, dan bahkan bukan untuk keuntungan Galih, apalagi Ratna, si Galih jadi kelimpungan. Karena Ratna sudah keburu merasa dikhianati dan akhirnya pergi. Tanpa sempat jelasin apa-apa, sekarang tinggalah Galih seorang diri dan patah hati. Terus si Galih ini jadi curhat ke gue.

Sudah empat bulan Galih diputusin Ratna. Ya, itu tadi, kampretnya adalah tanpa Galih bisa menjelaskan apa-apa. Mana bisa jelasin. Selama empat bulan kemarin, Galih gak bisa sama sekali menghubungi Ratna. Telepon dan SMS diblok. Facebook dan Path diunfriend. Twitter diunfollow. Line dihapus. Email juga gak dibales. Kalaupun Pos Indonesia masih bisa cukup dipercaya dan Galih masih berniat kirim surat atau kartu pos, gue yakin Ratna juga pasti gak bakal bales. Namun, sekali setelah empat bulan, kemarin akhirnya Ratna bales pesan Galih. Beberapa menit. Beberapa pesan. Galih langsung berapi-api. Sampe dicapture obrolan mereka, berlayar-layar, dan dikirim ke gue. Lalu, oh, Galih. Meskipun gue tau bahwa Galih seneng banget karena pesannya terbalas, dari semua pesan yang gue baca, gue juga tau, bahwa Galih semakin patah hati.

Tidak seperti Galih yang merasa bahwa hal-hal apapun yang mereka miliki belum seharusnya selesai, Ratna merasa bahwa empat bulan lalu, segalanya tentang tiga tahun kebersamaan yang mereka punya, sudah berakhir. Dan Ratna kekeuh soal itu. Entah Galih menutupi kesedihannya dengan tetep ketawa-ketiwi di depan gue, atau memang gak ngeh aja bahwa Ratna saat ini sudah gak bisa diraih lagi, Galih tetep berharap banyak. Dan, tetap yakin bahwa keputusannya untuk memupuk dan menumbuhkan harapan adalah keputusan yang tepat.

Kalau aja dengan ceplokin telor ke jidatnya Galih bisa munculin hologram bertuliskan “MOVE ON, GALIH!”, gue udah borong semua telor di Indomaret deket sini (sayangnya, mas-mas Indomaretnya gak terima kartu debit ataupun kredit karena mesinnya lagi rusak dan gue gak bawa cash banyak cuma buat beli telor segitu banyak). Tapi, ya Tuhan, Galih. Move on boleh kali.

Gue memang bukan yang paling jago urusan me-move-on-kan diri sendiri. Banyak hal juga yang sebetulnya tidak baik buat gue, tapi sulit gue lepaskan. Gue sulit berhenti merokok yang dulu pernah merebut kehidupan kakek gue. Gue sulit lepas dari kekuatiran berlebihan yang menghalangi gue keluar rumah tanpa eyeliner dan eyeshadow di atas mata gue yang monolid ini, walaupun untuk pake barang kampret itu gue harus menghabiskan minimal dua puluh menit setiap hari. Gue sulit menghilangkan kebiasaan cemas dan panik ketika ada gangguan terhadap jadwal gue walaupun gangguannya paling cuma beberapa menit, paling lama beberapa jam. Gue sulit menentukan barang mana yang mau dibuang ketika tiba harinya bersihin kamar dengan alasan klise “mungkin nanti bakal dipake lagi”, padahal barang-barang sampah yang macem demikian semakin numpuk bertahun-tahun. Itu. Hal-hal itu mengikat gue sampai sekarang. Tapi, semakin bertambah usia, gue semakin belajar, bahwa banyak faedahnya ketika gue memutuskan untuk “cut off” hal-hal yang gak lagi berguna buat kehidupan gue; hal-hal yang memberatkan; hal-hal yang menyeret-nyeret hati dan pikiran gue sehingga gue sulit bergerak bebas; hal-hal yang membuat gue merasa tidak merdeka. Dan, gue rasa, Galih perlu tau soal ini.

Ratna udah pergi, Galih. Dan, elo gak tau sampai kapan. Dan, elo gak tau akan balik lagi atau enggak. Dan, elo gak tau hati lo akan luka sedalam apa dan berdarah-darah seberapa, kalau lo tetap berharap banyak di situ. Angkat pantat, beranjak, gerak, Galih. Kehidupan masih menawarkan banyak hal baik buat elo. Banyak hal baik yang bisa dilakukan selain menangisi dengan diam-diam Ratna yang entah bakal hadir lagi di hidup lo atau enggak satu waktu nanti dan tidak sekarang. Gue sadar bahwa move on gak gampang, karena meskipun kedengarannya aneh, rasa sakit itu nagih, dan mungkin (gue dan) elo adalah sedikit di antara sekian manusia yang suka tenggelam di dalam rasa sakit dan hobi banget melukai jiwa sendiri. But that’s no good, Galih. You deserve to be happy. Ya gak sih?

Buat gue, setidaknya sekarang, setelah mengalami beberapa hal dalam hidup (tsah!), move on itu penting. Terutama untuk hal-hal yang membuat hidup gue tidak ke mana-mana. Patut diakui, kadang cuma karena merasa sudah terlanjur tenggelam di dalam rasa sakit dan terlalu nyaman gegoleran di dalam kubangan bernama patah hati, gue merasa bangkit kembali jadi terlalu susah. Sampai gue merasa bahwa “kenyamanan” yang gue rasakan sekarang tidak akan jadi “kenyamanan” yang gue harapkan untuk ada di dalam masa depan gue, di dalam hidup gue pada waktu-waktu mendatang. Entahlah. Gue rasa, Galih betul-betul perlu tau soal ini.


Galih adalah sahabat yang sangat baik dan penyayang buat gue. Meskipun tampangnya kayak Chuck Norris blasteran Hongkong, hatinya adalah Hello Kitty asli Indonesia dengan keramahan khas Priangan. Oleh karena itu, gue hanya berharap tahap kehidupan dia yang ini, yang pahit dan kampret ini, adalah cuma sekadar waktu buat Galih merasakan yang sama seperti gue. Bahwa, akhirnya Galih bisa liburan lagi walaupun mungkin cuma sebentar (atau lama, entah). Liburan dari segala capek-capeknya dan tai-tainya jatuh cinta. Bahwa, akhirnya Galih bisa senggang dan lepas dari yang tegang-tegang lagi, setelah sebelum putus kemarin, Galih dihantui dan bahkan dikejar-kejar oleh perasaan takut kehilangan (walaupun akhirnya jadi kehilangan beneran).

Gue hanya berharap, secantik kembang padma yang sedang banyak mekar di puncak Ciumbuleuit malem ini, hidup Galih juga semakin mekar dan bertumbuhkan ribuan mahkota. Lahir dari air kehidupan yang berlumpur-lumpur masalah, kemudian berjuang melipat-lipat dirinya, berubah bentuk menjadi bunga cantik yang makin kuat. Makin kuat. Makin kuat. Dan, makin kuat. Supaya kemudian, kebijaksanaan lahir dari pusatnya.

“Didiemin Malah Ngelunjak”

Baru aja gue ngelewatin keset. Terbuat dari koran bekas. Ada tulisannya begini: didiemin makin ngelunjak. Tau lah koran apa kira-kira.


Gue merasa salah satu kalimat yang paling gak masuk di akal di dunia ini adalah: didiemin makin ngelunjak. Kalau ngebayangin kondisinya, kira-kira demikian. Si A merasa si B bertingkah aneh-aneh. Si A gak suka tingkah si B tersebut, tapi diem aja. Terus si B tetep bertingkah serupa. Terus si A jadi kesel. Sementara itu, si B anteng-anteng aja gak tau apa-apa dan merasa gak ada yang salah. Lalu, lahirlah statement dari mulut si A: didiemin makin ngelunjak. Kan bodoh.

Wahai, A.

Pertama. Ya, kalau elo gak mau si B ngelunjak, ya jangan diem aja. Bilangin kek. Cubit keteknya kek. Cabut bulu kakinya kek. Biar ngeh.

Kedua. Ya, kalau elo udah memilih untuk diem aja, si B ngelunjak adalah sebuah risiko. Jadi, sebetulnya kalimat itu adalah sebuah kesia-siaan karena elo udah seharusnya tau si B bakal ngelunjak.

Ketiga, kenapa kok kalian namanya cuma satu huruf satu huruf. Irit banget.

Pagi Pada Lubuk Fatmawati

5:55 / Sapu lidi mendesis di antara batu-batu dan aspal yang sendu. Cemara yang tirus itu seperti menangis pelan-pelan, apalah sebabnya. Dedaun rela mengayun. Karat di bilah-bilah teralis jendela berkarib dengan dua burung biru. Ini pagi yang lembap. Ini pagi pada lubuk Fatmawati.

Mengapa aku masih hidup. Itu pertanyaan rutin yang biasa aku sampaikan selepas bangun pagi. Kepada siapa, entah. Mungkin kepada lusinan pigura yang memagari kenangan kita. Mungkin kepada sepasang lampu hias kesukaanmu di samping dipan. Mungkin kepada perkakas masak yang sudah tidak lagi terpakai. Atau mungkin kepada dua burung gereja yang beriap-riap di atap. Tanpa jawaban.

Bau pucuk melati dan uap teh hangat selalu membentuk kepul-kepul yang beraroma tubuhmu. Setelah teh manis ini, apabila sudah tidak gerimis, aku akan menyapu halaman. Pagi ini sepi, langit seperti mati. Mendung menggelantung. Abu-abu.

Anak-anak kecil lahir ke dunia dan semakin banyak. Karyawan bank yang tinggal di ujung jalan sana, anak keduanya sudah lahir. Kemarin, mereka baru saja merayakan sebulanannya. Istrinya mengantar nasi kuning dengan rendang dan seloyang kue cokelat. Semoga si anak pertama, bocah yang adatnya buruk itu, semoga saja tidak mendengki pada adiknya.

Sementara, yang mati pun juga bertambah. Salah satu tetangga kita mati dan anak-anak mereka akan menjual rumahnya. Kalau tidak salah, kepada pasangan muda yang akan membongkar total rumah tua itu. Berarti, jika tidak salah ingat, tersisa rumah kita saja yang setia kepada jaman. Aku bangga pada kayu yang mengisi kusen pintu, ambang jendela, dan seisi rumah kayu kita –– bilah-bilah hidup yang selalu menyimpan ingatan-ingatan dari yang hidup –– ketimbang pelat-pelat celup yang dingin. Bagiku tidak terasa seperti rumah. Semoga anak-anak kita tidak sembrono.

Bunga-bunga mulai ada lagi. Seperti kertas warna-warni. Aku lelah dan merasa malas menyiram bunga. Untunglah musim hujan sudah tiba kembali.

Beras tinggal sedikit. Mungkin, hari ini aku harus ke pasar. Mungkin, aku juga akan membeli buah dan sayur. Aku susah buang air belakangan ini. Aku akan berjalan kaki ke sana, karena terakhir kali membayar ojek, uang kembalianku dibawa kabur tiga puluh ribu. Betapa hidup di Jakarta sungguh mahal.

Aku rindu semur sapi yang harum dengan daging sengkel yang empuk. Hanya kamu yang bisa memasak dengan sempurna. Kolesterolku memang tidak bertambah baik, namun aku rindu sekali masakanmu. Dan, karena kamu, aku bisa bedakan sapi yang diolah betul dan yang tidak. Dan, aku paham benar, selera bukan hanya tergugah karena bumbu-bumbu dan gajih. Tidak, bukan hanya itu. Kamu pun paham.

Enam tiga puluh. Aku harus bergegas mandi dan ke pasar.


Kemarin, tersiar kabar bahwa Kakek Fatmawati – begitu waga setempat menyebutnya – meninggal karena jatuh di kamar mandi. Jenazahnya ditemukan kurang lebih sehari setelah perkiraan waktu kematian. Kepergian Kakek Fatmawati menyusul mendiang istrinya, Nenek Fatmawati, yang telah mendahuluinya beberapa tahun silam.

kepingin tau lebih banyak tentang Oendari?

Silakan subscribe blog ini, dengarkan musiknya, atau follow Oendari melalui media sosial.

Atau sampaikan yang ingin kamu katakan kepada Oendari. Tulis suratmu!

← Back

Your message has been sent.